RadarBanyuwangi.id - Universitas Islam (UI) Cordoba, Banyuwangi punya kesadaran tinggi untuk membekali mahasiswanya guna menghadapi globalisasi. Selasa (18/2), kampus yang berlokasi di kompleks Yayasan Pondok Pesantren Mabadiul Ihsan, Desa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari itu menggelar sharing session bertajuk Living Across Culture, Practical Do's and Don'ts For Global Citizens.
Untuk memberi wawasan kepada ratusan mahasiswa universitas yang berada di bawah Pondok Pesantren Daar Al Ihsan dan bagian dari Yayasan Pondok Pesantren Mabadi'ul Ihsan itu, menghadirkan tiga narasumber yang juga pegiat Global Citizens. Ketiga narasumber itu Wendy Zou dari University of California, USA; Skaidra Pulley dari Sandiego State University, USA, dan Nicolas Nishiyama Kitsutani dari Ritsumeikan University di Jepang. “Ini untuk memompa spirit para mahasiswa agark giat belajar dan lebih berpikir global,” terang Ketua Senat UI Cordoba, Banyuwangi KH Rohmatullah Dimyati.
Dalam kegiatan ini, terang dia, mendatangkan tiga mahasiswa dari luar negeri. Ketiganya memberi kiat pada mahasiswa untuk bisa hidup di luar negeri, belajar, dan melakukan penelitian. “Ketiga mahasiswa ini sekarang sedang melaksanakan program pengabdian di The Centre for Human Rights, Multiculturalism and Migration (CHRM2) di Universitas Jember,” cetusnya.
Pria yang biasa disapa Gus Rohmat itu menyampaikan, UI Cordoba Banyuwangi sudah menjalin kerja sama dengan Universitas Jember dalam sejumlah bidang, salah satunya kegiatan yang sedang digelar ini. “Bila ada tamu dari luar negeri, bisa memberi semacam kuliah umum kepada mahasiswa kami,” tuturnya.
Mahasiswa dan santri yang menuntut ilmu di bawah Yayasan Mabadiul Ihsan Karangdoro, jelas dia, sudah dibekali sejumlah keahlian agar siap ‘tarung; di era globalisasi ini. “Untuk bekal, tadi yang dibahas itu soal research, di sini mahasiswa juga dibekali bagaimana melakukan research yang baik. Juga ada jurusan tadris bahasa Inggris, karena salah satu hal yang penting (dalam Global Citizen) itu soal bahasa, soal komunikasi,” katanya.
Gus Rohmat berharap, kegiatan ini bisa menjadi dorongan agar mahasiswa bisa belajar dengan giat dan melatih para santri dari Pondok Pesantren Daar Al Ihsan yang punya kelas internasional bisa melatih speaking-nya. “Tadi santri juga ikut, mereka juga sudah berkesempatan melakukan wawancara dengan tiga narasumber itu,” katanya.
Salah satu narasumber, Skaidra Pulley dalam acara itu memaparkan salah satu kiat untuk bisa survive ketika datang ke negara baru, entah untuk keperluan riset atau belajar, yaitu kemauan untuk belajar situasi politik di negara tersebut. “Selalu berhati-hati, cari tahu soal batasan-batasan yang tidak boleh dilakukan di negara tersebut. Pelajari situasi politiknya dan perbanyak belajar bahasa daerahnya,” katanya dalam bahasa Inggris.
Pegiat Global Citizen, terang dia, juga harus effort untuk belajar mengenai sejarah negeri tersebut. Salah satu yang di soroti kemuan seseorang untuk baca buku soal sejarah. “Sebelum datang ke Indonesia, saya banyak baca buku, salah satunya buku-buku milik Pramodya Ananta Toer,” tuturnya.
Selain itu, jelas dia, adaptasi seseorang di negara baru akan terbantu dengan keberanian untuk ikut di kelompok atau sebuah komunitas baru. Sebagai contoh, Skaidra yang hobi naik gunung, bergabung dengan komunitas pencinta alam. “Dalam konteks itu, kita bisa saliha sharing soal budaya dengan orang lain (pribumi),” pungkasnya.(sas/abi)
Editor : Agus Baihaqi