Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Titip Doa ke Jemaah Haji Masih Jadi Tradisi, Buya Yahya Ingatkan Etika dan Larangan Membebani dengan Oleh-Oleh

Ali Sodiqin • Rabu, 15 April 2026 | 23:30 WIB
Buya Yahya. (Radar Bogor)
Buya Yahya. (Radar Bogor)

RADARBANYUWANGI.ID - Tradisi menitipkan doa kepada kerabat atau tetangga yang berangkat haji masih menjadi bagian kuat dari kultur religius masyarakat Indonesia.

Menjelang musim haji, fenomena ini kembali mencuat di tengah masyarakat—mulai dari permintaan doa untuk kesehatan, kelancaran rezeki, jodoh, hingga harapan agar suatu saat bisa menyusul menunaikan ibadah ke Tanah Suci.

Di balik tradisi yang dianggap sarat makna spiritual tersebut, muncul pertanyaan yang terus berulang: apakah menitipkan doa kepada jemaah haji dibenarkan dalam Islam, atau justru berpotensi menjadi beban yang mengganggu kekhusyukan ibadah?

Penceramah kondang Buya Yahya menegaskan, secara syariat, menitipkan doa kepada jemaah haji maupun umrah diperbolehkan dan memiliki landasan dalam ajaran Islam.

Menurutnya, praktik meminta didoakan bukan sesuatu yang asing dalam tradisi keislaman. Bahkan, hal itu memiliki rujukan dari teladan Rasulullah SAW.

Buya Yahya mencontohkan bagaimana Nabi Muhammad SAW pernah meminta kepada Umar bin Khattab agar turut didoakan ketika hendak melaksanakan perjalanan ibadah.

“Bawa aku dalam doamu.”

Pesan singkat namun kuat itu menjadi dasar bahwa meminta doa dari orang yang sedang berada di tempat mulia, seperti di depan Ka’bah, bukan hal yang bertentangan dengan ajaran agama.

Dalam keyakinan umat Islam, Ka’bah dan Tanah Suci merupakan tempat yang memiliki keutamaan tinggi, sehingga doa-doa yang dipanjatkan di sana diyakini lebih mustajab. Karena itu, tidak mengherankan jika banyak orang memanfaatkan momen keberangkatan haji keluarga atau kerabat untuk menitipkan harapan dan hajat.

Namun, di sinilah letak persoalan yang disorot Buya Yahya.

Ia mengingatkan bahwa sesuatu yang pada dasarnya diperbolehkan bisa berubah menjadi tidak baik ketika dilakukan secara berlebihan dan justru membebani jemaah yang sedang fokus beribadah.

Jangan Sampai Doa Menjadi Beban

Dalam penjelasannya, Buya Yahya mengkritik kebiasaan sebagian masyarakat yang menitipkan daftar doa panjang, bahkan dalam bentuk tulisan berlembar-lembar.

Menurutnya, jika satu orang saja menitipkan banyak permohonan tertulis, lalu hal serupa dilakukan oleh puluhan hingga ratusan orang, jemaah akan kesulitan untuk membacanya satu per satu.

Kondisi ini dinilai justru berpotensi mengganggu konsentrasi dan kekhusyukan ibadah.

“Minta doa boleh... tapi jangan repotkan, doanya satu gembok begitu, tidak kebaca nanti bingung. Serahkan suruh doain gitu saja. Kalau suruh baca kertas, tidak harus seperti itu, ngerepoti itu,” ujarnya.

Sudut konflik sosial yang mengemuka bukan lagi soal boleh atau tidak, melainkan bagaimana tradisi baik ini perlahan bergeser menjadi tekanan sosial bagi jemaah.

Alih-alih menjadi bentuk dukungan spiritual, daftar doa panjang dan spesifik justru bisa membuat jemaah merasa terbebani.

Buya Yahya menyarankan agar permintaan doa cukup disampaikan secara sederhana dan umum.

Misalnya, cukup meminta didoakan agar diberikan keselamatan, kesehatan, keberkahan hidup, atau kemudahan untuk bisa berangkat ke Tanah Suci di masa mendatang.

Pendekatan yang sederhana ini dinilai lebih sesuai dengan esensi ibadah dan tetap menjaga adab kepada orang yang sedang berhaji.

Budaya Titip Oleh-Oleh Dinilai Lebih Memberatkan

Tak hanya soal titip doa, Buya Yahya juga menyoroti fenomena lain yang kerap menyertai musim haji: budaya meminta oleh-oleh.

Dalam praktik sosial masyarakat, jemaah yang hendak berangkat haji sering kali menerima banyak pesanan barang, mulai dari sajadah, tasbih, air zamzam, parfum, hingga kurma dan cokelat khas Arab Saudi.

Sekilas hal itu tampak sepele, namun dalam realitasnya bisa menjadi tekanan tersendiri.

Menurut Buya Yahya, permintaan barang sekecil apa pun akan menjadi berat ketika datang dari banyak orang sekaligus.

Masalah bagasi, keterbatasan ruang penyimpanan, hingga fokus ibadah menjadi pertimbangan penting.

Jika satu orang meminta sajadah, yang lain meminta tasbih, dan puluhan lainnya menitip barang serupa, maka jemaah bisa kehilangan fokus dari tujuan utama keberangkatan mereka, yakni beribadah.

Lebih jauh, ia menilai budaya ini berpotensi menimbulkan rasa tidak nyaman dan bahkan ketidakjujuran.

Jemaah bisa merasa serba salah: menolak pesanan dianggap tidak enak, tetapi memenuhi semua permintaan justru merepotkan.

“Jangan minta hadiah, minta doa selesai. Kemudian Anda kasih duit. Kami ingin menghilangkan budaya gampang orang minta,” tegasnya.

Pernyataan ini menjadi kritik tajam terhadap budaya sosial yang selama ini dianggap lumrah, tetapi sesungguhnya bisa menggeser makna spiritual ibadah haji menjadi beban konsumtif.

Dukung Jemaah, Bukan Membebani

Alih-alih menitip barang atau daftar doa panjang, Buya Yahya mengajak masyarakat untuk mengubah pola dukungan terhadap jemaah haji menjadi lebih bijak.

Dukungan terbaik, menurutnya, adalah memberikan doa, semangat, dan bantuan yang memudahkan persiapan keberangkatan.

Jika sepulang dari Tanah Suci jemaah berinisiatif memberikan oleh-oleh, maka hal itu dapat diterima sebagai bentuk berbagi kebahagiaan.

Namun, memesan sejak awal justru dinilai berpotensi mengganggu kekhusyukan ibadah.

Pada akhirnya, inti dari ibadah haji bukanlah oleh-oleh yang dibawa pulang, melainkan keberkahan spiritual, doa, dan perubahan diri yang lebih baik.

Tradisi titip doa tetap memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat Muslim Indonesia, tetapi perlu dikembalikan pada esensinya: sederhana, tulus, dan tidak membebani. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#titip doa haji #hukum titip doa dalam Islam #etika jemaah haji #oleh-oleh haji #Buya Yahya