Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Jemaah Haji Tertua 107 Tahun asal Lampung, Mbah Sutiah Pergi Berhaji Sendirian

Ali Sodiqin • Jumat, 16 Mei 2025 | 23:35 WIB
Mbah Sutiah (kiri) bersama Liani dan Herlina. (Dhimas Ginanjar/JawaPos.com)
Mbah Sutiah (kiri) bersama Liani dan Herlina. (Dhimas Ginanjar/JawaPos.com)

RADARBANYUWANGI.ID - Mbah Sutiah Sunyoto, perempuan asal Lampung Selatan, mencatatkan namanya sebagai jemaah haji tertua Indonesia tahun 2025.

Di usianya yang telah melewati satu abad, Mbah Sutiah masih menunjukkan semangat yang luar biasa.

Dengan wajah penuh keriput dan rambut memutih, ia tetap ceria dan kuat berjalan kaki menuju Masjid Nabawi dari hotelnya yang berjarak sekitar 500 meter.

Mbah Sutiah berangkat haji dalam Kloter JKG 19 dari Embarkasi Jakarta pada Kamis, 8 Mei 2025, dan direncanakan kembali ke Indonesia pada 17 Juni 2025.

Meski berangkat sendiri, ia didampingi oleh jemaah lain dari kampungnya. Dari sembilan anaknya, tidak ada yang ikut bersamanya.

“Ya berani. Karena dititipin sama anak-anak (ke jemaah lain),” ujarnya santai.

Sejak kecil, Mbah Sutiah dikenal sebagai petani tangguh. Ia menabung sedikit demi sedikit dari hasil bertani di desanya, menanam padi dan jagung.

Ia didaftarkan untuk menunaikan ibadah haji oleh anaknya 12 tahun lalu, tepatnya pada tahun 2013.

Meskipun lahir di Banyuwangi sekitar tahun 1918 dan pindah ke Lampung pada tahun 1959, Mbah Sutiah tidak ingat pasti kapan dan bulan apa ia dilahirkan.

Ketika tim Media Center Haji (MCH) mengunjungi Mbah Sutiah di Hotel Mesan Aldauliyah pada Rabu (14/5), ia tampak tenang dan sehat.

Dikenakan jilbab hitam dan daster bermotif bunga, pandangannya tajam dan suaranya masih jelas.

“Kabar baik. Sehat,” jawabnya sambil tersenyum.

Sejak tiba di Arab Saudi, Mbah Sutiah tidak rewel, tidak sakit, dan bahkan tidak menggunakan kursi roda.

Teman sekamarnya, Liani dan Herlina, menjadi saksi betapa kuatnya ia.

“Kalau ke masjid jalan kaki, masih kuat. Nggak pakai kursi roda,” ujar Liani.

Mbah Sutiah mengaku semua makanan selama di Madinah cocok untuknya. Ia tinggal sekamar dengan perempuan-perempuan yang dianggap sebagai “saudara baru” di Tanah Suci.

“Saudara-saudara meski bukan saudara. Di sini jadi saudara,” ujarnya.

Ketika diberitahu bahwa dirinya adalah jemaah tertua tahun ini, Mbah Sutiah tampak kaget dan kemudian tertawa.

“Lho iya, bangga,” ucapnya.

Meskipun usianya jauh melampaui rata-rata harapan hidup, semangatnya untuk menjalani ibadah haji tetap menyala.

Ia hadir bukan hanya untuk menunaikan rukun Islam kelima, tetapi juga membawa kisah tentang sabar, kerja keras, dan cinta kepada Sang Pencipta yang tak lekang oleh waktu.

Mbah Sutiah adalah contoh nyata bahwa semangat dan ketekunan tidak mengenal usia.

Dengan penuh keyakinan, ia menjawab panggilan Allah untuk menunaikan ibadah haji, menunjukkan bahwa cinta dan dedikasi kepada Tuhan dapat mengatasi segala rintangan. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#haji #Jemaah tertua #indonesia #haji tertua #lampung selatan #jemaah haji