Kasus Gangguan Kognitif pada Jemaah Haji Lansia Meningkat, Kloter Diminta Perketat Pengawasan dan Batasi Aktivitas Fisik
RADARBANYUWANGI.ID – Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi mengeluarkan surat edaran khusus menyusul meningkatnya kasus gangguan demensia pada jemaah haji lanjut usia (lansia) selama pelaksanaan ibadah haji 2026. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena banyak jemaah mulai mengalami disorientasi, linglung, hingga perubahan perilaku akibat cuaca panas ekstrem dan kelelahan fisik.
Edaran bernomor DK-205/MK/05/2026 tertanggal 19 Mei 2026 itu ditujukan kepada seluruh kepala sektor dan ketua kloter di Daerah Kerja Makkah. PPIH meminta seluruh petugas memperketat pemantauan terhadap jemaah lansia, khususnya kategori risiko tinggi.
Ketua Kloter 85, Taufik Siradj mengatakan, kebijakan tersebut diterbitkan setelah Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) menerima semakin banyak rujukan dan konsultasi terkait gangguan kognitif pada jemaah lansia selama musim haji berlangsung.
“Fenomena ini meningkat seiring tingginya aktivitas fisik jemaah di tengah suhu panas ekstrem Arab Saudi,” ujar dosen Universitas Islam Negeri Surabaya itu.
Dalam surat yang ditandatangani Kepala Daker Makkah Ihsan Faisal disebutkan, demensia pada jemaah haji umumnya ditandai dengan disorientasi tempat dan waktu, perubahan perilaku, penurunan daya ingat, hingga kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari.
Kondisi tersebut paling banyak dialami jemaah lanjut usia yang memiliki penyakit penyerta seperti hipertensi dan diabetes mellitus. Selain itu, dehidrasi dan kekurangan nutrisi juga disebut menjadi faktor pemicu utama.
Taufik menjelaskan, suhu udara yang tinggi di Arab Saudi memperberat kondisi fisik jemaah lansia. Aktivitas ibadah yang padat, berjalan kaki jarak jauh, hingga keinginan mengikuti seluruh agenda ziarah tambahan membuat banyak jemaah mengalami kelelahan berat.
“Cuaca panas ekstrem menjadi faktor dominan. Banyak jemaah lansia memaksakan diri tetap mengikuti seluruh kegiatan meski kondisi tubuh sudah tidak kuat,” katanya.
Tim Kesehatan Haji Kloter (TKHK) Kloter 85, dr Dafista Diyantika menambahkan, gejala awal gangguan demensia akut kerap tidak disadari keluarga maupun rombongan. Beberapa tanda yang paling sering muncul yakni jemaah mulai lupa arah jalan, kebingungan mencari hotel, sulit mengenali rombongan, hingga perubahan emosi secara mendadak.
“Banyak lansia memaksakan ikut seluruh aktivitas ibadah dan ziarah tambahan. Padahal kondisi fisiknya tidak memungkinkan,” ujarnya.
Menurutnya, kombinasi suhu panas, kurang cairan, kelelahan, dan penyakit kronis membuat kondisi mental jemaah cepat menurun. Jika tidak segera ditangani, kondisi tersebut bisa berkembang menjadi gangguan kognitif serius yang membahayakan keselamatan jemaah.
Karena itu, PPIH meminta Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) membatasi aktivitas fisik jemaah lansia, terutama kategori risiko tinggi. Ketua regu dan ketua rombongan juga diwajibkan melakukan pemantauan rutin terhadap kondisi kesehatan jemaah.
Petugas diminta memastikan kecukupan cairan, pola makan, serta waktu istirahat jemaah tetap terjaga. Jika ditemukan gejala demensia akut, Tenaga Kesehatan Haji Kloter (TKHK) diminta segera berkonsultasi dengan dokter spesialis kesehatan jiwa di KKHI maupun sektor terkait.
Menindaklanjuti edaran tersebut, Kloter 85 langsung memperketat pengawasan terhadap jemaah lansia. Pendataan dilakukan terhadap jemaah risiko tinggi, terutama yang memiliki riwayat hipertensi, diabetes, maupun gangguan daya ingat.
Aktivitas di luar ibadah wajib mulai dibatasi guna mengurangi kelelahan fisik. Jemaah lansia juga diimbau tidak bepergian sendirian, terutama saat cuaca panas ekstrem pada siang hari.
Ketua regu diminta aktif memantau pola makan dan konsumsi cairan setiap jemaah. Jika muncul tanda-tanda seperti linglung, kehilangan orientasi, atau perubahan perilaku, petugas kesehatan segera melakukan pemeriksaan lanjutan.
Selain itu, Kloter 85 membentuk pola koordinasi cepat antara petugas ibadah, tenaga kesehatan, dan pendamping jemaah guna mempercepat penanganan kondisi darurat.
“Musim haji tahun ini menjadi tantangan tersendiri karena tingginya jumlah jemaah lansia,” kata Taufik.
Sementara itu, Ketua Rombongan 6 Kloter 85 dari KBIHU Sabilillah Banyuwangi, Akhmad Murojikin mengatakan, seluruh jemaah kini fokus menjaga kesiapan fisik dan mental menjelang puncak ibadah haji Armuzna.
Menurut dia, seluruh jemaah telah diimbau menjaga kesehatan dengan memperhatikan asupan gizi, pola makan, konsumsi cairan, serta waktu istirahat yang cukup.
“InsyaAllah semua jamaah masih dalam keadaan sehat,” ujarnya. (aif)
Editor : Ali Sodiqin