Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Pembudidaya Ikan Diminta Koordinasi dengan Dinas Pengairan

Salis Ali Muhyidin • Kamis, 15 Mei 2025 | 16:51 WIB
BUDIDAYA NILA: Dua pembudidaya ikan nila Bagus Prabowo (kanan) dan Ari Perganas (kiri) memanen ikan di kolam miliknya di Dusun Tegalyasan, Desa Tegalarum, Kecamatan Sempu Rabu (14/5).
BUDIDAYA NILA: Dua pembudidaya ikan nila Bagus Prabowo (kanan) dan Ari Perganas (kiri) memanen ikan di kolam miliknya di Dusun Tegalyasan, Desa Tegalarum, Kecamatan Sempu Rabu (14/5).

RadarBanyuwangi.id – Musim kemarau yang menurut prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terjadi bulan ini, berpotensi menimbulkan masalah bagi peternak ikan. Selain suhu air yang dikhawatirkan naik hingga berbahaya bagi tumbuh kembang ikan, masalah bisa datang saat ketersediaan air untuk irigasi kolam berkurang.

Dampak musim kemarau tidak harus menjadi hambatan bagi pembudidaya ikan. Seperti yang disampaikan Kepala Dinas Perikananan (Disperikan) Banyuwangi, Suryono Bintang Samudra. “Bila penerapan teknik, pembudidaya ikan akan dapat menjaga produktivitas dan kualitas ikan,” kata pada Jawa Pos Radar Genteng, Rabu (14/5).

Menurut Suryono, selama priode kemarau, pembudidaya ikan diimbau untuk aktif berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Pengairan. Itu untuk memastikan distribusi air tetap berjalan lancer. “Harus dikoordinasikan pengaturan jadwal penggunaan airnya, kemudian prioritas daerah mana yang lebih membutuhkan,” katanya.

Selain itu, terang dia, bagi peternak yang baru memulai tebar ikan, dalam bulan-bulan ini diminta untuk mengurangi jumlah bibit yang ditebar. Para pembudidaya disarankan mengurangi kepadatan ikan dalam kolam, agar konsumsi oksigen dalam air terjaga. “Ini bertujuan menjaga kualitas air tetap optimal. Ruang yang cukup akan membuat ikan leluasa bergerak, sehingga risiko stres menjadi minim,” ucapnya.

Suryono juga mengatakan, guna mengurangi risiko kerugian di puncak musim kemarau, para pembudidaya disarankan untuk menyusun jadwal panen yang tepat. Strategi ini untuk memastikan kelangkaan ikan tawar selama kemarau tidak terjadi. “Ketika puncak musim kemarau, biasanya stok ikan air tawar akan berkurang. Jika strategi itu dilakukan, kemungkinan kondisi ini tidak sampai terjadi,” ujarnya.

Salah satu pembudidaya ikan nila asal Dusun Tegalyasan, Desa Tegalarum, Kecamatan Sempu, Bagus Prabowo, 38, mengaku tidak khawatir dengan cuaca yang panas terik. Pasalnya, ia sudah punya solusi, yakni dengan menggunakan sistem kolam bioflok. “Bioflok ini sistem budidaya ikan yang memanfaatkan teknologi mikroorganisme untuk mengelola limbah organik dalam kolam secara alami. Jadi gampangnya tidak perlu gonta-ganti air,” sebutnya.

Dengan kualitas air yang tetap baik tanpa harus mengganti, masih kata dia, pembudidaya ikan bisa menghemat penggunaan air selama kemarau. “Pembudidaya dapat menjaga produktivitas kolam tetap optimal di musim kemarau. Selain itu, di atas kolam saya beri paranet, itu akan mengurai cahaya yang kena kolam,” pungkasnya.(sas/abi)

Editor : Agus Baihaqi
#irigasi #kolam #mikroorganisme #Pembudidaya #dinas pengairan #cuaca #teknologi #peternak ikan #ikan nila #bmkg #budidaya #Dinas Perikananan Banyuwangi #Dinas Pekerjaan Umum (DPU) #musim kemarau