Di tengah rumah warisan orang tua yang hancur diterjang banjir bandang Aceh Tamiang, Hartati Musirun Mukmin tetap berangkat ke Tanah Suci. Semua biaya pelunasan haji dibantu tiga anaknya setelah sang suami wafat lebih dulu.
RADARBANYUWANGI.ID - Tangis Hartati Musirun Mukmin pecah saat mengenang banjir bandang yang menghancurkan rumah warisan orang tuanya di Aceh Tamiang. Hingga kini, perempuan 56 tahun itu bahkan belum tahu bagaimana nasib rumahnya yang tertutup material lumpur dan longsor setinggi leher orang dewasa.
Namun di tengah musibah besar tersebut, Hartati justru mendapat panggilan terbesar dalam hidupnya: berangkat ke Tanah Suci menunaikan ibadah haji 2026.
Di balik wajahnya yang mulai menua, tersimpan kisah perjuangan seorang ibu asal Aceh yang kehilangan rumah, harta benda, hingga seluruh dokumen penting akibat banjir bandang. Tetapi keyakinannya kepada Allah tak pernah runtuh.
“Uang enggak ada untuk perbaiki rumah. Tapi dengan izin Allah, karena panggilan Allah, berkat anak-anak saya, Pak, saya bisa kemari,” ujar Hartati sambil meneteskan air mata saat ditemui Tim Media Center Haji (MCH) di kawasan Jarwal, Makkah, Selasa (12/5/2026).
Rumah Tertimbun Lumpur, Dokumen Haji Hilang Semua
Musibah banjir bandang yang menerjang Aceh Tamiang datang begitu cepat. Hartati mengaku tidak sempat menyelamatkan barang apa pun dari rumahnya.
Air bah bercampur material longsor tiba-tiba menerjang rumah peninggalan orang tuanya hingga seluruh isi rumah lenyap tersapu arus.
“Air itu tiba-tiba langsung sreeet naik. Jadi kami enggak sempat lagi menyelamatkan barang. Semua langsung habis,” ungkapnya dengan suara bergetar.
Tak hanya rumah yang rusak parah, seluruh dokumen penting miliknya ikut hilang. Mulai dari KTP, kartu keluarga, hingga dokumen pendaftaran haji.
Hartati mengaku sempat pasrah karena merasa peluangnya berangkat haji ikut hilang bersama musibah tersebut.
Namun, harapan itu kembali muncul setelah data dirinya ternyata masih tersimpan di sistem Kementerian Agama dan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil.
Berkat data digital tersebut, dokumen-dokumen penting bisa diterbitkan ulang sehingga proses keberangkatannya ke Tanah Suci tetap berjalan.
Ditinggal Suami Sejak 2014, Berjuang Besarkan Tiga Anak Sendiri
Perjalanan hidup Hartati memang tidak mudah.
Ia sejatinya mendaftar haji bersama sang suami, Muhammad Sofyan. Namun takdir berkata lain. Suaminya wafat pada 2014 sebelum sempat berangkat ke Tanah Suci.
Sejak saat itu, Hartati harus membesarkan ketiga anaknya seorang diri.
Di tengah keterbatasan ekonomi dan hidup sederhana, ia tetap bertahan demi masa depan anak-anaknya.
Kini, pengorbanan panjang seorang ibu itu seolah dibalas dengan cara yang tidak pernah ia bayangkan.
Ketiga anak Hartati kompak membantu melunasi biaya haji sang ibu. Mereka patungan mengumpulkan dana hingga akhirnya Hartati bisa melunasi setoran sekitar Rp17 juta untuk keberangkatan haji tahun ini.
“Karena Allah, kalau saya sendiri enggak ada duit, Pak. Rumah aja belum bisa saya perbaiki,” katanya lirih.
Menangis di Tanah Haram, Yakin Allah Siapkan Rezeki
Kini Hartati menjadi salah satu dari 5.426 jemaah haji asal Provinsi Aceh yang berangkat pada musim haji 2026.
Sebagian besar jemaah Aceh sudah tiba di Arab Saudi melalui Bandara Madinah dan Jeddah dalam delapan kelompok terbang (kloter).
Di tengah suasana Makkah yang penuh haru, Hartati terus menyimpan keyakinan bahwa musibah besar yang dialaminya bukan akhir dari segalanya.
Ia percaya Allah sedang menyiapkan jalan terbaik untuk hidupnya.
“Saya bersyukur. Mungkin di balik musibah itu Allah kasih rezeki buat saya,” ujarnya.
Perempuan asal Aceh Tamiang itu kini bersiap menanti puncak ibadah haji, yakni wukuf di Padang Arafah.
Di tempat paling mustajab itu, Hartati ingin menengadahkan tangan, memohon ampunan, keselamatan, sekaligus harapan baru setelah rumahnya luluh lantak diterjang banjir.
“Entah mungkin saya pulang dari sini dapat rezeki apa, saya enggak tahu. Itu rahasia Allah. Tapi saya yakin, saya pulang dari sini dapat rezeki dari Allah,” tuturnya penuh harap.
Kisah Hartati Jadi Potret Keteguhan Jemaah Indonesia
Kisah Hartati menjadi gambaran nyata keteguhan hati jemaah haji Indonesia di tengah cobaan hidup yang berat.
Di saat banyak orang menyerah karena kehilangan rumah dan harta benda, Hartati justru tetap melangkah menuju Baitullah dengan keyakinan penuh kepada Tuhan.
Tangis perempuan asal Aceh Tamiang itu bukan hanya tentang kesedihan kehilangan rumah. Tetapi juga tentang syukur karena masih diberi kesempatan memenuhi panggilan suci ke Tanah Haram. (*)
Editor : Ali Sodiqin