Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Anak dan Adik Kades Sukorejo Gagal Lolos Dalam Tes Ulang Penjaringan Perangkat Desa

Salis Ali Muhyidin • Kamis, 15 Mei 2025 | 16:14 WIB
TES ULANG: Para mengikuti ujian dalam penjaringan perangkat Desa Sukorejo, Kecamatan Bangorejo di aula kantor Kecamatan Bangorejo pada Selasa (13/5).
TES ULANG: Para mengikuti ujian dalam penjaringan perangkat Desa Sukorejo, Kecamatan Bangorejo di aula kantor Kecamatan Bangorejo pada Selasa (13/5).

RadarBanyuwangi.id - Polemik dalam penjaringan perangkat desa untuk tiga posisi, kepala dusun, kepala seksi pelayanan, dan staf di Desa Sukorejo, Kecamatan Bangorejo akhirnya berakhir. Itu setelah proses ujian ulang sesuai dengan tuntutan warga, rampung dilaksanakan pada Selasa (13/5) sore.

Dalam tes tulis, komputer, dan wawancara yang digelar di aula Kantor Kecamatan Bangorejo, diawasi ketat oleh Badan Permusyawaratan Desa (BPD), TNI, Polri, dan tokoh masyarakat setempat. “Alhamdulillah, sudah rampung, ini berkat doa, dan usaha kita semua,” kata ketua panitia penjaringan yang juga Sekretaris Desa (Sekdes) Sukorejo, Basuki, Rabu (14/5).

Dalam tes ulang ini, dua peserta yang sempat nilainya dianggap tertinggi dan memicu protes warga, Hono Suprapto dan Elis Maulida, dalam ujian ulang ini dipastikan gagal lolos. “Gagal, keduanya (Hono dan Elis) tidak lolos,” kata  Basuki.

Hono yang masih adik Kepala Desa (Kades) Sukorejo, Sugito gagal mendapatkan nilai tertinggi. Pada ujian sebelumnya, ia mendulang nilai total 488 dengan rincian nilai tes tulis 86, tes komputer 47, dan wawancara dalam empat tahap dengan nilai 80, 95, 90, 90. “Sekarang nilainya kalah dari peserta lain, Muhammad Fadhol,” terang Basuki.

Pada tes kali ini, Hono hanya mendapat nilai total 186 saja. Itu, dari rincian tes tulis 68, tes komputer 56, dan 62 untuk nilai tes wawancara yang dilakukan satu sesi. “Konsep penilaian memang diubah, tidak seperti yang sebelumnya,” ucap pria yang 11 bulan lagi akan purna tugas itu.

Sedangkan, Elis yang semula dapat nilai tertinggi pada posisi Kepala Seksi Pelayanan dengan nilai total 458, kali ini gagal lolos lantaran pada tes ulang ini tidak hadir. Padahal, pada sosialisasi serta pengambilan surat pernyataan bermaterai pada Kamis (8/5) lalu terlihat datang. “Untuk Elis tidak hadir. Kenapa tidak hadir kami tidak mendapat informasi,” ungkapnya.

Menurut Basuki, secara umum proses ujian dalam tes ulang itu sama seperti sebelumnya. Namun dalam tes kali ini boleh dilihat oleh pihak lain, sesuai tuntutan warga agar dilakukan secara terbuka. “Dulu jadwalnya dua hari, kali ini sehari dan harus rampung dan sudah keluar nilai,” tandasnya.

Tidak hanya itu, lanjuut dia, dewan penguji dari unsur eksternal atau akademisi juga diganti. Jika sebelumnya melibatkan penguji dari Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi, kali ini melibatkan penguji dari Universitas Islam Ibrahimy Genteng. “Ini sesuai keputusan dalam rapat, agar penguji eksternal juga diganti,” tuturnya.

Ditanya soal anggaran yang sebelumnya jadi alasan Kades Sugito membubarkan panitia penjaringan perangkat desa, Basuki menyebut tidak ada masalah. Ia menyampaikan, sudah dianggarkan dari APBDes 2025. “Ada anggarannya, dari APBDes 2025, untuk peningkatan kinerja perangkat desa, dalam hal ini penjaringan,” ucapnya.

Terkait pelantikan nama-nama yang lolos dalam penjaringan tersebut, Basuki menyebut akan dilaksanakan sekitar Juni 2025. Hanya saja, pihaknya masih belum bisa memberikan kepastian tanggal lantaran masih akan menyetorkan nama-nama itu ke Pemkab Banyuwangi melalui camat. “Alhamdulillah, kami harap agar semua pihak bisa menerima hasilnya,” ucapnya.

Salah satu peserta penjaringan, Lilik Kurnia Dewi, mengapresiasi kerja panitia dengan memastikan tes ulang itu berjalan dengan jujur. “Jalannya tertib, sehari kemarin memang dikebut dan harus selesai. Selain itu juga diawasi ketat,” kata perempuan yang dapat nilai tertinggi dalam posisi staf itu.

Lilik membenarkan Elis tidak hadir dalam ujian ulang itu. Sama seperti Basuki, ia mengaku tidak mengetahui alasan anak kades itu tidak datang mengikuti ujian. “Banyak yang tidak datang, dari 18 peserta, hanya ada 11 saja yang datang kemarin,” ucapnya.

Tokoh masyarakat Sukorejo, Kayun Rosyid turut memberikan komentar setelah rampungnya proses panjang penjaringan perangkat desanya. Ia memastikan warga yang sempat memprotes, kini telah kondusif. “Warga kondusif, karena proses penjaringan ini sudah berjalan dan sesuai dengan harapan warga, terbuka dan jujur,” pungkasnya.

Seperti diberitakan harian ini sebelumnya, ratusan warga Desa Sukorejo, Kecamatan Bangorejo mendatangi kantor desanya pada Kamis (2/1). Kedatangannya itu, untuk memprotes proses penjaringan perangkat desa yang dinilai sarat dengan kecurangan.

Di antara warga yang menggeruduk kantor desa itu, ada yang mendaftar sebagai perangkat desa dengan posisi Kepala Dusun Sukorejo dan staf desa. Mereka meminta penjelasan pada Pemerintah Desa (Pemdes) Sukorejo dan panitia penjaringan mengenai proses penjaringan perangkat desa.“Warga menilai ada ketidaktransparan. Selain itu juga ada kecurangan dalam pemberian nilai terhadap sejumlah pendaftar,” kata koordinator aksi, Kayun Rosyid.

Kecurangan yang disebut warga itu, dari 16 orang pendaftar itu, ada anak kades bernama Elis Maulida yang mendaftar pada posisi kepala seksi pelayanan, dan adik kandung kades bernama Hono Suprapto yang mendaftar pada posisi kepala dusun. “Keduanya mendapat nilai paling tinggi pada posisinya,” terang Kayun.(sas/abi) 

Editor : Agus Baihaqi
#polri #APBDes #tokoh masyarakat #kades sukorejo #sekretaris desa #penjaringan perangkat desa #BPD #tni #Kepala Dusun