Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Jemaah Haji Banyuwangi Kloter 85 Terima Gelang Identitas Tambahan di Makkah, Penting Saat Puncak Haji Armuzna

Syaifuddin Mahmud • Selasa, 19 Mei 2026 | 11:30 WIB
MULTI FUNGSI: Ketua rombongan dan ketua regu KBIHU Sabilillah kloter 85 saat memilah kartu identitas yang wajib dipakai selama Armuzna. (Murojikin for Radar Banyuwangi)
MULTI FUNGSI: Ketua rombongan dan ketua regu KBIHU Sabilillah kloter 85 saat memilah kartu identitas yang wajib dipakai selama Armuzna. (Murojikin for Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Menjelang puncak ibadah haji 1447 Hijriah, penguatan sistem perlindungan jemaah mulai diperketat. Jemaah haji Kloter 85 gabungan Bondowoso–Banyuwangi kini menerima gelang identitas tambahan yang berisi data lengkap pribadi. Benda kecil yang melekat di tangan itu diproyeksikan menjadi alat penting saat jutaan jemaah memadati Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), fase paling krusial dalam pelaksanaan haji.

Gelang identitas tambahan tersebut dibagikan kepada jemaah pada Minggu (17/5) di maktab Makkah. Di balik bentuknya yang sederhana, gelang itu memuat data vital jemaah, mulai nama lengkap, nomor kloter, hingga nomor paspor.

Keberadaan gelang baru ini melengkapi sejumlah identitas yang sebelumnya telah diterima jemaah saat berada di Asrama Haji Sukolilo Surabaya. Sebelum berangkat ke Tanah Suci, jemaah telah dibekali gelang monel resmi haji, kartu nusuk, dan tiga kartu identitas (ID card) yang digunakan selama menjalankan seluruh rangkaian ibadah.

Ketua Rombongan 6 KBIHU Sabilillah Banyuwangi, Akhmad Murojikin menjelaskan, gelang identitas tambahan memiliki fungsi yang sangat strategis terutama saat fase Armuzna berlangsung.

Pada fase tersebut, jutaan jemaah dari berbagai negara berkumpul dalam satu waktu dengan mobilitas yang sangat tinggi. Situasi itu membuat potensi jemaah terpisah dari rombongan menjadi lebih besar.

“Gelang ini sangat membantu proses identifikasi jemaah. Saat Armuzna, kondisi sangat padat dan mobilitas jamaah sangat tinggi. Dengan adanya identitas lengkap yang melekat di tangan jamaah, petugas lebih mudah mengenali asal kloter, data paspor, dan kelompok jamaah apabila ada yang tersasar atau membutuhkan bantuan,” ujarnya.

Menurut Murojikin, fungsi gelang tidak sekadar pelengkap administrasi. Lebih dari itu, identitas tambahan tersebut menjadi bagian penting dari sistem perlindungan dan keselamatan jemaah selama berada di Tanah Suci.

Saat terjadi kondisi darurat, misalnya jemaah mengalami kelelahan, tersesat, sakit, atau terpisah dari kelompok, petugas kesehatan maupun petugas sektor dapat segera melakukan penanganan karena identitas dasar jemaah dapat langsung diketahui.

Kecepatan identifikasi dinilai sangat penting mengingat situasi puncak haji sering kali berlangsung sangat padat dengan pergerakan manusia dalam jumlah besar.

Selain membantu proses pencarian jemaah, identitas yang melekat pada tubuh juga mempermudah koordinasi antarpetugas haji Indonesia di lapangan.

Data tersebut dapat digunakan untuk mendukung pengaturan transportasi, distribusi konsumsi, hingga penempatan tenda di Arafah dan Mina berdasarkan kloter serta syarikah masing-masing.

Hal senada disampaikan Ketua Rombongan 7 KBIHU Sabilillah Banyuwangi, Akhmad Kholid Askandar. Dia mengingatkan seluruh jemaah agar menjaga seluruh identitas yang telah diberikan dan tidak melepasnya selama berada di Arab Saudi.

Menurutnya, seluruh identitas yang diberikan memiliki fungsi berbeda tetapi saling melengkapi.

“Semua identitas ini sangat penting. Jangan sampai hilang atau tertukar. Kartu nusuk misalnya, itu menjadi akses utama jamaah untuk masuk area tertentu dan mendapatkan layanan resmi pemerintah Saudi. Begitu juga ID card dan gelang identitas yang memudahkan petugas membantu jemaah,” katanya.

Ia menambahkan, kedisiplinan menjaga identitas merupakan bagian dari ikhtiar menjaga keselamatan selama menunaikan ibadah haji.

Hal tersebut menjadi perhatian karena sebagian jemaah, terutama lanjut usia, kerap lupa menyimpan barang pribadi atau memindahkan dokumen ke tempat yang sulit dijangkau saat dibutuhkan.

Karena itu, para ketua rombongan secara rutin terus mengingatkan jemaah agar seluruh identitas digunakan secara lengkap setiap saat.

“Kami juga mengedukasi jemaah agar tidak hanya menyimpan kartu di tas. Sebisa mungkin identitas melekat di badan sehingga ketika terjadi kondisi darurat, petugas bisa langsung mengetahui data jemaah dengan cepat,” tambahnya.

Menjelang pelaksanaan puncak haji, aspek keselamatan dan perlindungan jemaah menjadi fokus utama petugas. Dengan jutaan orang berkumpul di lokasi yang sama, identitas yang mudah dikenali menjadi bagian penting dari sistem mitigasi risiko.

Di tengah padatnya aktivitas ibadah dan mobilitas tinggi di Tanah Suci, gelang identitas tambahan itu bukan sekadar aksesori. Bagi jemaah, benda tersebut dapat menjadi alat sederhana yang berperan besar saat situasi darurat terjadi. (aif)

Editor : Ali Sodiqin
#haji Banyuwangi 2026 #KBIHU Sabilillah Banyuwangi #Jemaah haji Kloter 85 #Gelang identitas haji #Armuzna Makkah