RadarBanyuwangi.id - Pemerintah secara resmi menetapkan 1 Ramadan 2025 pada Sabtu (1/3). Di bulan suci kali ini, Masjid Besar Baiturrahman, Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng masih meneruskan tradisinya dengan menyiapkan ribuan takjil untuk jemaah masjid.
Setiap sore selama puasa, ratusan sampai ribuan orang mendatangi Masjid Besar Baiturrahman yang ada di Jalan Gajah Mada untuk beribadah. Tidak sedikit dari warga itu, berasal dari luar daerah. Untuk membantu buka puasa, di masjid besar itu disediakan takjil untuk buka puasa. “Ini gratis untuk semua jamaah, untuk buka puasa di sini,” kata Sekretaris Masjid Besar Baiturrahman Genteng, Hadori, kemarin (4/3).
Tak tanggung-tanggung, untuk menyambut jamaah itu, takmir masjid menyiapkan sekitar 1.000 sampai 1.200 nasi kotak untuk para jamaah yang buka puasa. Semua nasi kotak itu, berasal dari sumbangan masyarakat. “Kami tidak memasak sendiri,” cetusnya.
Menurut Hadori, persiapan menyambut ratusan hingga ribuan jemaah itu, biasa dimulai setelah salat duhur. Persiapan itu meliputi menata kursi dan meja di halaman masjid. “Ini memasuki hari keempat, jumlahnya diprediksi sampai 1.000 orang yang datang,” tandasnya.
Kepuasan bagi takmir, terang dia, muncul ketika manfaat takjil atau nasi kotak yang disiapkan itu bisa bermanfaat bagi masyarakat. Tukang roti keliling, sales produk rokok, hingga anak kos berkumpul di masjid besar setiap sore. “Satu per satu nanti kami kasih biar tidak rebutan, semua harus antre,” katanya.
Selain buka bersama, rangkaian kegiatan dihadirkan selama Ramadan di masjid yang lokasinya berdekatan dengan Pasar Genteng 1 Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng itu. “Ada selawat bersama, kajian yang disampaikan ustad yang sedang bertugas di hari itu,” kata pria yang juga advokat itu.
Untuk mencukupi kebutuhan nasi kotak itu, setiap warga yang tinggal di sekitar masjid diminta mengirim tiga sampai lima kotak nasi setiap harinya. Namun, biasanya para agniya yang punya rezeki berlebih akan mengirimkan 20 sampai 50 nasi kotak. “Jadwalnya sudah kami atur sedemikian rupa sejak sebelum puasa,” terangnya.
Tradisi bagi takjil di masjid besar ini, sudah dilakukan sejak puluhan tahun lalu. “Kalau dulu tidak (tertata) seperti ini, warga yang ingin menyumbang bisa langsung mengirim makanan. Tapi karena sekarang takmir juga banyak, sistemnya kita atur,” ungkapnya.
Karena jamaah yang hadir selalu melimpah dan kebutuhan takjil menjadi semakin banyak, pengurus masjid menjadwal warga yang mengirimkan takjilnya. “Kebetulan setiap tahun kita observasi, dan di sini tiap tahun bertambah,” pungkasnya.(sas/abi)
Editor : Agus Baihaqi