Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Dari Gurun Sunyi Jadi Kota Supercanggih, Begini Transformasi Armuzna Sambut Jutaan Jemaah Haji

Ali Sodiqin • Kamis, 21 Mei 2026 | 07:30 WIB
Armuzna di Arab Saudi berubah menjadi kota supercanggih saat musim haji. Ribuan fasilitas modern disiapkan demi kenyamanan jemaah. (HIMPUH)
Armuzna di Arab Saudi berubah menjadi kota supercanggih saat musim haji. Ribuan fasilitas modern disiapkan demi kenyamanan jemaah. (HIMPUH)

RADARBANYUWANGI.ID - Di sebagian besar waktu dalam setahun, kawasan Armuzna—Arafah, Muzdalifah, dan Mina—terlihat seperti hamparan gurun biasa. Jalan-jalan lengang, tenda-tenda kosong, dan nyaris tak ada aktivitas manusia.

Sulit membayangkan kawasan sunyi itu akan berubah menjadi pusat pergerakan jutaan orang dari seluruh penjuru dunia hanya dalam hitungan hari.

Namun setiap musim haji tiba, “kota tidur” itu mendadak hidup.

Ribuan petugas mulai bergerak. Sistem pendingin dinyalakan. Jalur pedestrian dibuka. Rumah sakit bersiaga penuh. Jaringan listrik, air, hingga sanitasi bekerja tanpa henti selama 24 jam.

Armuzna pun menjelma menjadi salah satu kota musiman paling kompleks dan paling canggih di dunia—dibangun bukan untuk bisnis atau hiburan, melainkan untuk melayani para tamu Allah.

Transformasi besar-besaran itu menjadi bagian dari modernisasi layanan haji Arab Saudi yang kini semakin futuristik.

Di balik perubahan tersebut, terdapat kerja besar yang dilakukan Kidana Development Company bersama Royal Commission for Makkah City and Holy Sites serta berbagai lembaga pelayanan haji Saudi.

Fokus mereka bukan hanya memperbesar kapasitas kawasan masyair, tetapi juga meningkatkan kenyamanan, keselamatan, dan kualitas pengalaman spiritual jutaan jemaah.

Arafah Kini Lebih Teduh dan Dingin

Perubahan paling mencolok tahun ini terlihat di kawasan Arafah, khususnya sekitar Jabal Rahmah.

Area yang selama ini identik dengan suhu ekstrem kini dipenuhi peneduh modern dan sistem pendingin canggih di area seluas lebih dari 392 ribu meter persegi.

Dengan proyek tersebut, kapasitas jemaah yang dapat menikmati area teduh meningkat hingga lima kali lipat dibanding musim haji tahun sebelumnya.

Di tengah suhu gurun yang bisa mencapai lebih dari 40 derajat Celsius, keberadaan peneduh dan pendingin menjadi fasilitas vital bagi jemaah yang menjalani puncak ibadah wukuf.

Tak hanya itu, perjalanan kaki antar-masyair kini juga dibuat jauh lebih manusiawi.

Lebih dari 103 ribu meter persegi jalur pedestrian dipasangi peneduh untuk mengurangi paparan panas langsung. Selain itu, area istirahat seluas 66 ribu meter persegi dibangun di sejumlah titik strategis agar jemaah bisa berhenti memulihkan tenaga sebelum melanjutkan perjalanan.

Mina Berubah Semakin Futuristik

Transformasi paling futuristik tampak di Mina.

Kawasan yang selama puluhan tahun dikenal sebagai “lautan tenda putih” perlahan mulai berubah wajah menjadi area hunian modern berbasis teknologi.

Arab Saudi kini memasang 74 eskalator di area perbukitan Mina untuk membantu mobilitas jemaah menuju penginapan dan jalur utama.

Langkah itu dilakukan untuk mengurangi kepadatan sekaligus mempermudah akses bagi jemaah lansia maupun mereka yang memiliki keterbatasan fisik.

Tak berhenti di situ, proyek akomodasi modern seperti Kidana Al-Khayf dan Rabiah Kidana mulai dikembangkan di kawasan Mina.

Bangunan permanen dan hunian modern perlahan menggantikan konsep lama yang hanya mengandalkan tenda-tenda musiman.

Seluruh proyek tersebut dirancang untuk menjawab tantangan terbesar penyelenggaraan ibadah haji modern: mengelola jutaan manusia dalam ruang dan waktu yang sangat terbatas.

Area Jamarat Kini Lebih Dingin dan Aman

Modernisasi juga menyentuh kawasan Jamarat yang menjadi titik padat saat prosesi lempar jumrah berlangsung.

Jika sebelumnya pendinginan hanya mengandalkan kabut air biasa, kini Saudi menggantinya dengan 400 kipas misting modern berkapasitas besar.

Teknologi baru itu mampu melayani sekitar 360 ribu jemaah per jam atau lebih dari dua kali lipat dibanding sistem sebelumnya.

Di sektor kesehatan, Rumah Sakit Darurat Mina juga diperluas secara signifikan.

Kapasitas rumah sakit ditingkatkan dua kali lipat guna memastikan layanan medis tetap optimal saat jutaan jemaah memadati kawasan masyair.

Toilet Bertambah, Antrean Dipangkas 75 Persen

Di balik teknologi besar dan proyek miliaran riyal, perubahan paling dirasakan jemaah justru datang dari hal-hal sederhana.

Arab Saudi membangun ribuan toilet tambahan di Mina, Muzdalifah, dan Arafah demi mengurangi antrean panjang yang selama ini menjadi persoalan klasik saat puncak haji.

Kini total fasilitas sanitasi di kawasan masyair mencapai lebih dari 115 ribu unit.

Pemerintah Saudi mengklaim waktu antrean toilet berhasil dipangkas hingga 75 persen dibanding musim-musim haji sebelumnya.

Dalam kondisi panas gurun dan lautan manusia, akses terhadap toilet, tempat berteduh, pendingin udara, hingga jalur pejalan kaki yang nyaman menjadi faktor penting yang sangat menentukan kenyamanan ibadah jemaah.

Kota yang Hidup Hanya Saat Musim Haji

Ketika musim haji usai, Armuzna perlahan kembali sunyi.

Jalan-jalan kembali kosong. Kawasan yang sebelumnya dipenuhi jutaan manusia berubah lagi menjadi bentangan gurun yang tenang.

Namun setiap tahun, tempat itu akan kembali “dibangunkan”.

Dalam waktu singkat, Armuzna kembali hidup menjadi kota raksasa berteknologi tinggi yang hanya beroperasi beberapa hari dalam setahun—sebuah mahakarya logistik dan pelayanan modern yang dirancang khusus untuk menyambut jutaan tamu Allah dari seluruh dunia. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#Arafah Mina Muzdalifah #fasilitas haji Saudi #Kidana Development Company #Armuzna #Haji 2026