RADARBANYUWANGI.ID – Pemerintah Indonesia menaikkan standar layanan haji 2026. Sebanyak 452 bus Shalawat disiagakan beroperasi nonstop 24 jam untuk mengangkut jemaah dari hotel menuju Masjidil Haram, tanpa memandang jarak penginapan.
Kebijakan ini melampaui ketentuan otoritas Arab Saudi yang hanya mewajibkan transportasi bagi jemaah dengan jarak lebih dari dua kilometer. Indonesia justru memberikan layanan menyeluruh bagi seluruh jemaah.
“Kami pastikan semua jemaah mendapatkan transportasi, baik yang dekat maupun jauh,” tegas Syarif Rahman, seperti dikutip dari himpuh.or.id.
Layanan Tanpa Diskriminasi Jarak
Langkah ini menjadi terobosan dalam penyelenggaraan ibadah haji. Seluruh akomodasi jemaah Indonesia di Makkah kini terintegrasi dengan layanan transportasi resmi.
Artinya, jemaah tidak lagi harus berjalan jauh menuju Masjidil Haram, terutama bagi lansia dan mereka dengan keterbatasan fisik.
Kebijakan ini juga dinilai mampu mengurangi kelelahan jemaah, sehingga ibadah bisa dijalani dengan lebih optimal.
Layani 21 Rute, Operasi 24 Jam
Ratusan bus yang disiapkan akan melayani 21 rute utama di lima kawasan pemondokan jemaah. Seluruh armada dioperasikan dengan sistem shift sehingga aktif sepanjang hari.
“Operasionalnya 24 jam penuh, dari pukul 00.00 sampai 00.00 lagi. Jadi dihitung harian, bukan per perjalanan,” jelas Syarif.
Sistem ini memastikan ketersediaan bus setiap saat, baik untuk ibadah subuh hingga aktivitas malam hari.
Armada Standar Tinggi
Pemerintah juga memastikan kualitas armada yang digunakan. Seluruh bus memiliki usia operasional maksimal lima tahun dan telah memenuhi standar kelayakan jalan.
Hal ini penting untuk menjamin keselamatan dan kenyamanan jemaah selama mobilitas di kota suci.
Antisipasi Lonjakan Jemaah
Pengaturan jumlah armada dilakukan secara fleksibel. Menjelang waktu salat fardu, jumlah bus yang disiagakan di halte sekitar hotel akan ditambah untuk mengantisipasi lonjakan penumpang.
Strategi ini diharapkan mampu mengurangi antrean panjang dan kepadatan, terutama pada jam-jam sibuk.
Tiga Terminal Utama
Untuk menjaga kelancaran arus lalu lintas, bus Shalawat akan berhenti di tiga titik terminal utama, yakni:
-
Terminal Jiad Ajyad
-
Jabal Ka'bah
-
Syib Amir
Penentuan titik akhir disesuaikan dengan wilayah asal jemaah, sehingga distribusi penumpang lebih merata dan tidak memicu kemacetan di sekitar Masjidil Haram.
Mulai Beroperasi Sejak Kloter Pertama
Layanan ini akan mulai berjalan sejak kedatangan kloter pertama jemaah haji Indonesia di Makkah pada 30 April 2026, dan terus beroperasi hingga kepulangan kloter terakhir ke Tanah Air.
Dengan sistem transportasi yang semakin terintegrasi, pemerintah berharap seluruh jemaah dapat menjalankan ibadah dengan lebih tenang, nyaman, dan aman.
Di tengah jutaan manusia yang berkumpul di Tanah Suci, kepastian akses transportasi menjadi faktor krusial—dan Indonesia memilih untuk tidak setengah-setengah dalam melayani jemaahnya. (*)
Editor : Ali Sodiqin