RADARBANYUWANGI.ID – Harapan jutaan calon jemaah haji Indonesia untuk berangkat lebih cepat mulai menemukan titik terang. Program transformasi besar Arab Saudi bertajuk Saudi Vision 2030 disebut berpotensi mengubah peta penyelenggaraan haji dunia, termasuk memangkas masa tunggu jemaah Indonesia yang selama ini mencapai puluhan tahun.
Belakangan, publik ramai membicarakan kabar bahwa antrean haji plus yang sebelumnya 7–10 tahun bisa menjadi 3 tahun, sedangkan haji reguler dari 24 tahun dipangkas menjadi 15 tahun. Informasi tersebut menyebar luas dan memantik optimisme masyarakat.
Namun, berdasarkan data yang tersedia hingga kini, angka tersebut belum menjadi keputusan resmi pemerintah Indonesia maupun Arab Saudi. Yang berkembang saat ini masih berupa proyeksi dan simulasi dampak dari peningkatan kapasitas haji dalam kerangka Saudi Vision 2030.
Meski demikian, peluang percepatan keberangkatan jemaah Indonesia memang terbuka cukup besar.
Saudi Siapkan Transformasi Haji Skala Besar
Saudi Vision 2030 merupakan program reformasi nasional Arab Saudi yang dipimpin Putra Mahkota Mohammed bin Salman. Program ini tidak hanya fokus pada diversifikasi ekonomi, tetapi juga mencakup modernisasi sektor pelayanan haji dan umrah.
Salah satu pilar pentingnya adalah Doyof Al Rahman Program atau Program Pelayanan Tamu Allah.
Melalui program tersebut, Arab Saudi menargetkan peningkatan kapasitas, efisiensi, hingga digitalisasi layanan jemaah.
Perubahan besar itu mulai terlihat dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari sistem visa elektronik, pengembangan transportasi, hingga perluasan infrastruktur di kawasan suci.
Kuota Haji Indonesia Bisa Melonjak Dua Kali Lipat
Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Dahnil Anzar Simanjuntak sebelumnya menyampaikan bahwa Saudi menargetkan kapasitas haji global mencapai 5 juta jemaah per tahun pada 2029–2030.
Jika target tersebut terealisasi, dampaknya terhadap Indonesia diprediksi sangat signifikan.
Saat ini kuota haji Indonesia berada di kisaran 221 ribu jemaah per tahun. Namun dengan peningkatan kapasitas global, jumlah itu berpotensi melonjak hingga 500 ribu sampai 600 ribu jemaah setiap tahun.
Kenaikan tersebut hampir setara dua kali lipat dari kondisi sekarang.
Jika skenario itu benar-benar terjadi, jutaan masyarakat yang selama ini terjebak daftar tunggu panjang berpotensi memperoleh percepatan keberangkatan.
Antrean Haji Bisa Turun Drastis
Dahnil menyebut peningkatan kuota berpotensi memangkas antrean nasional secara signifikan.
Saat ini rata-rata antrean nasional berada pada kisaran 26 tahun, meski di sejumlah wilayah angkanya jauh lebih tinggi.
Dalam skenario percepatan, antrean diprediksi dapat turun menjadi sekitar 10 sampai 13 tahun.
Prediksi inilah yang kemudian memunculkan berbagai simulasi di masyarakat, termasuk klaim bahwa haji reguler bisa turun dari 24 tahun menjadi 15 tahun.
Namun hingga saat ini belum ada angka resmi final yang diumumkan pemerintah.
Artinya, angka yang beredar masih sebatas proyeksi berdasarkan asumsi kenaikan kuota.
Antrean Haji Indonesia Masih Sangat Panjang
Persoalan waiting list haji memang menjadi pekerjaan rumah besar Indonesia.
Jumlah calon jemaah dalam daftar tunggu diperkirakan telah mencapai 5,3 juta hingga 5,7 juta orang.
Kondisi antrean pun berbeda di tiap daerah.
Beberapa wilayah mencatat masa tunggu sangat panjang:
-
Jawa Timur: 35 tahun
-
Kalimantan Selatan: 38 tahun
-
Nusa Tenggara Barat: 36 tahun
-
DKI Jakarta: 28 tahun
-
Sumatera Barat: 24 tahun
-
Sulawesi Utara: 16 tahun
Di sejumlah daerah tertentu, antrean bahkan dilaporkan mendekati 40 hingga hampir 50 tahun.
Karena itu, angka nasional 24 atau 26 tahun sesungguhnya tidak menggambarkan situasi seluruh daerah.
Perubahan Sudah Mulai Terlihat
Meski peningkatan kuota masih berupa proyeksi, dampak Saudi Vision 2030 sejatinya sudah mulai dirasakan jemaah.
Beberapa inovasi yang sudah berjalan antara lain:
Visa Elektronik Super Cepat
Jika sebelumnya proses visa membutuhkan sekitar dua pekan, kini sejumlah layanan mampu memangkas waktu penerbitan hingga hanya hitungan menit.
Program Makkah Route
Melalui skema ini, proses pemeriksaan imigrasi dilakukan sejak negara asal.
Akibatnya, setibanya di Arab Saudi jemaah dapat langsung menuju penginapan tanpa antre panjang.
Modernisasi Infrastruktur
Arab Saudi juga terus memperluas kawasan Masjidil Haram, transportasi cepat, layanan kesehatan, hingga sistem manajemen jemaah berbasis teknologi.
Langkah ini menjadi fondasi menuju target jutaan jemaah dalam satu musim haji.
Kabar Gembira, Tapi Belum Final
Bagi masyarakat yang sudah bertahun-tahun menunggu giliran berangkat, Saudi Vision 2030 memang memberi harapan baru.
Namun pemerintah mengingatkan publik agar tidak buru-buru menganggap angka percepatan antrean sebagai keputusan resmi.
Yang sudah dapat dipastikan ialah arah kebijakan Arab Saudi memang bergerak menuju peningkatan kapasitas besar-besaran.
Jika target 5 juta jemaah dunia tercapai, peta haji Indonesia berpotensi berubah total.
Dan bagi jutaan calon jemaah, perubahan itu bisa menjadi kabar terbaik setelah menunggu puluhan tahun. (*)
Editor : Ali Sodiqin