MAKKAH, Jawa Pos Radar Banyuwangi - Kota Thaif dikenal sebagai tempat yang sejuk dan enak dipandang mata bila dibandingkan dengan daerah Arab Saudi lainnya yang dikelilingi hamparan gurun dan gunung yang tandus.
Kota Thaif berada di arah tenggara dari Kota Makkah. Jarak tempuhnya mencapai 75 kilometer (km), terletak di lembah Pegunungan Asir dan berada di ketinggian 1.500 meter dari permukaan laut (mdlp).
Kunti Maulidatas Safroh, jemaah haji KBIHU Al Haromain Banyuwangi melaporkan, di Kota Thaif ada destinasi wisata yang sangat menarik untuk memacu andrenalin, yaitu kereta gantung (cable car) di Telefric Al Hada.
Rombongan diangkut dua bus. Perjalanan menuju Kota Thaif ditempuh dalam waktu dua jam dari Kota Makkah.
Tiba di Thaif, jemaah lebih dulu berziarah ke makam sahabat Nabi yang banyak meriwayatkan hadis, yakni Abdullah bin Abbas atau dikenal Ibnu Abbas.
Selanjutnya, jemaah berziarah dan melaksanakan salat di Masjid Ibnu Abbas.
Begitu masuk kawasan Thaif, hawa udaranya sangat berbeda dengan Kota Makkah.
Udaranya cukup dingin dan sejuk. Di beberapa bagian juga banyak ditumbuhi pepohonan hijau.
Maklum Kota Thaif merupakan dataran yang berada di ketinggian 1.500 mdpl. ”Kalau hawa udara Thaif seperti di Kecamatan Kalibaru dan Glenmore,” ungkap Kunti.
Kota yang terletak di lembah Pegunungan Asir ini juga memiliki julukan ”Qoryatul Muluk” atau desa para raja.
Disebut demikian karena di kawasan As Safa bertebaran vila-vila mewah para amir dan konglomerat Arab Saudi.
Berkunjung ke Thaif kurang lengkap rasanya jika belum mencicipi buah-buahan di sana yang banyak dijual di halaman Masjid Abdullah bin Abbas.
”Ada buah delima, plum, anggur, hingga buah tin. Semuanya ada dan tersedia,” ujar Kunti.
Setelah berziarah di maqbarah (makam) Abdullah bin Abbas, jemaah kemudian melanjutkan perjalanan ke pabrik penyulingan parfum.
Berbagai jenis wewangian dan proses pembuatan parfum disajikan dengan lengkap. Jemaah juga bisa membeli parfum dengan harga terjangkau.
Parfum wangi bunga-bunga lengkap dijual di tempat pabrik penyulingan.
Selanjutnya, jemaah diajak menaiki Teleferic Thaif cable car. Kawasan ini merupakan satu-satunya tempat yang tak boleh dilewatkan.
Untuk bisa naik cable car, jemaah harus merogoh kocek sebesar 50 SAR. Boleh dibilang mahal, setara dengan Rp 200 ribu.
Namun, pengalaman yang didapatkan saat menaiki kereta gantung ini sangatlah sepadan.
Untuk naik kereta gantung, bisa langsung membeli tiket di lokasi. Satu kereta gantung bisa diisi enam sampai delapan orang.
Setelah pintu kereta gantung tertutup, pengalaman yang luar biasa dimulai.
Laju kereta gantung menukik melewati pegunungan cadas dengan kecepatan rendah.
Sesaat setelah start, penumpang bisa melihat hamparan pegunungan cadas sejauh mata memandang dan jalan raya yang meliuk-liuk bak ular.
Tak hanya itu, di sana juga ada monyet-monyet liar yang berlarian dari tebing ke tebing.
Kereta gantung membentang sejauh 4,5 km. Lama perjalanan naik kereta gantung menghabiskan waktu perjalanan pulang-pergi sekitar 45 menit.
”Masya Allah sungguh pertunjukan alam yang luar biasa, ciptaan Allah sangat keren dan menakjubkan,” kata Kunti.
Meski banyak jemaah haji yang naik, tidak perlu antre berlama-lama.
Petugas meminta masing-masing berkelompok 5–6 orang untuk masuk dalam satu cable car.
Menurut Kunti, pengalaman naik cable car di Thaif hampir sama seperti kereta gantung di Genting Highland, Malaysia dan Masada National Park di Israel.
Bedanya, kereta gantung di Genting Highland, Malaysia membawa penumpang di ketinggian dengan pemandangan hutan tropis yang lebat.
Sedangkan di Thaif, kereta gantung membawa penumpang menyusuri gunung batu dan tebing-tebing curam.
”Alhamdulillah, kami bisa menikmati pemandangan dan hawa udara yang luar biasa di sela-sela kami menunaikan ibadah haji sebelum ke Madinah,” pungkas Kunti.
Editor : Syaifuddin Mahmud