RadarBanyuwangi.id – Cuaca di Makkah saat ini sangat panas. Suhu udara dilaporkan antara 30 sampai 47 derajat Celsius. Dengan cuaca yang sangat panas ini, jemaah haji diminta untuk benar-benar menjaga kesehatannya.
Kendati cuaca sangat ekstrem, tidak menyurutkan semangat jemaah haji Banyuwangi untuk melaksanakan rangkaian ibadah. Mereka melaksanakan tawaf ifadah dengan menggunakan payung. Hal itu cukup menjadi perlindungan diri guna mencegah dehidrasi.
Kontributor Jawa Pos Radar Banyuwangi di Makkah Nur Saewan melaporkan, setelah menuntaskan lempar jumroh, jemaah tumplek blek di Makkah untuk melaksanakan tawaf dengan menggunakan pakaian ihram.
Hal itu disampaikan Pembimbing Ibadah Haji Indonesia (PPIHI) kloter 63 Lukman Hakim. Saat itulah tawaf diperbolehkan menggunakan pakaian biasa atau berjahit.
”Jemaah haji sesudah melaksanakan tahalul awal telah terbebas dari larangan ihram, kecuali berhubungan badan dengan suami-istri tetap dilarang. Jika sudah tahalul tsani, maka hajinya telah benar-benar selesai dan sempurna, terbebas dari semua larangan ihram,’’ kata Rektor IAI Ibrahimy Genteng tersebut.
Sementara itu, selama berada di Makkah, jemaah haji harus belajar sabar, termasuk dalam urusan mencuci pakaian. Sepulang dari melaksanakan puncak ibadah haji Arafah, Muzdlifah, dan Mina (Armuzna) pakaian kotor milik jemaah haji menumpuk. Setibanya di hotel, jemaah langsung mencuci pakaian. “Karena datangnya bersamaan, harus bergantian dan sabar mengantre,” ungkap salah seorang jemaah, Kunti Mauliadatas Safroh.
Jemaah harus rela menunggu karena terbatasnya jumlah mesin cuci yang tersedia dan banyaknya jemaah yang hendak mencuci pakaian kotor. Maklum, selama melaksanakan rangkaian ibadah haji Armuzna, jemaah tinggal di bawah tenda di Mina. Di sana mereka tidak sempat mencuci pakaian kotor. Jemaah hanya fokus pada pelaksanaan ibadah haji, mulai dari wukuf di Arafah, mengambil kerikil di Muzdalifah, dan melempar jumrah di Mina.
Setelah dicuci, pakaian langsung dijemur di area bangunan hotel paling atas. Di sana, sudah tersedia tempat untuk menjemur pakaian. Tidak butuh waktu lama untuk mengeringkan pakaian karena cuacanya panas sekali. “Tidak butuh waktu lama untuk menjemur pakaian, cukup dua jam sudha kering karena suhu di Makkah mencapai 47 derajat Celsius,” terangnya.
Selain mencuci pakaian, untuk sementara jemaah haji yang telah kembali ke hotel, harus memasak atau membeli makanan sendiri. Sebab, jatah makanan katering dari pemerintah masih dihentikan. “Hari ini, kami jemaah KBIHU Al Haromain berbelanja sayuran dan memasak mandiri di hotel,” tandas Kunti.
Kontributor Jawa Pos Radar Banyuwangi lainnya Yaseni Bachtiar melaporkan, jemaah haji telah menuntaskan seluruh rangkaian ibadah haji, mulai dari Armuzna dan terakhir tawaf ifadah. “Alhamdulillah kondisi jemaah sapu jagad sehat walafiat. Kami melaksanakan tawaf ifadah pada pukul 02.00 dilanjutkan salat subuh berjamaah, semua berjalan lancar,” kata Yaseni.
Sementara itu, diduga karena dilanda kelelahan usai menuntaskan puncak ibadah haji Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) sebagian jemaah haji dari KBIHU Khoiru Ummah dilanda sakit. Mereka mengalami batuk, pilek, dan demam.
Agus Riyanto, salah sorang jemaah KBIHU Khoiru Ummah mengatakan, sebagian jemaah sudah melakukan tawaf ifadah, namun ada yang belum karena kondisi Masjidilharam masih penuh sesak. Beberapa jemaah ada yang menunda tawaf ifadah. ”Selain masih penuh sesak, jemaah memilih menunda sembari melakukan pemulihan stamina usai dari Armuzna,’’ ujarnya
Jemaah lanjut usia (lansia) diupayakan untuk melakukan tawaf ifadah dengan bantuan jasa pengantar di Makkah. Sebagian jemaah yang menderita flu berat, meriang, dan demam telah diperiksa oleh tim kesehatan. Sesuai anjuran dari pembimbing haji, jemaah disarankan tidak melakukan tawaf ifadah saat Masjidilharam penuh sesak.
Bagi jemaah yang hendak melakukan tawaf ifadah dari hotel, harus naik taksi secara mandiri mengingat bus Shalawat belum beroperasi. “Bus Shalawat baru beroperasi kemarin,” jelasnya.
Jemaah yang melaksanakan tawaf ifadah berangkat pagi hari setelah salat subuh dan selah salat ashar. Sementara jemaah yang masih sakit kemungkinan masih keesokan harinya.
Sementara itu, jemaah haji Banyuwangi yang tergabung dalam kloter sapu jagad menempati hotel Nuchbat Farez7 sektor 5 harus naik bus secara mandiri dari hotel menuju Masjidilharam. “Kami naik bus ke Masjidilharam dengan memberikan tips Rp 100 ribu per jemaah untuk pergi dan pulang,” terang Yaseni.
Keputusan untuk naik bus secara mandiri disebabkan bus Shalawat yang mengangkut jemaah haji dari hotel ke Masjidilharam belum beroperasi. “Alhamdulillah jemaah sapu jagad ambil nafar awal dan semua jemaah dalam kondisi sehat, saat ini sedang istirahat,” tandas Yaseni. (ddy/aif)
Editor : Ali Sodiqin