RADARBANYUWANGI.ID – Gelombang panas ekstrem mulai menjadi tantangan serius bagi jemaah haji Indonesia di Tanah Suci. Suhu udara di Kota Makkah pada siang hari dilaporkan mencapai 46 derajat Celsius. Kondisi itu membuat sebagian jemaah haji asal Banyuwangi memilih mengurangi aktivitas luar ruangan dan memperbanyak kegiatan di dalam hotel demi menjaga kondisi fisik menjelang puncak ibadah haji.
Cuaca yang sangat terik dinilai berisiko menguras stamina jemaah, terutama kalangan lanjut usia dan mereka yang baru menjalani aktivitas ibadah cukup berat dalam beberapa hari terakhir.
Memasuki agenda kegiatan mandiri pada Senin (18/5), suasana hotel jemaah Banyuwangi tampak lebih ramai dibanding biasanya. Sejumlah jemaah memanfaatkan waktu istirahat untuk melakukan aktivitas ringan seperti mencuci pakaian, beribadah di kamar, hingga menjalani pemeriksaan kesehatan rutin oleh tim medis kloter.
Jadwal kegiatan mandiri tersebut diberikan sebagai bagian dari upaya pemulihan kondisi fisik jemaah. Sebab, sehari sebelumnya atau Sabtu (17/5), sebagian jemaah baru menyelesaikan pelaksanaan umrah sunnah yang membutuhkan tenaga cukup besar.
Ketua Kloter 82, Rijal Fahmi menjelaskan, agenda Senin difokuskan untuk memberi kesempatan jemaah memulihkan stamina sebelum memasuki tahapan ibadah yang lebih berat.
Menurutnya, menjaga kondisi tubuh saat ini menjadi prioritas utama mengingat rangkaian puncak ibadah haji masih menanti dalam waktu dekat.
“Jemaah dijadwalkan menjalani kegiatan mandiri guna memulihkan kondisi fisik setelah pelaksanaan umrah sunnah,” ujarnya.
Rijal juga mengimbau seluruh jemaah agar mengurangi aktivitas di luar hotel selama cuaca ekstrem masih berlangsung.
Paparan suhu tinggi dalam waktu lama dinilai dapat meningkatkan risiko dehidrasi, kelelahan, hingga gangguan kesehatan lainnya apabila tidak diantisipasi dengan baik.
Karena itu, jemaah disarankan memperbanyak aktivitas ibadah di dalam hotel serta menjaga pola istirahat dan asupan cairan.
Langkah tersebut dianggap penting agar kondisi fisik tetap prima saat menghadapi puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), fase ibadah yang membutuhkan energi lebih besar karena tingginya mobilitas jemaah.
Meski cuaca panas cukup menyengat, tidak semua jemaah memilih bertahan di hotel. Sejumlah jemaah yang merasa kondisi tubuhnya sehat dan bugar masih terlihat berangkat menuju Masjidil Haram untuk melaksanakan ibadah.
Namun jumlahnya relatif terbatas dan tetap diimbau memperhatikan kondisi kesehatan masing-masing.
“Salah satu kegiatan hari ini seperti tim medis Kloter 82 melakukan visitasi ke jemaah untuk mengecek kesehatan. Sedangkan beberapa jemaah lainnya terpantau sedang mencuci pakaian sembari beristirahat di hotel,” pungkasnya.
Di tengah suhu Makkah yang terus meningkat, tim kesehatan kloter juga mulai memperketat pemantauan terhadap kondisi jemaah. Pemeriksaan dilakukan secara berkala guna mendeteksi lebih awal apabila ada jemaah yang mengalami penurunan kondisi fisik.
Cuaca ekstrem memang menjadi tantangan rutin dalam musim haji. Karena itu, petugas terus mengingatkan jemaah agar tidak memaksakan aktivitas berlebihan, terutama pada jam-jam dengan intensitas panas tertinggi.
Bagi para tamu Allah, menjaga stamina kini menjadi bagian penting dari ibadah. Sebab, kondisi fisik yang terjaga akan menentukan kelancaran menjalani rangkaian puncak haji yang segera berlangsung dalam beberapa hari mendatang. (ray/aif)
Editor : Ali Sodiqin