RADARBANYUWANGI.ID - Data dari Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Bojonegoro menunjukkan bahwa calon jemaah haji (CJH) untuk tahun 2025 didominasi oleh petani.
Berdasarkan surat Dirjen Penyelenggara Haji dan Umrah Kemenag RI No B-04045/dj/Dt.II.II.1/HJ.00/02/2025, total terdapat sekitar 1.589 CJH dari Bojonegoro, di mana 34,17 persen atau sekitar 543 di antaranya adalah petani.
Selain petani, terdapat 478 CJH yang bekerja sebagai karyawan swasta, 194 CJH sebagai pegawai negeri sipil (PNS), 179 CJH ibu rumah tangga, dan 98 CJH sebagai pedagang.
Sementara itu, 51 CJH merupakan pelajar, 19 CJH pensiunan, 17 CJH TNI/Polri, 5 CJH bekerja di Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan 5 CJH lainnya bekerja di sektor lain.
Kepala Seksi (Kasi) Penyelenggara Haji dan Umrah (PHU) Kantor Kemenag Bojonegoro, Abdulloh Hafidz, menjelaskan bahwa dominasi petani dalam jumlah CJH mencerminkan karakteristik masyarakat Bojonegoro yang mayoritas berprofesi sebagai petani. "
Memang masyarakat kita banyak petani," ujar Abdulloh Hafidz dilansir dari Radar Bojonegoro.
Ketua Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umroh (KBIHU) Masyarakat Madani Bojonegoro, Sholikin Jamik, menambahkan bahwa berdasarkan data KBIHU, sekitar 67 persen CJH berasal dari kalangan petani.
Sementara itu, 17 persen adalah karyawan swasta dan sekitar 16 persen berasal dari aparatur sipil negara (ASN).
"Porsinya relatif masih kecil yang bekerja di perusahaan atau swasta," terangnya.
Sholikin menekankan bahwa tingginya jumlah CJH dari kalangan petani menunjukkan kesadaran beragama yang besar di antara mereka.
"Ini bukan berarti kehidupan petani makmur, tetapi kesadaran untuk menjalankan ibadah haji sangat besar. Mereka rela menabung dan menjual barang yang dimiliki demi bisa berhaji," ungkapnya.
"Poin pentingnya, sebenarnya kesadaran untuk berhaji itu besar. Apapun dijual, dikorbankan demi bisa menjalankan ibadah haji. Membacanya harus seperti itu," pungkas Sholikin.
Dengan demikian, meskipun tantangan ekonomi mungkin ada, semangat dan komitmen masyarakat Bojonegoro untuk melaksanakan rukun Islam kelima tetap tinggi. (*)
Editor : Ali Sodiqin