RAdarBanyuwangi.id - Kasus penyakit mulut dan kaki (PMK) menyebar di Banyuwangi. Sejak Desember 2024 hingga Senin (13/1), tercatat ada 31 ekor sapi yang terjangkit virus. Namun, penyebaran virus tersebut tidak mengurangi harga jual daging sapi.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan-Kesmavet) Dispertan Banyuwangi, drh Nanang Sugiarto mengatakan, para peternak harus mewaspadai terkait kasus PMK yang terus menyebar di Banyuwangi. Tercatat pada Desember 2024, ada 17 hewan terjangkit PMK. “Pada 1 Januari 2025 hingga Senin (13/1) ada 14 sapi yang terjangkit PMK,” katanya.
Banyaknya sapi yang terjangkit PMK, ternyata tidak mengurangi harga jual daging sapi di pasaran. di Pasar Banyuwangi, harga daging sapi pada Senin (13/1) tetap bertahan Rp 130 ribu per kilogram. “Harga daging tetap sama,” cetus salah satu penjual daging sapi di Pasar Banyuwangi, Dollah.
Hanya saja, kata Dollah, lima hari terakhir omzet dari jualannya berkurang. Di hari sebelumnya, dia mampu menjual 50 kilogram sampai 75 kilogram daging sapi per hari. “Lima hari trakhir, hanya laku 25 kilogram dalam sehari,” ujarnya sambil menyantap mie rebus.
Menurut Dollah, daging sapi yang terjangkit virus PMK aman untuk dikonsumsi. Ia pernah mencoba dengan memakan daging sapi yang sudah terkena penyakit tersebut. “Buktinya, sampai saat ini saya masih hidup, dan harga jauh lebih murah,” bebernya.
Dollah mengaku, meski mengetahui bahwa harga daging sapi yang terjangkit virus PMK lebih murah, dia tidak berani menjual daging tersebut. “Tetap menjaga kualitas daging yang nomer satu,” pungkasnya.(cw3/abi)
Editor : Agus Baihaqi