Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Jelang Armuzna 2026, Kiai Cholil Nafis Minta Jemaah Haji Stop Kejar Umrah Sunnah Berlebihan

Ali Sodiqin • Senin, 18 Mei 2026 | 18:30 WIB
Musyrif Diny Kemenhaj minta jemaah haji Indonesia tak memforsir ibadah sunnah jelang Armuzna demi menjaga stamina saat wukuf. (haji.or.id)
Musyrif Diny Kemenhaj minta jemaah haji Indonesia tak memforsir ibadah sunnah jelang Armuzna demi menjaga stamina saat wukuf. (haji.or.id)

RADARBANYUWANGI.ID - Fase puncak ibadah haji 2026 semakin dekat. Di tengah tingginya semangat jemaah Indonesia mengejar ibadah sunnah di Madinah dan Makkah, para Musyrif Diny Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia mulai mengeluarkan peringatan serius: jangan sampai tenaga habis sebelum wukuf di Arafah.

Imbauan itu terutama ditujukan kepada jemaah lanjut usia, penyandang penyakit penyerta, hingga kelompok risiko tinggi yang belakangan terlihat memaksakan diri menjalani aktivitas ibadah berlebihan.

Mulai dari mengejar salat Arbain di Masjid Nabawi, thawaf berkali-kali di Masjidil Haram, hingga umrah sunnah berulang, dinilai berpotensi menguras stamina sebelum memasuki fase terberat ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).

Musyrif Diny Kementerian Haji dan Umrah RI, Muhammad Cholil Nafis, menegaskan bahwa kesiapan fisik menghadapi Armuzna jauh lebih penting dibanding memaksakan ibadah sunnah secara berlebihan.

“Jangan sampai tenaga habis sebelum puncak haji. Yang paling utama adalah kesiapan untuk menjalani Arafah, Muzdalifah, dan Mina,” ujar Kiai Cholil di Madinah, Rabu (13/5/2026).

Pernyataan tersebut menjadi alarm penting di tengah meningkatnya aktivitas ibadah jemaah Indonesia selama berada di Tanah Suci.

Banyak Jemaah Terlalu Semangat Kejar Ibadah Sunnah

Fenomena jemaah memaksakan diri beribadah sunnah sebenarnya hampir selalu terjadi setiap musim haji. Banyak jemaah merasa harus memanfaatkan kesempatan berada di Tanah Suci sebanyak mungkin tanpa memperhitungkan kemampuan fisik.

Padahal, suhu panas Arab Saudi, kepadatan jutaan manusia, serta mobilitas tinggi menjelang Armuzna membuat tubuh rentan mengalami kelelahan berat.

Menurut Kiai Cholil, sebagian jemaah bahkan merasa bersalah jika tidak terus berada di masjid atau tidak melaksanakan ibadah sunnah sebanyak-banyaknya.

Padahal, Islam tetap memberikan ruang kemudahan bagi jemaah yang memiliki keterbatasan fisik maupun alasan kesehatan.

“Kalau sudah punya niat baik untuk shalat di masjid lalu terhalang karena kondisi kesehatan atau demi menjaga stamina, insyaAllah tetap mendapatkan pahala,” katanya.

Ia menegaskan, ibadah yang dilakukan di hotel atau pemondokan tetap bernilai ibadah, khususnya bagi jemaah yang memang membutuhkan istirahat demi menjaga kondisi tubuh.

Lansia Diimbau Tidak Memaksakan Diri

Kiai Cholil menilai kelompok lansia menjadi yang paling rentan mengalami kelelahan fisik menjelang Armuzna.

Sebab, banyak lansia tetap memaksakan diri berjalan jauh menuju Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi meski kondisi tubuh sudah mulai menurun.

Padahal, fase Armuzna nantinya membutuhkan stamina jauh lebih besar karena jemaah harus menjalani perpindahan massal di tengah cuaca ekstrem.

Ia mengingatkan bahwa menjaga kesehatan juga bagian dari ibadah.

Karena itu, jemaah tidak perlu merasa khawatir apabila harus mengurangi aktivitas sunnah demi mempertahankan kondisi tubuh tetap stabil.

“Yang paling penting itu kuat menjalani rukun hajinya. Jangan sampai ibadah wajib terganggu karena terlalu memforsir ibadah sunnah,” tegasnya.

Jangan Terjebak Semangat “Aji Mumpung”

Imbauan senada disampaikan Musyrif Diny lainnya, Asrorun Ni’am Sholeh. Ia meminta jemaah tidak terjebak pola pikir “aji mumpung” selama berada di Tanah Suci.

Menurutnya, semangat beribadah memang baik, tetapi tetap harus disesuaikan dengan kemampuan fisik masing-masing.

“Umrah sewajarnya saja, thawaf juga secukupnya. Jangan sampai memforsir tenaga hanya karena ingin sebanyak-banyaknya ibadah sunnah, sementara tenaga itu sangat dibutuhkan saat Armuzna,” ujar Ni’am.

Ia mengingatkan bahwa ibadah haji bukan sekadar soal kuantitas ibadah sunnah, melainkan kesiapan menjalankan seluruh rangkaian wajib secara sempurna.

Terlebih, suhu panas di Arab Saudi diperkirakan terus meningkat menjelang puncak haji. Kondisi tersebut membuat risiko dehidrasi dan kelelahan menjadi lebih tinggi.

“Al-Hajju Arafah”, Inti Haji Ada di Wukuf

Sementara itu, Abdullah Kafabihi Mahrus mengingatkan kembali tentang inti utama ibadah haji, yakni wukuf di Padang Arafah.

Menurutnya, seluruh persiapan jemaah sejak awal seharusnya diarahkan untuk menghadapi momentum tersebut.

“Jadi kita harus ada persiapan matang, baik kesehatan maupun finansial. Sebelum haji itu jangan belanja-belanja, jangan memforsir umrah-umrah. Jaga kesehatan karena haji itu intinya adalah Arafah, Al-Hajju Arafah,” kata Kiai Kafabihi.

Ia menilai banyak jemaah terkadang terlalu fokus pada aktivitas tambahan hingga lupa menjaga energi untuk fase inti ibadah haji.

Padahal, Armuzna merupakan fase yang sangat berat secara fisik maupun mental. Mobilitas tinggi, cuaca panas, kepadatan jutaan jemaah, hingga waktu istirahat yang terbatas membuat kondisi tubuh harus benar-benar siap.

Karena itu, para Musyrif Diny berharap jemaah Indonesia mulai mengatur pola aktivitas sejak sekarang.

Bukan berarti mengurangi semangat ibadah, melainkan menempatkan prioritas secara proporsional agar seluruh rangkaian haji dapat dijalani dengan aman, lancar, dan khusyuk.

Dengan stamina yang terjaga, jemaah diharapkan mampu menghadapi fase Armuzna tanpa kendala serius dan dapat menuntaskan seluruh rukun haji secara sempurna. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#Armuzna 2026 #Cholil Nafis #umrah sunnah #jemaah haji indonesia #haji lansia