RADARBANYUWANGI.ID – Musim haji 2026 kembali mengarahkan perhatian jutaan umat Muslim dunia ke salah satu titik paling sakral di Masjidil Haram, yakni Hajar Aswad. Batu hitam yang berada di sudut Ka'bah itu tak hanya menjadi magnet spiritual bagi para jemaah, tetapi juga memantik rasa penasaran kalangan ilmuwan yang selama puluhan tahun berusaha mengungkap asal-usulnya melalui kajian sains.
Di tengah lautan jemaah yang memadati Masjidil Haram, Hajar Aswad tetap menjadi simbol spiritual yang memiliki tempat istimewa dalam sejarah Islam. Namun di balik nilai religiusnya, muncul pertanyaan yang terus menarik perhatian dunia akademik: dari mana sebenarnya batu itu berasal?
Sejumlah penelitian ilmiah mencoba menelusuri kemungkinan asal-usul Hajar Aswad. Salah satu teori yang paling banyak diperbincangkan menyebut batu tersebut memiliki kemiripan dengan meteorit atau benda langit yang berasal dari luar angkasa.
Teori tersebut muncul bukan tanpa alasan. Selain bersumber dari riwayat sejarah Islam yang menyebut Hajar Aswad berasal dari surga, sejumlah peneliti menilai karakteristik fisik batu itu memiliki kesamaan dengan pecahan material meteorit.
Teori Meteorit dan Temuan Kawah Misterius di Jazirah Arab
Salah satu penelitian yang kerap dikutip berasal dari kajian ilmuwan E. Thomsen melalui studi New Light on the Origin of the Holy Black Stone of the Ka'ba pada 1980.
Dalam kajiannya, Thomsen merujuk penelitian sebelumnya oleh penjelajah sekaligus peneliti Harry St John Philby yang menemukan kawah tumbukan meteor di wilayah Al-Hadidah pada 1932.
Kawah yang kemudian dikenal sebagai Wabar itu dilaporkan memiliki diameter lebih dari 100 meter. Di sekitar lokasi, ditemukan sejumlah pecahan material hasil benturan meteor.
Yang menarik perhatian ilmuwan, pecahan tersebut terbentuk dari lelehan pasir dan silika yang bercampur dengan nikel.
Menurut Thomsen, campuran material tersebut menghasilkan struktur unik: lapisan bagian dalam cenderung berwarna putih, sedangkan bagian luar tertutup cangkang hitam.
Karakter itu dinilai memiliki kemiripan dengan deskripsi Hajar Aswad.
Warna hitam pada batu diduga terbentuk akibat kandungan nikel dan besi yang mengalami proses ledakan di luar angkasa.
Sementara lapisan putih di bagian inti disebut berpotensi menjelaskan riwayat lama yang menyebut Hajar Aswad awalnya berwarna putih sebelum akhirnya menghitam.
Riwayat Islam dan Kajian Ilmiah Bertemu di Satu Titik
Dalam sejumlah riwayat Islam, Hajar Aswad disebut awalnya memiliki warna putih bersih.
Namun seiring perjalanan waktu, batu itu diyakini berubah menjadi hitam karena menyerap dosa manusia.
Riwayat tersebut selama ini dipahami sebagai bagian dari keyakinan spiritual umat Islam.
Menariknya, kajian ilmiah mencoba melihat fenomena tersebut dari sudut pandang material.
Thomsen menilai kemungkinan perubahan warna dapat dipengaruhi reaksi unsur kimia yang menutupi bagian inti batu.
"Batu meteor itu kemungkinan batu yang sama dengan Hajar Aswad," tulis Thomsen dalam kajiannya.
Penelitian lain bahkan menyebut usia batu itu diperkirakan sejalan dengan periode yang dikenal masyarakat Arab kuno.
Ada dugaan material tersebut masuk ke Makkah melalui jalur perdagangan kuno dari wilayah Oman sebelum akhirnya ditempatkan di Ka'bah.
Masih Menyisakan Banyak Tanda Tanya
Meski teori meteorit cukup populer, sejumlah ilmuwan menilai kesimpulan tersebut belum bisa dianggap final.
Ada beberapa kelemahan yang dinilai cukup mendasar.
Sebagian ahli mengingatkan bahwa meteorit pada umumnya tidak mengapung, jarang terpecah menjadi fragmen kecil seperti yang digambarkan pada Hajar Aswad, serta memiliki karakter ketahanan berbeda terhadap erosi lingkungan.
Belum lagi hingga kini belum pernah dilakukan penelitian ilmiah langsung secara menyeluruh terhadap Hajar Aswad.
Keterbatasan akses menjadi salah satu faktor yang membuat kajian ilmiah terhadap batu suci itu sangat terbatas.
Akibatnya, sebagian besar penelitian masih bertumpu pada deskripsi sejarah, dokumentasi lama, dan pendekatan komparatif terhadap material serupa.
Menjadi Titik Pertemuan Iman dan Rasa Ingin Tahu
Di tengah berbagai teori yang berkembang, Hajar Aswad tetap menempati posisi yang istimewa bagi umat Islam.
Bagi jutaan jemaah haji dan umrah, batu tersebut bukan sekadar objek penelitian ilmiah.
Hajar Aswad adalah bagian dari sejarah panjang peradaban Islam yang sarat makna spiritual.
Kajian sains mungkin mencoba menelusuri asal-usulnya, namun bagi banyak orang, keberadaan Hajar Aswad lebih dari sekadar persoalan material atau objek langit.
Musim haji 2026 kembali mengingatkan bahwa di balik keramaian jutaan jemaah di Tanah Suci, Hajar Aswad tetap menyimpan misteri yang mempertemukan keyakinan, sejarah, dan rasa ingin tahu manusia. (*)
Editor : Ali Sodiqin