Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kisah Dulhari, Loper Koran Jawa Pos Radar Banyuwangi Berusia 88 Tahun yang Berangkat Haji Tahun Ini

Redaksi • Senin, 12 Mei 2025 | 12:19 WIB
CALON TAMU ALLAH: Dulhari, di Gang Permata, Jalan Riau, Kelurahan Lateng, Banyuwangi, sudah siap berangkat ke Makkah.
CALON TAMU ALLAH: Dulhari, di Gang Permata, Jalan Riau, Kelurahan Lateng, Banyuwangi, sudah siap berangkat ke Makkah.

RADARBANYUWANGI.ID - Jika tidak ada aral melintang, Dulhari akan terbang ke Tanah Suci Makkah untuk menunaikan ibadah haji.

Pria berusia 88 tahun itu tergabung dalam kloter 44. Dulhari akan berangkat pada Selasa (13/5) pukul 08.00, dan terbang ke Madinah pada Rabu (14/5) pukul 18.20.  

Sudah 15 tahun lamanya Dulhari bekerja sebagai loper koran Jawa Pos Radar Banyuwangi.

Setiap hari dia mangkal di perempatan jalan dekat Masjid Agung Baiturrahman Banyuwangi (MAB).

Meski usianya sudah 88 tahun, Dulhari masih terlihat energik menjajakan koran kepada pengendara yang lewat.

Berangkat pagi-pagi sekali dari rumah, pulang di atas pukul 09.00.

 ”Saya jualan koran (loper) sudah 15 tahun. Pekerjaan ini saya jalani dengan ikhlas. Uang dari jualan koran saya tabung untuk pergi haji. Sebagian untuk beli sapi kurban saat Hari Raya Idul Adha,” ujar Dulhari ditemui di rumahnya di Gang Permata, Jalan Riau, Kelurahan Lateng, Jumat (9/5).

Setiap pagi, Dulhari tak pernah absen menjajakan koran di pinggir jalan. Dari penghasilan yang pas-pasan, dia menabung sedikit demi sedikit hingga akhirnya impian pergi ke Tanah Suci terwujud.

Dulhari mulai jadi loper sejak tahun 2010. Pria yang akrab dipanggil Pak Dul itu lahir pada tahun 1937 dan memiliki 2 orang anak. Istrinya telah lama meninggal dunia sejak usia Dulhari 60 tahun.

Sebelum bekerja sebagai loper, Pak Dul menyambung hidup dengan bekerja menjadi buruh pabrik dan tukang kayu.

Hingga akhirnya Dulhari memilih berhenti dari pekerjaannya karena terlalu berat.

Dia lalu beralih menjadi seorang penjual koran. Awalnya, dia sempat malu bekerja menjadi loper koran yang setiap hari berdiri di pinggir jalan.

Namun, siapa sangka dari pekerjaannya tersebut justru mengantarkan dirinya bisa pergi haji.

Pengalaman pahit pernah dialami Dulhari. Uang Rp 500 ribu dari hasil jualan koran dibawa kabur oleh seseorang yang menyaru sebagai pembeli koran.

Petaka tak berhenti di situ. Uang Rp 5 juta yang disimpan di rumahnya hancur dikerikiti tikus.

Cobaan hidup tersebut tak membuatnya berkecil hati untuk bekerja keras dan menabung. Justru semangatnya semakin kuat untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah.

Dari keuntungan Rp 1.000 per koran, dalam sehari Dulhari bisa mendapatkan uang Rp 15.000.

”Saya punya niat sudah lama, uang dari hasil jualan koran saya tabung,” ujarnya. 

Anak kedua Dulhari, Sulistiyowati menceritakan, ayahnya sengaja memilih berjualan koran di depan MAB karena lokasinya ramai.

”Bapak memang milih jualan di situ karena lumayan banyak yang beli dibanding tempat lain. Bapak memang memiliki karakter sebagai pekerja keras dan tidak suka menyusahkan orang lain. Saya dan kakak sepeser pun tidak ikut memberi uang untuk haji. Uang tersebut murni dari jerih payah bapak sebagai loper,” kata Sulis.

Saking hematnya, Dulhari tak pernah jajan di warung agar bisa menabung untuk pergi haji. Tak disangka pada tahun 2019, uang tabungan sudah terkumpul Rp 49 juta. Hingga akhirnya di usianya yang genap 82 tahun, Dulhari bisa mendaftar haji.

Penantian panjang selama enam tahun tak sia-sia. Dulhari resmi diberangkatkan haji tahun ini.

”Rencananya sepulang dari Makkah bapak akan kembali bekerja jualan koran,” ujar Sulis yang sehari-harinya sebagai agen koran itu.  

Bukan hanya untuk biaya haji, uang dari jualan koran digunakan Dulhari untuk membeli seekor sapi kurban.

Tiga tahun lalu, Dulhari berkurban sapi di musala, tak jauh dari rumah Dulhari di Kelurahan Lateng. Hasil jualan koran dan sedekah yang kerap dia terima, dikumpulkan.

Pada Mei 2022, kakek dua cicit itu mendadak masuk ruang operasi akibat kebocoran usus. Operasi yang dijalani boleh dibilang antara hidup dan mati.

Dokter yang menangani mengatakan, tingkat kesuksesan operasi kebocoran usus 50 berbanding 50. Beruntung, operasi Dulhari sukses.

Sebelum operasi berlangsung, Dulhari bernazar akan berkurban setelah sembuh dari sakit yang dideritanya. Sebulan pascaoperasi, Dulhari pun sembuh.

Dia kembali menjalani aktivitasnya menjajakan koran di depan Masjid Agung Baiturrahman. Nazarnya untuk berkurban akhirnya diwujudkan tepat pada perayaan Idul Adha 1443 Hijriah tahun ini. (Dalila Adinda/aif/c1)

Editor : Ali Sodiqin
#jawa pos #radar banyuwangi #Loper koran #naik haji #menabung #loper koran jawa pos