Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Paspor Kakek 88 Tahun Asal NTB Tertinggal di Indonesia, Tertahan 30 Jam di Bandara Madinah

Ali Sodiqin • Selasa, 13 Mei 2025 | 17:50 WIB
Kadaker Bandara Abdul Basir Didampingi Sekretaris Daker Bandara Ihsan Faisal dan Petugas Konjen RI mengantarkan Kakek Hanafi Abu Bakar ke hotel. (Media Center Haji 2025)
Kadaker Bandara Abdul Basir Didampingi Sekretaris Daker Bandara Ihsan Faisal dan Petugas Konjen RI mengantarkan Kakek Hanafi Abu Bakar ke hotel. (Media Center Haji 2025)

RADARBANYUWANGI.ID - Seorang lelaki renta duduk sendirian di terminal kedatangan Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA), Madinah, tanpa jaket, tanpa paspor, dan tak bisa masuk ke imigrasi.

Suasana dingin dan keramaian lalu lintas internasional terasa menusuk kulit.

Ia adalah Hanafi Bakar Ali, 88 tahun, jemaah haji asal Desa Muwi Dalam, Kecamatan Ambalawi, Bima, Nusa Tenggara Barat.

Pada Rabu (7/5) pagi pukul 08.00 Waktu Arab Saudi, Hanafi tertahan di bandara karena paspornya tertinggal di Indonesia, tepatnya di dalam bus saat perjalanan dari Embarkasi Lombok menuju bandara.

Lebih dari 30 jam ia bertahan dalam suhu dingin, tanpa bisa ditemani petugas secara penuh karena posisinya yang berada di luar area imigrasi.

Kondisi ini tidak main-main. Selain faktor usia, Hanafi juga mengalami demensia ringan dan kesulitan berkomunikasi dengan bahasa Indonesia.

Namun, Hanafi tidak terlihat panik. Dalam pengakuannya kepada tim PPIH yang menemuinya, ia hanya tersenyum dan berkata singkat, “Alhamdulillah saya baik-baik saja.”

Kepala Daerah Kerja Bandara PPIH Arab Saudi, Abdul Basir, yang memantau langsung kasus ini, menyebut kondisi Hanafi sebagai luar biasa.

“Kami tidak bisa mendampingi terus karena terbatas imigrasi. Tapi semangat beliau tidak goyah,” kata Basir.

Kabar hilangnya paspor Hanafi pertama kali diketahui saat pesawat kloter LOP 5 sudah mengudara.

Ketua Kloter LOP 6, Sudirman, menceritakan bahwa panitia embarkasi akhirnya menemukan paspor Hanafi tertinggal di dalam bus.

“Kami hubungi embarkasi. Setelah dicari, ternyata memang tertinggal di bagasi bus,” katanya.

Solusi akhirnya ditetapkan: paspor Hanafi dibawa oleh kloter berikutnya, LOP 6, yang dijadwalkan tiba pada Kamis (8/5) pukul 13.00 WAS.

Artinya, Hanafi harus menunggu di bandara sendirian lebih dari 30 jam, hanya dengan pakaian seadanya.

Di tengah dinginnya bandara, Kakek Hanafi tetap sabar dan tidak mengeluh sedikit pun. Begitu paspor tiba, Basir sendiri yang menjemput dan mengantar langsung Hanafi ke hotel tempat rombongan LOP menginap.

Saat itu, Hanafi tampak bahagia dan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Kisah inspiratif ini menunjukkan ketahanan dan semangat yang luar biasa dari seorang jemaah haji yang tak kenal menyerah. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#ketinggalan #haji #30 jam tersesat #indonesia #Bandara Madinah #paspor #imigrasi #ntb #tertahan #jemaah haji #kakek