RadarBanyuwangi.id – Tempat wisata Ekowisata Mangrove Bedul yang berlokasi di Dusun Bangkandel, Desa Sumberasri, Kecamatan Purwoharjo ditinggal wisatawan. Saat liburan Nyepi dan Hari Raya Idul Fitri 2025, tempat wisata ini nyaris tidak ada yang datang.
Padahal, tempat wisata yang lokasinya berada di kawasan Balai Taman Nasional Alas Purwo itu, pada awal 2000 hingga 2015 sangat popular dan menjadi jujugan para wisatawan. “Sekarang sangat sepi, setiap hari sepi, Lebaran juga sepi,” terang Pahing, 62, salah satu warga Dusun Bangkandel, Desa Sumberasri, Kecamatan Purwoharjo.
Ekowisata Mangrove Bedul ini tempat wisata yang menyajikan keindahan Laut Selatan, segoro anakan, dan hutan mangrove. Di tempat itu, juga ada Pulau Marengan yang banyak dipenuhi satwa liar seperti kera. Untuk menuju ke pulau itu, para wisatawan harus naik Kapal Gondang-Gandung yang disediakan para nelayan. “Sekarang tidak ada yang naik gondang-gandung,” kata Pahing yang juga salah satu pemilik Kapal Gondang-Gandung.
Gara-gara tidak ada wisatawan yang datang, dermaga yang dibuat untuk penyeberangan ke Pulau Marengan dan keliling segoro anakan, sudah tidak terawat dan banyak yang rusak. “Mulai ada korona pengunjung punah, tempatnya tidak terawat,” ujarnya.
Sepinya pengunjung, kata dia, salah satunya karena jalan menuju ke tempat wisata sangat sulit. Jalan aspal banyak yang rusak dan berlubang. Selain itu, fasilitas wisata juga banyak yang terbengkalai karena tidak diurus. “Kalau ingin memperbaiki, pakai uang siapa,” terangnya pada Jawa Pos Radar Genteng, kemarin (7/4).
Saat masih popular, jelas dia, destinasi wisata Ekowisata Mangrove Bedul ini dikelola oleh masyarakat bersama Taman Nasional Alas Purwo, dan saat itu banyak keuntungan yang didapat masyarakat. UMKM dengan jualan ikan bakar dan aneka kuliner sangat maju. “Dulu banyak masyarakat yang diuntungkan dengan jualan di sekitar wisata,” cetusnya.
Pahing menyebut, saat masa jaya-jayanya Ekowisata Mangrove Bedul, banyak UMKM berjejer di sekitar tempat wisata itu. Tapi saat ini, hanya tinggal satu warung yang tetap buka. “Pengelola diserahkan sepenuhnya ke Taman Nasional Alas Purwo, masyarakat sudah tidak ikut campur lagi,” ungkapnya.
Kapal Gondang-Gandung pengantar wisatawan, kata dia, dulu yang beroperasi ada 10 unit. Waktu masih popular, setiap kapal kapal bisa menghasilkan Rp 3 juta dalam satu hari. “Sekarang tinggal satu kapal saja, punya saya ini,” katanya.
Sepinya pengunjung itu, lanjut dia, imbas dari tempat wisata yang kurang terawat. Sehingga, membuat pengunjung enggan kembali karena kurang nyaman dengan fasilitas yang buruk. “Semua fasilitas terbengkalai, toko-toko juga tutup tidak berpenghuni, Kapal Gondang-gandung yang rusak juga dibiarkan begitu saja,” terangnya.
Pada awal 2000 sampai 2015, jelas dia, pengunjung Ekowisata Mangrove Bedul sangat ramai dikunjungi wisatawan. Memasuki 2016, pengunjung mulai menurun, dan ada Covid-19 tempat wisata ini mati karena tidak ada kunjungan. “Saat itu saya masih kecil, sering bermain ke sekitar dermaga karena ramai dikunjungi wisatawan,” kata salah satu pemuda Dusun Bangkandel, Desa Sumbersari, Kecamatan Purwoharjo, Sifak, 21.
Menurut Sifak, saat ini yang berkunjung ke tempat wisata ini hanya orang yang memancing dan menjaring ikan di sekitar dermaga wisata Bedul. “Saya sangat jarang ke Bedul, paling kalau ingin memancing,” ujarnya.(cw3/abi)
Editor : Agus Baihaqi