RadaBanyuwangi.id - Kolong Jembatan Sungai Setail yang menghubungkan Desa Genteng Kulon dan Desa Setail, Kecamatan Genteng, tampaknya harus segera diberi penutup. Lokasi yang sering dibuat praktek prostitusi liar itu, kini jadi tempat tinggal tunawisma lagi, Kamis (15/5).
Terbaru, petugas Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Genteng mendapat laporan seorang tunawisma yang sedang sakit dan tinggal di kolong jembatan tersebut. “Ada lagi orang dari daerah lain yang ditemukan tinggal di situ, kondisinya sedang sakit,” kata Camat Genteng, Satrio pada Jawa Pos Radar Genteng, Kamis (15/5).
Tunawisma berusia sepuh itu, Sahar, 61, warga Desa Petung, Kecamatan Bangsalsari, Kabupaten Jember. Kakek itu ditemukan pada Jumat (9/5). Saat ditemukan, tubuhnya lemah, kakinya bengkak hingga tidak bisa jalan. “Lami bawa ke RSUD Genteng, untuk perawatan,” ujarnya.
Semula, kata Camat, identitas kakek itu tidak diketahui. Tapi setelah enam hari dirawat di rumah sakit, tepatnya pada Rabu (14/5), petugas TKSK menemukan KTP di bungkusan kain yang dibawa Sahar. “Setelah diketahui identitasnya, kami koordinasi dengan dinas sosial, kemudian disambungkan ke (dinsos) Jember,” terangnya.
Camat menyebut, setelah koordinasi yang cukup alot, Sahar yang saat perawatan kerap berteriak minta pulang, akhirnya dijemput oleh petugas dari Dinsos Jember. Rencananya, kakek itu akan ditempatkan di penampungan tunawisma milik Dinsos Jember. “Kondisinya memang sudah diperbolehkan pulang, karena sudah membaik,” kata Camat.
Dari informasi yang diterima, terang dia, Sahar yang tidak mengaku sejak kapan tinggal di kolong jembatan itu mengalami luka serius di kaki. Ia tidak bisa jalan maupun berdiri lantaran kakinya patah karena kecelakaan. “Saat kami temukan kakinya bengkak, ada luka yang infeksi,” terangnya.
Menanggapi banyaknya tunawisma yang berasal dari beragam daerah di kolong jembatan tersebut, Satrio mengaku sudah ber koordinasi dengan Pemerintah Desa (Pemdes) Genteng Kulon, Kecamatan Genteng untuk menutup jalan menuju kolong jembatan itu dengan pagar. “Akan ditutup dengan pagar, sudah saya koordinasikan dengan pemdes untuk dibuat pembatas,” cetusnya.(sas/abi)
Editor : Agus Baihaqi