Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ini Perbedaan Penyakit DBD dan Chikungunya; Penyebaran di 2 Kecamatan di Banyuwangi Mulai Mereda

Redaksi • Sabtu, 15 Februari 2025 | 19:25 WIB
PENGASAPAN: Anggota polisi dari Polsek Srono melakukan fogging di Dusun Krajan, Desa Kebaman, Kecamatan Srono Jumat (14/2).
PENGASAPAN: Anggota polisi dari Polsek Srono melakukan fogging di Dusun Krajan, Desa Kebaman, Kecamatan Srono Jumat (14/2).

RadarBanyuwangi.id – Maraknya penyebaran virus chikungunya di Kecamatan Srono, Banyuwangi, Jawa Timur, terus diantisipasi.

Apalagi, di daerah ini ada 27 orang yang terkena penyakit tersebut dengan rincian 17 orang di Desa Kebaman dan 10 kasus di Dusun Sukonatar, Desa Sukonatar.

Dari hasil penyuluhan Puskesmas Kebaman, masyarakat yang terkena penyakit chikungunya pada Kamis (13/2), kondisinya sudah membaik. Itu menunjukkan penyebaran penyakit di Kecamatan Srono sudah mereda.

“Setelah melakukan penyuluhan melalui program Posyandu, masyarakat yang terkena chikungunya sudah tidak merasa nyeri,” kata Plt Kepala Puskesmas Kebaman, Bambang.

Selain kondisi masyarakat sudah membaik, kata Bambang, hingga Jumat (14/2) laporan tambahan kasus chikungunya di Kecamatan Srono juga sudah tidak ada.

“Semoga, chikungunya di Kecamatan Srono memang sudah hilang,” harapnya.

Penyakit chikungunya disebabkan oleh virus yang dibawa nyamuk Aedes Aegypti.

Nyamuk tersebut sama seperti pembawa Demam Berdarah Dengue (DBD), namun efeknya berbeda yang dirasakan oleh penderitanya.

“Jika DBD mematikan, kalau chikungunya hanya nyeri di persendian, hingga saat ini masih belum ditemukan kasus meningal karena cikungunya,” jelasnya.

Selain terserang chikungunya, di wilayah Kecamatan Srono ini juga ada lima warga yang positif terjangkit demam berdarah dengue (DBD).

Yakni, satu orang di Dusun Blangkon, Desa Kebaman dan dua orang di Dusun Krajan, Desa Kebaman, serta dua orang Dusun Srono, Desa Kebaman. “Namun, semua orang yang terkena DBD kondisinya juga sudah sehat,” ujarnya.

Setelah merebaknya virus chikungunya dan DBD di Kecamtan Srono, lanjut Bambang, masyarakat diimbau untuk menjaga kebersihan di lingkungannya terutama lakukan 3 M (Menguras, Menutup, dan Mendaur ulang).

Karena, perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegypti sangat cepat di lingkungan yang kumuh.

“Kesadaran masyarakat yang paling penting untuk mencegah penyebaran penyakit,” himbaunya. (cw3/abi)

Editor : Ali Sodiqin
#demam berdarah #dbd #srono #Chikungunya #cluring