Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Mbah Lamiran, CJH Tertua Banyuwangi Berusia 99 Tahun: Berangkat Haji Bersama Istrinya, Kumpulkan Uang dari Hasil Panen

Gareta Yoga Eka Wardani • Jumat, 17 Mei 2024 | 17:32 WIB

 

 

BAHAGIA: Lamiran dan Marijem asal Dusun Sumberejo, Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, terlihat bahagia karena akan menunaikan ibadah haji bersama pada tahun ini.
BAHAGIA: Lamiran dan Marijem asal Dusun Sumberejo, Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, terlihat bahagia karena akan menunaikan ibadah haji bersama pada tahun ini.

RadarBanyuwangi.id - Bisa melaksanakan ibadah haji bersama istrinya menjadi impian cukup lama bagi Lamiran. Kakek berusia 99 tahun asal Dusun Sumberejo, Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, ini bakal terbang ke Tanah Suci bersama istrinya, Marijem, 85.

Pasangan suami istri itu bakal terbang ke Makkah pada 25 Mei mendatang bersama CJH Banyuwangi lainnya. 

Meski usianya menginjak 99 tahun, Lamiran terlihat bugar. Sorot matanya tampak masih tajam. Dari raut wajahnya, kakek sembilan cucu, 15 buyut, dan tiga canggah, itu tidak bisa menyimpan kebahagiannya.

Lamiran akhirnya bisa menjalankan impiannya yang sudah lama, melaksanakan ibadah haji ke Makkah.

Lamiran tergabung dalam kelompok terbang (kloter) 59 dan regu 4. ”Bapak dan ibu berangkat bersama, Alhamdulillah,” terang anak bungsu Lamiran dan Marijem, Nanik Winarsih, 58.

Untuk bisa berangkat haji, perjuangan yang dilakukan kakek dan nenek ini cukup luar biasa. Apalagi, mereka hanya petani dengan sawah yang tidak seberapa luasnya.

”Setiap panen hasil sawah atau ladang akan disisihkan untuk tabungan haji,” terang Nanik.

Perjuangan hingga harus hidup hemat itu dilakukan demi memenuhi harapan berhaji sejak pasangan suami istri (pasutri) itu masih muda.

”Bapak dan ibu masih muda menanam mahoni di samping rumah untuk tabungan haji. Dari 14 batang mahoni itu dijual laku Rp 17 juta,” terangnya.

Melihat keteguhan semangat dan usaha keras kedua orang tuanya itu, Nanik menjadi garda terdepan dalam mengurus seluruh administrasi pendaftaran haji.

”Saya dan anak yang mondar-mandir mendaftarkan haji bapak sama ibu. Sesekali bapak ibu perlu datang langsung, kami boncengkan naik motor ke kantor Imigrasi di Banyuwangi,” terangnya.

Usia kedua orang tuanya yang sudah sepuh, membuat keluarganya khawatir. Apalagi, pendengaran dan penglihatan Lamiran mulai menurun.

Namun, kondisi tubuhnya tetap sehat untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

”Bapak setiap hari berjalan kaki tanpa sandal. Juga baru beberapa bulan ini tidak mencangkul di sawah,” ucapnya.

Nanik bersama keluarga mengaku sangat bahagia melihat cita-cita yang diimpikan orang tuanya bakal terwujud.

”Insya Allah bapak dan ibu sudah siap untuk ibadah haji, kami menyiapkan fisik bapak selalu sehat dengan vitamin,” katanya.

Demi memastikan kondisi Lamiran saat melaksanakan ibadah haji tetap sehat, Nanik telah menyiapkan jasa dorong untuk tawaf dan lainnya saat berada di Makkah.

”Bapak sama ibu sudah saya siapkan jasa dorong saat ibadah, sehingga kondisi keduanya insya Allah akan tetap sehat dan baik-baik saja,” harapnya.

Bagaimana tanggapan Marijem? Dia mengaku sangat bersyukur dapat melakukan ibadah haji bersama sang suami. Sebelumnya, Marijem harus antre dan baru bisa berangkat pada 2039 mendatang.

”Alhamdulillah, Allah berkehendak lain, mengizinkan saya menemani bapak untuk ibadah haji bersama,” katanya.

Marijem mendapat kesempatan dari Kemenag untuk berangkat haji bersama sang suami melalui program penggabungan lansia.

”Saya senang sekali, kalau malam tidak bisa tidur membayangkan berangkat haji,” ungkapnya sembari tersenyum. (abi/c1)

Editor : Salis Ali Muhyidin
#panen #cjh #haji #uang #mekkah #Tertua #sehat #terbang #banyuwangi