Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Umat Buddha Vihara Dhamma Mukti, Dusun Sidomukti, Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran Rayakan Waisak, Kirab Patung Buddha

Zamrozi Wahyu • Selasa, 13 Mei 2025 | 16:03 WIB
KELILING KAMPUNG: Umat Buddha Vihara Dhamma Mukti, Dusun Sidomukti, Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran mengadakan kirab rupang dengan keliling kampung Senin (12/5).
KELILING KAMPUNG: Umat Buddha Vihara Dhamma Mukti, Dusun Sidomukti, Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran mengadakan kirab rupang dengan keliling kampung Senin (12/5).

RadarBanyuwangi.id – Perayaan Hari Raya Waisak 2569 Buddhist Era (BE) tahun 2025 di Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran, berlangsung meriah, Senin (12/5). Di desa dengan penganut Buddha terbanyak di Kota Blambangan itu, menggelar kirab sambil membawa rupang atau patung Buddha.

Patung Buddha oleh jemaat Vihara Dhamma Mukti, Dusun Sidomukti, Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran, dibawa keliling kampung sejauh dua kilometer. Dalam kirab ini, diikuti ratusan umat Buddha dan diiringi penari Gandrung. “Kirab ini diikuti umat Buddha Vihara Dhamma Mukti, anggotanya sekitar 800 umat,” kata Romo Vihara Dhamma Mukti, Dusun Sidomukti, Desa Yosomulyo, Sumardiyanto, 54.

Dalam lirab rupang Buddha ini, kata dia, mengangkat kesenian Banyuwangi berupa Gandrung. Ini upaya melestarikan budaya khas kabupaten bertajuk Sun Rise of Java. Penari Gandrung ditaruh di barisan depan yang lengkap dengan omprong atau hiasan kepala Gandrung. “Dalam kirab itu  penari Gandrung membawa puja,” katanya.

Rupang Buddha yang di bawa oleh umat saat kirab, lanjut dia, beratnya sekitar 100 kilogram dan dibawa mengelilingi kampung. Sebenarnya, acara kirab digelar dengan keliling vihara sebanyak tiga kali. Tapi umat Buddha Vihara Dhamma Mukti memilih keliling kampung dengan jauh sekitar dua kilometer. “Ini bentuk rasa syukur kepada Tuhan Siddhattha Gautama yang telah memberikan kesehatan dan rezeki kepada umat manusia. Kirab keliling kampung ini sudah digelar sejak tahun 1980-an,” katanya.

Kirab rupang Buddha ini, jelas dia, rangkaian peringatan Hari Raya Waisak. Sebelum acara ini, umat Buddha dianjurkan untuk puasa Atthasila selama satu bulan. Dalam puasa tersebut, umat dilarang membunuh, mencuri, berbuat asusila, berbohong, minum-minuman keras, makan pada waktu yang salah, menari, menyanyi, memakai perhiasan, dan tidak menggunakan tempat tidur dan tempat duduk yang mewah. “Boleh makan pada jam enam pagi, kemudian makan lagi pada jam 11 sampai jam 12, terus dibolehkan makan kembali pada keesokan harinya,” terangnya.

Setelah melakukan kirab, tambah dia, umat Buddha melaksanakan puja bakti yang di pimpin oleh Samanera. Sedangkan puncak acara, detik detik Waisak akan dilaksanakan pada Senin malam tepat pada pukul 23.55.29. “Biasanya dirayakan dengan menerbangkan lampion,” tambahnya.

Dalam acara tersebut, pengamanan yang bertugas mulai dari Polisi, TNI, hingga petugas keamanan lintas agama, seperti Pecalang, dan Banser. Kirab berjalan lancar tanpa ada halangan. “Alhamdulillah, semua aman terkendali,” Kata Kapolsek Gambiran, AKP Badrodin Hidayat.(cw3/abi)

Editor : Agus Baihaqi
#polisi #budaya #hari raya waisak #vihara #waisak #kesenian banyuwangi #kirab #tni #umat buddha #patung buddha