RadarBanyuwangi.id – Erupsi Gunung Raung yang terjadi pada Selasa (24/12), berdampak pada aktivitas pendaki yang sedang berada di tengah hutan Raung. Saat gunung tertinggi ketiga di Jawa Timur itu erupsi, ada 33 pendaki yang berada di jalur pendakian.
Untungnya, puluhan pendaki yang berangkat melalui Sekretariat Pendakian Gunung Raung di Dusun Wonorejo, Desa Kalibaru Wetan, Kecamatan Kalibaru, itu bisa turun dengan selamat. “Lokasi terakhir mereka (saat terjadi erupsi) terpisah-pisah, ada yang masih di pos dua dan tiga, bahkan ada yang baru turun dari puncak,” kata anggota Sekretariat Pendakian Gunung Raung, Eko Wahyudianto.
Eko menyebut ada 33 pendaki yang naik ke Gunung Raung sejak Senin (23/11). Mereka akhirnya diminta turun melalui sambungan handy talk (HT). “Semua guide membawa HT, ada info erupsi sekitar pukul 09.30, langsung kami minta turun semua,” katanya.
Saat itu, terang dia, ada satu rombongan yang baru saja turun dari Puncak Bendera. Rombongan itu mengaku melihat secara langsung kepulan asap gelap keluar dari kubah kawah. “Awalnya panik, tapi selalu kami tenangkan lewat HT. Kondisi seperti itu dulu sudah pernah terjadi,” ujarnya.
Menurut Eko, satu per satu pendaki sampai di base camp pendakian. Rombongan terakhir, sampai di base camp Jejak Pak Eko sekira pukul 15.00. “Seluruh pendaki yang terdata dan naik lewat sekretariat pendakian kami, turun dengan selamat,” tandasnya.
Gagal mendaki Gunung Raung karena erupsi, terang dia, sejumlah pendaki memutuskan untuk beralih ke destinasi Gunung Ijen. Meraka berangkat dari base camp sekira pukul 19.00. “Selanjutnya ada yang pergi ke Ijen, ada juga yang pulang, sekarang ini sudah sepi tidak ada orang,” tandas Eko yang juga guide pendakian itu.
Gunung Raung yang erupsi ini, lanjut dia, dianggap sangat merugikan. Setelah buka perdana pada Januari 2024, pendakian Gunung Raung sempat tutup sebentar pada Oktober 2024 akibat kebakaran. Kali ini, pendakian harus kembali ditutup. “Sekarang ini momen yang ramai karena tahun baru, ini belum tahu tutup atau buka,” ujarnya.
Meski belum dapat kepastian, Eko menyebut sejumlah pendaki yang sudah booking jadwal di empat base camp pendakian yang aktif di kampungnya, terpaksa harus cancel. Padahal banyak dari pendaki yang telah menyelakan waktu dari kesibukannya. “Yang repot itu yang harus naik kereta api, tapi ini sudah konsekuensinya, demi kebaikan bersama,” cetusnya.
Kepala Dusun Wonorejo, Desa Kalibaru Wetan, Dimas Wahyu Pramana mengatakan masih menunggu keputusan dari stakeholder terkait. “Kemarin kami sudah ke Songgon (Pos Pemantauan Gunung Api Raung) untuk cari validasi. Sekarang tunggu rekomendasi dari Perhutani dan BPBD,” katanya.(sas/abi)
Editor : Agus Baihaqi