RADARBANYUWANGI.ID – Layanan konsumsi jemaah haji Indonesia pada penyelenggaraan ibadah haji 1447 Hijriah/2026 Masehi kembali menuai apresiasi. Sejumlah jemaah asal Embarkasi Jakarta-Banten Kelompok Terbang 13 (JKB-13) memuji kualitas makanan yang disediakan pemerintah selama berada di Makkah.
Menu bercita rasa Nusantara seperti tempe, ikan, ayam, hingga terong balado disebut mampu menjadi “obat rindu” bagi jemaah yang menjalani ibadah di tengah cuaca panas Arab Saudi.
Salah satu jemaah, Uswatun Hasanah, mengaku cukup puas dengan menu konsumsi yang diterimanya setiap hari selama tinggal di Hotel Al-Hidayah, Aziziyah, Makkah.
Perempuan asal Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang, Banten, itu mengatakan makanan yang disajikan terasa akrab di lidah masyarakat Indonesia dan nyaman dikonsumsi sehari-hari.
“Menu yang saya terima ada nasi putih, ayam, ikan, terong balado. Nasinya sama dengan yang kita makan waktu di rumah, pas rasanya dan masuk ke perut,” ujar perempuan yang akrab disapa Bu Guru Puput saat ditemui Jumat (15/5/2026).
Menu Nusantara Jadi Penguat Fisik Jemaah
Menurut Puput, kualitas konsumsi menjadi faktor penting untuk menjaga stamina jemaah selama menjalani rangkaian ibadah haji yang cukup menguras tenaga.
Ia menjelaskan, makanan diantarkan langsung oleh Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) ke kamar jemaah sebanyak tiga kali sehari, yakni pagi, siang, dan sore.
Selain petugas konsumsi, ketua rombongan juga ikut membantu distribusi makanan agar seluruh jemaah dapat menerima konsumsi tepat waktu.
Puput menilai menu yang disiapkan pemerintah sudah memenuhi unsur gizi seimbang karena terdiri atas karbohidrat, lauk berprotein, sayuran, hingga buah-buahan.
Kondisi itu dinilai sangat membantu jemaah menjaga daya tahan tubuh di tengah suhu Makkah yang mulai meningkat menjelang fase puncak haji.
“Kalau makanan sudah cukup lengkap, ada nasi, lauk, buah juga. Jadi badan tetap kuat buat ibadah,” katanya.
Tak hanya soal makanan, Puput juga memuji ketersediaan air minum bagi jemaah yang disebut sangat melimpah.
“Seer cai mah, nambah deui nambah deui (banyak sekali kalau air minum, tambah lagi, tambah lagi),” ujarnya sambil tersenyum.
Jemaah Lansia Mengaku Cocok dengan Menu Haji
Apresiasi serupa datang dari Arisah, jemaah asal Kadubumbang, Pandeglang.
Jemaah lansia tersebut mengaku tidak mengalami kesulitan beradaptasi dengan menu makanan yang diberikan selama berada di Makkah.
“Alhamdulillah tidak semua makanannya masuk ke perut,” kata Nenek Arisah sambil tersenyum tipis.
Ungkapan sederhana itu menggambarkan bahwa mayoritas menu yang disediakan cukup sesuai dengan selera dan kondisi kesehatan jemaah Indonesia, termasuk kelompok lansia.
Layanan konsumsi memang menjadi salah satu perhatian utama pemerintah dalam penyelenggaraan ibadah haji tahun ini. Selain harus memenuhi standar kebersihan dan keamanan pangan, makanan juga dituntut mampu menyesuaikan cita rasa Nusantara agar jemaah tetap nyaman.
Menu Tempe dan Teri Jadi Favorit Jemaah
Sebelumnya, Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah (PE2HU), Jaenal Effendi, turut meninjau langsung layanan konsumsi jemaah Indonesia di Sektor 10 Makkah.
Dalam peninjauan yang dilakukan Minggu (10/5/2026), Jaenal mengecek langsung menu makanan yang disiapkan bagi jemaah sekaligus berdialog dengan petugas layanan dan ketua kloter.
Ia menilai kehadiran menu khas Indonesia menjadi bagian penting untuk menjaga kenyamanan sekaligus kondisi fisik jemaah selama berada di Tanah Suci.
“Ini menu malam hari dan sangat Indonesia sekali, karena ada tempe, teri, dan ikan. Pelaksanaan ibadah haji membutuhkan kondisi fisik yang prima, sehingga jemaah memerlukan asupan makanan yang baik agar tetap kuat menjalankan rangkaian ibadah,” ujar Jaenal.
Menurutnya, cita rasa Nusantara memiliki efek psikologis positif bagi jemaah yang jauh dari kampung halaman selama lebih dari sebulan.
Selain memenuhi kebutuhan gizi, layanan konsumsi bercita rasa Indonesia juga dinilai dapat mengurangi kejenuhan jemaah terhadap makanan Timur Tengah yang cenderung berbeda dengan selera masyarakat Indonesia.
Warung Makan Nusantara Jadi Pelepas Rindu Jemaah
Dalam kesempatan yang sama, Jaenal juga meninjau keberadaan warung makan Nusantara di Hotel Al Hidayah, Makkah.
Warung tersebut menjadi bagian dari optimalisasi area komersial hotel jemaah Indonesia sekaligus menghadirkan pilihan kuliner khas Tanah Air bagi para tamu Allah.
Ia berharap keberadaan kuliner Nusantara dapat menjadi alternatif bagi jemaah yang ingin menikmati suasana makan ala Indonesia selama berada di Arab Saudi.
“Ini bisa menjadi obat kangen jamaah terhadap masakan Indonesia. Mudah-mudahan juga memberi manfaat ekonomi dan multiplier effect bagi masyarakat Indonesia, termasuk diaspora yang ada di Arab Saudi,” pungkasnya.
Konsumsi Jadi Penopang Penting Jelang Puncak Haji
Memasuki fase mendekati Armuzna atau Arafah, Muzdalifah, dan Mina, kebutuhan konsumsi bergizi menjadi semakin penting bagi jemaah haji Indonesia.
Cuaca ekstrem dengan suhu tinggi di Makkah membuat jemaah membutuhkan asupan makanan yang cukup agar tetap bugar menjalani mobilitas ibadah.
Karena itu, PPIH Arab Saudi terus melakukan pengawasan ketat terhadap distribusi makanan, kualitas menu, kebersihan dapur katering, hingga ketepatan waktu pengiriman konsumsi ke hotel-hotel jemaah.
Pemerintah berharap layanan konsumsi yang optimal dapat membantu jemaah menjalani seluruh rangkaian ibadah haji dengan sehat, nyaman, dan khusyuk hingga puncak haji berlangsung. (*)
Editor : Ali Sodiqin