RadarBanyuwangi.id - Setiap jamaah haji memiliki impian dan harapan spiritual yang ingin diraih saat menunaikan ibadah di Tanah Suci.
Bagi pasangan suami istri Hermawan Widodo dan Mufidah Hanum, jamaah Kloter 44 asal Banyuwangi, Jawa Timur, impian itu adalah bisa menjejakkan kaki di Raudhah, sebuah tempat yang diyakini sebagai taman surga di Masjid Nabawi, Madinah.
Berbekal semangat, kesabaran, dan pemanfaatan teknologi, keduanya akhirnya berhasil menunaikan keinginan tersebut melalui bantuan aplikasi Nusuk, platform resmi yang kini menjadi syarat utama bagi jamaah untuk bisa mengakses area suci Raudhah.
Prosedur Ketat dengan Verifikasi Digital
Dalam keterangannya, Hermawan menjelaskan bahwa proses pengajuan akses ke Raudhah melalui aplikasi Nusuk tidak bisa dilakukan sembarangan.
Jamaah diharuskan memilih tanggal, hari, dan jam kunjungan terlebih dahulu. Setelah pengajuan terkirim, sistem akan memverifikasi permintaan dalam waktu 48 jam.
“Kalau tidak disetujui, kita harus ajukan ulang dengan memilih jadwal baru. Tapi kalau disetujui, dua hari kemudian kami bisa datang dan antri di pintu 33 Masjid Nabawi,” ujar Hermawan, yang merupakan jamaah dari KBIHU Sabilillah Banyuwangi.
Antrean Ketat dan Batas Waktu 15 Menit
Setelah tiba di pintu 33, para jamaah harus menunjukkan bukti pendaftaran melalui aplikasi Nusuk.
Petugas kemudian akan memverifikasi dokumen digital tersebut sebelum memberikan izin masuk. Di dalam area masjid, jamaah akan diarahkan untuk menunggu giliran menuju Raudhah.
“Setiap orang diberi waktu maksimal 15 menit untuk beribadah di dalam Raudhah. Jadi harus benar-benar dimanfaatkan sebaik-baiknya,” tambah Hermawan.
Sertifikat Digital Sebagai Kenang-Kenangan Berharga
Sebagai bukti kunjungan, aplikasi Nusuk menyediakan sertifikat digital yang dapat diunduh dan dicetak.
Sertifikat ini memiliki makna mendalam bagi Hermawan, yang merupakan pegawai Bank Jatim Syariah Jember dan pernah bertugas di cabang Banyuwangi.
“Nilainya bukan sekadar dokumen. Ini adalah simbol dari perjuangan, kesabaran, dan doa yang terwujud. Bagi saya, lebih berharga dari sekadar agunan,” ungkap Hermawan dengan penuh haru.
Inspirasi Bagi Jamaah Lain
Kisah Hermawan dan Mufidah menjadi contoh nyata bahwa kesabaran dan pemanfaatan teknologi dapat membawa jamaah menuju pengalaman spiritual yang luar biasa.
Perjuangan mereka menjadi inspirasi bagi jamaah lainnya untuk tidak menyerah dalam meraih kesempatan beribadah di tempat-tempat suci yang sangat didambakan. (*)
Editor : Lugas Rumpakaadi