Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kisah Suami-Istri Agen Koran Banyuwangi Berangkat Haji Setelah 41 Tahun Jualan Koran

Ali Sodiqin • Jumat, 8 Mei 2026 | 06:56 WIB
CALON JEMAAH HAJI: Budiono bersama Sri Hastutik siap berangkat haji tahun ini. Koper haji sudah diambil dari kantor Kemenhaj Banyuwangi beberapa waktu lalu. (Zamrozi Wahyu/Radar Banyuwangi)
CALON JEMAAH HAJI: Budiono bersama Sri Hastutik siap berangkat haji tahun ini. Koper haji sudah diambil dari kantor Kemenhaj Banyuwangi beberapa waktu lalu. (Zamrozi Wahyu/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Di tengah menurunnya bisnis media cetak, kisah perjuangan Budiono dan istrinya Sri Hastutik menjadi bukti bahwa niat kuat dan kerja keras mampu mengantarkan seseorang mewujudkan impian besar. Setelah puluhan tahun menjadi loper sekaligus agen koran, pasangan asal Desa Cluring, Kecamatan Cluring, Banyuwangi, itu akhirnya mendapat panggilan menunaikan ibadah haji tahun ini.

Jika tidak ada kendala, pasangan suami istri tersebut dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci bersama rombongan jemaah lainnya pada Selasa mendatang (12/5).

Perjalanan menuju Baitullah yang kini tinggal menghitung hari itu bukan diraih secara instan. Ada perjuangan panjang, tabungan bertahun-tahun, hingga pengorbanan hidup sederhana yang mereka jalani sejak puluhan tahun lalu.

Budiono mulai menekuni bisnis koran sejak 1985. Saat itu ia masih duduk di bangku SMA dan setiap hari berkeliling menjajakan koran di wilayah Cluring hingga Jajag, Kecamatan Gambiran.

“Awal jualan koran sewaktu saya masih SMA. Waktu itu harga koran masih sekitar Rp 250 per eksemplar,” kenangnya saat ditemui di rumahnya, kemarin (7/5).

Berbekal tekad dan ketekunan, Budiono perlahan berkembang dari loper koran menjadi agen. Sekitar tahun 1990, ia memberanikan diri membuka kios koran di tepi jalan raya Kecamatan Cluring.

Selama 41 tahun menjalani usaha tersebut, hasil berjualan koran tidak hanya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi juga ditabung demi satu cita-cita besar: berangkat haji bersama istri tercinta.

“Intinya punya niat kuat dan berusaha sambil berdoa. Insya Allah pasti ada jalannya,” ujar Budiono didampingi Sri Hastutik.

Untuk menambah penghasilan, pasangan tersebut juga memelihara sapi. Dari hasil penjualan ternak itulah mereka mulai membeli aset tanah sedikit demi sedikit.

Budiono menceritakan, salah satu sapi peliharaannya pernah terjual Rp 25 juta. Uang tersebut kemudian digunakan membeli sebidang tanah seharga Rp 20 juta.

Siapa sangka, beberapa tahun kemudian harga tanah tersebut melonjak hingga Rp 75 juta. Sebagian hasil penjualan tanah dipakai untuk biaya pendidikan anak, sedangkan sisanya menjadi modal mendaftar haji.

“Dari sisa bayar uang gedung kuliah sekitar Rp 25 juta, akhirnya dipakai daftar haji bersama,” tutur Sri Hastutik.

Pasangan itu resmi mendaftar haji secara mandiri pada 2012. Saat itu, mereka memanfaatkan program Talang Haji untuk membantu proses pembayaran setoran awal.

Sri Hastutik mengaku biaya pendaftaran hajinya dicicil hingga lunas dalam waktu dua tahun.

“Caranya ya dari usaha kecil-kecilan, termasuk menyewakan sawah yang ditanami jeruk,” ujarnya.

Perjuangan mereka kembali diuji ketika pada Desember 2025 mendapat kabar bahwa jadwal keberangkatan haji dimajukan menjadi tahun 2026 karena masuk kuota cadangan.

Awalnya, pasangan tersebut dijadwalkan berangkat pada 2027. Namun kabar percepatan keberangkatan justru membuat Sri Hastutik sempat panik karena belum memiliki dana pelunasan sekitar Rp 66 juta untuk dua orang.

“Saya sempat bingung dan ragu karena uang pelunasan belum ada,” katanya sambil menahan haru.

Namun Budiono terus menguatkan istrinya agar tetap yakin.

“Suami bilang ini panggilan Allah, tidak semua orang bisa mendapat kesempatan ini. Pasti ada jalannya,” ujar Hastutik sembari mengusap air mata.

Keyakinan itu akhirnya terjawab. Sedikit demi sedikit kebutuhan biaya pelunasan berhasil dipenuhi. Bahkan untuk biaya pembuatan paspor sebesar Rp 1,4 juta, pasangan tersebut mengaku mendapat rezeki tak terduga dari hasil penjualan jeruk yang masih setengah matang.

“Yang penting yakin dan terus berusaha, pasti ada jalannya,” tegas Sri Hastutik.

Kini, setelah puluhan tahun berjuang dari hasil berjualan koran, Budiono mengaku bersyukur dapat melihat hasil kerja kerasnya. Dari usaha koran itu pula ia mampu membangun rumah, membeli tanah, menyekolahkan dua anak hingga kuliah, sampai akhirnya berangkat ke Tanah Suci.

“Semua keberhasilan yang saya raih berawal dari bisnis koran,” katanya.

Di akhir cerita, Budiono menyampaikan pesan sederhana namun penuh makna.

“Haji itu bukan untuk orang mampu, tapi untuk orang yang mau,” ujarnya.

Kisah Budiono dan Sri Hastutik menjadi potret perjuangan masyarakat kecil yang mampu membuktikan bahwa ketulusan niat, kerja keras, dan doa dapat membuka jalan menuju impian terbesar dalam hidup. (why/aif)

Meta Deskripsi

 

Editor : Ali Sodiqin
#agen koran Banyuwangi #kisah haji inspiratif #Budiono Cluring #jualan koran untuk haji #jemaah haji banyuwangi