RadarBanyuwangi.id – Gedung untuk belajar dan mengajar di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Bahrul Ulum di Dusun Pandansari, Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring, sangat memprihatinkan. Dinding kelas sudah banyak retak, atapnya nyaris roboh dan disangga dengan bambu, Rabu (14/5).
Gedung retak dan atap hampir roboh milik MI Bahrul Ulum, Dusun Pandansari, Desa Sarimulyo, itu membuat seluruh siswa dan guru harus hati-hati saat mengikuti proses belajar mengajar. Atap yang nyaris roboh, kini disangga menggunakan bambu dan besi. “Setiap hari kami merasa cemas, khawatir temboknya tiba-tiba roboh. Tetapi kami tidak punya pilihan lain, karena memang belum ada anggaran untuk perbaikan,” ujar Kepala MI Bahrul Ulum, Mahfud, 50.
Bangunan yang hampir roboh itu, kata Mahfud, gedung yang dibuat enam kelas dengan ukuran 30 meter kali enam meter. Semua rungan temboknya sudah retak dan atapnya hampir roboh. “Kami takut bangunan ini roboh, jika hujan atau angin kencang, suaranya sering terdengar kretek-kretek,” katanya pada Jawa Pos Radar Genteng, Rabu (14/5).
Rasa was-was, lanjut dia, terus muncul dipikiran murid beserta guru selama proses belajar mengajar. Sehingga itu sangat mengganggu pembelajaran. “Nyawa sebagai taruhan saat proses pembelajaran berlangsung, dikarenakan jika melihat kondisi bangunan, tidak ada yang mengetahui kapan robohnya,” terangnya.
Awal bangunan itu mulai rusak, tambah dia, terjadi sekitar tahun 2021. Saat itu, tembok pada gedung sudah mulai ada yang retak. Sehingga, setiap kelas yang retak diberi penyangga untuk menahan bangunan yang hampir roboh itu. “Dimulai saat Covid, kemudian kerusakan semakin parah dan merembet, hingga saat ini semua ruangan temboknya retak dan diberi penyangga,” katanya.
MI Bahrul Ulum, terang dia, sudah berdiri sejak 1970. Sehingga sangat wajar jika kondisi saat ini retak dan hampir roboh. “Bangunannya sudah tua, belum pernah ada perbaikan, kemungkinan jika harus diperbaiki ya full bongkar,” katanya.
Mahfud berharap, ada perhatian dari pemerintah untuk memperbaiki sekolah yang masih aktif dan memiliki siswa yang cukup banyak tersebut. “Siswa semuanya ada 40 anal, sekarang setiap hari was-was ketika pembelajaran,” cetusnya.
Menurut Mahfud, kondisi sekolahnya yang mengenaskan ini sudah pernah dilaporkan ke Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Banyuwangi. Malahan, Kepala Kemenag Chaironi Hidayat pernah meninjau langsung ke sekolahnya. Tapi sampai saat ini ada tindak lanjut. “Sekitar empat bulan lalu kepala Kemenag melakukan kunjungan, semoga ada tindak lanjut terhadap bangunan madrasah kami,” harapnya.(cw3/abi)
Editor : Agus Baihaqi