Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Virus PMK Masih Merebak di Banyuwangi, Pasar Hewan Glenmore Sepi Hewan Ternak

Salis Ali Muhyidin • Sabtu, 25 Januari 2025 | 17:00 WIB
SEPI: Sejumlah pedagang sapi masih berani membawa ternaknya ke pasar hewan, Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore, Jumat (24/1).
SEPI: Sejumlah pedagang sapi masih berani membawa ternaknya ke pasar hewan, Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore, Jumat (24/1).

RadarBanyuwangi.id - Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang kembali menyerang hewan ternak di beberapa daerah di Jawa Timur, termasuk di Kabupaten Banyuwangi, ternyata berdampak serius pada stok sapi di Bumi Blambangan. Jumlah sapi di pasar, semakin menurun, Jumat (24/1).

Selama tiga minggu terakhir ini, jumlah sapi yang beredar di Pasar Hewan Glenmore yang berlokasi di Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore, terus turun. Saat pasaran Jumat (24/1), hanya ada 37 ekor sapi yang dibawa peternak ke pasar.

“Hari ini (kemarin) tambah sedikit jumlahnya, hanya ada 37 ekor saja,” kata Kepala Pasar Hewan Glenmore, Slamet Budiono.

Menurut Slamet, 37 ekor sapi yang ada di pasar hewan ini turun jauh dibandingkan dua minggu sebelumnya. Pada Jumat (10/1) lalu, ada 90 ekor sapi yang dibawa peternak ke pasar.

Padahal, saat itu penyekatan sapi dari luar Banyuwangi sudah diterapkan. “Jumat (17/1) ada 50-an ekor sapi yang datang, sedangkan hari ini sangat sedikit,” ujarnya.

Dari 37 ekor sapi yang dibawa pedagang dan peternak sapi ke pasar itu, sebagian besar dari wilayah Kecamatan Glenmore dan Kalibaru saja.

Sedangkan para pedagang dari Desa Cantuk, Kecamatan Singojuruh yang biasanya merajai, hanya ada dua ekor sapi saja.

“Yang dari Cantuk saja hanya dua (ekor), sedangkan yang dari Kecamatan Pesanggaran tidak datang sama sekali,” paparnya.

Saking sepinya sapi yang ada di pasar, terang dia, banyak dari pedagang ternak yang meminta pengelola pasar untuk tutup selama beberapa waktu. Itu karena banyak pedagang yang takut hewannya tertular PMK.

“Tadi ada yang usul kalau ditutup dulu, ya dua minggulah, biasanya setelah tutup bisa ramai lagi,” ujarnya.

Slamet mengaku belum bisa memutuskan penutupan sesuai masukan sejumlah pedagang tersebut. Pasalnya, itu berkaitan dengan penyerapan Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Banyuwangi.

“Saya tidak bisa memutuskan, itu kewenangan dinas. Untuk bisa nyerap PAD, tidak bisa tutup sepihak,” ucapnya.

Untuk harga ternak, lanjut dia, saat ini juga tergolong murah. Sapi limosin yang biasanya laku sekitar Rp 15 juta, setelah kasus PMK ini harganya anjlok menjadi Rp 12 juta sampai Rp 13 juta per ekor.

“Tadi ada yang sudah laku Rp 13 juta, itu sudah turun sekali, beda sebelum (ada) PMK,” terangnya seraya menyebut sapi yang laku itu hanya antar pedagang saja.

Salah satu pedagang sapi, Nur Wahid, 60, asal Desa Kalibaru Kulon, Kecamatan Kalibaru menyampaikan, banyak pedagang takut sapinya tertular PMK jika dibawa ke pasar, itu yang menurutnya menjadi dasar pedagang mengusulkan penutupan sementara pasar.

“Selain penjualan menurun, mungkin dengan dengan jeda waktu itu virusnya sudah berkurang,” katanya.(sas/abi)

Editor : Ali Sodiqin
#Virus PMK #sepi #sapi #pasar hewan #glenmore