Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Umat Hindu mulai Membuat Ogoh-Ogoh, Digarap Generasi Penerus, Agar Tradisi Tidak Tergerus

Salis Ali Muhyidin • Senin, 3 Maret 2025 | 16:04 WIB
PROSES: Akris memasang kepala ogoh-ogoh setinggi tiga meter di lingkungan Pura Sandya Dharma Dusun Selorejo, Desa Kaligondo, Kecamatan Genteng Minggu (2/3)
PROSES: Akris memasang kepala ogoh-ogoh setinggi tiga meter di lingkungan Pura Sandya Dharma Dusun Selorejo, Desa Kaligondo, Kecamatan Genteng Minggu (2/3)

RadarBanyuwangi.id – Umat Hindu di Dusun Selorejo, Desa Kaligondo, Kecamatan Genteng mulai menyambut Hari Raya Nyepi yang jatuh pada Sabtu (29/3). Warga di lingkungan Pura Sandya Dharma yang ada di dusun tersebut, mulai membuat ogoh-ogoh untuk diarak pada malam sebelum nyepi, Minggu (2/3).

Salah satu perajin, Akris, 26, mengatakan, pada perayaan Nyepi 2025 ini kampungnya membuat tiga ogoh-ogoh berwujud buto. Setiap ogoh-ogoh itu berukuran tiga meter dan dua meter. “Kita sudah mulai buat seminggu yang lalu. Targetnya seminggu sebelum nyepi sudah rampung,” ucapnya pada Jawa Pos Radar Genteng.

Target itu tidak muluk-muluk, apalagi pada pembuatan ogoh-ogoh kali ini sesepuh di kampung tersebut memberikan banyak kepercayaan kepada pemuda untuk berkreasi. Itu untuk melatih generasi penerus melestarikan tradisi. “Yang banyak anak-anak muda. Setiap kali kumpul menggarap ini (ogoh-ogoh), ada sekitar 15 sampai 20 pemuda yang datang,” ucapnya.

Dalam pembuatan ogoh-ogoh ini, jelas dia, tampak terlihat nuansa toleransi beragama. pemuda dari umat muslim juga tak jarang ikut membantu mengerjakan pembuatan ogoh-ogoh yang rencananya diarak di depan pura itu. “Kadang-kadang yang dari Muslim dan agama lain juga ikut bantu. Bentuk kerukunan wargalah,” terangnya.

Akris menjelaskan, proses pembuatan ogoh-ogoh tersebut saat ini sudah mencapai 70 persen. Yang kurang hanya pewarnaan dan pembuatan baju untuk dipasangkan ke ogoh-ogoh. “Pertama kita buat pikulan, kemudian kaki dan rangka badan, selanjutnya kita rangkai dengan kepalanya,” tandasnyan seraya mengaku tidak membuat ogoh-ogoh dengan tema tertentu.

Berbeda dengan tahun sebelumnya, Akris menyebut material ogoh-ogoh zaman sekarang lebih gampang dicari. Jika dulu ogoh-ogoh berlapis kertas semen, saat ini rangka bambu dilapisi kardus dan kertas layangan saja. “Perbedaannya dengan dulu itu, sekarang lebih simple, pakai kertas layangan saja sudah bisa,” ucapnya.

Menurut Akris, biaya pembuatan ogoh-ogoh itu tetap tidak murah. Dari tiga ogoh-ogoh yang kini dikerjakan, untuk pembuatannya menghabiskan dana Rp 5 juta. “Kalau dihitung-hitung, sekarang saja sudah habis Rp 2,5 juta. Mungkin semuanya Rp 5 juta. Dana ini iuran warga,” katanya.

Kepala Dusun Selorejo, Muklas Afandi mengungkapkan Pemerintah Desa (Pemdes) Kaligondo tetap mengawal warga dalam kegiatan keagamaan itu. “Kami mengawal, bagaimana caranya agar besok itu (arak-arakan) bisa lancar,” tandasnya.

Selain itu, Muklas menyebut tetap memberikan imbauan kepada warga agar tidak membuat ogoh-ogoh dengan karakter yang bisa menyinggung pihak manapun. “Kami kawal, dan sosialisasikan agar proses kreativitas ini warga tidak sampai menyinggung siapapun,” pungkasnya.(sas/abi)

Editor : Agus Baihaqi
#tradisi #dana #umat muslim #pemuda #hari raya nyepi #umat hindu #Muslim #Perajin #generasi penerus #Iuran #Buto Cakil #warga #material #ogoh ogoh #layangan #kegiatan keagamaan #aktris #hindu #perayaan nyepi