BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Jemaah haji risiko tinggi (risti) dan lansia dikumpulkan oleh tim kesehatan. Satu per satu jemaah diperiksa kesehatannya. Rata-rata jemaah mengeluhkan batuk dan pilek.
Setelah mendapatkan pemeriksaan, jemaah yang sakit langsung diobati. Sementara jemaah yang sehat, ada yang melakukan umrah sunah dan melanjutkan tur ke tempat-tempat bersejarah.
Jemaah haji Indonesia tahun 2023 sebanyak 203.320 orang dengan jumlah jemaah risti sebesar 73 persen. Melihat tingginya angka jemaah haji, Kemenkes mengirimkan sekitar 1.600 orang tenaga kesehatan haji (TKH). Mereka mengawal jemaah haji di masing-masing kloter.
Kontributor Jawa Pos Radar Banyuwangi Nur Saewan melaporkan, setiap kloter ditugaskan satu dokter dan dua perawat sebagai TKH yang tugasnya memberikan pembinaan, pelayanan, dan perlindungan kesehatan bagi jemaah haji di kloter.
”Peran TKH sangat penting terlebih tahun ini banyak jemaah haji lansia dan berisiko tinggi dibandingkan dengan penyelenggaraan haji tahun sebelumnya,” kata Nur Saewan.
Sementara itu, usai menyelesaikan rangkaian ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina, aktivitas jemaah mulai melandai. Mereka hanya melaksanakan ibadah-ibadah sunah. Seperti yang dilakukan jemaah haji kloter 63 dari KBIHU Al Haromain.
Mereka menggelar doa bersama dengan pembacaan tahlil. Kegiatan itu digelar di depan kamar Hotel Tara Al Rawda, tempat jemaah menginap.
Kunti Maulidatas Safroh, salah seorang jemaah haji melaporkan, doa bersama dan tahlil tersebut merupakan inisiatif dari jemaah. Apalagi, sejak dua hari terakhir ada jemaah dari kloter 63 yang meninggal dunia.
Jemaah makin antusias mengikuti kegiatan doa bersama tersebut. ”Ini bentuk solidaritas, kepedulian, dan keprihatinan sesama jemaah haji dari Banyuwangi,” ungkapnya. (ddy/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin