RadarBanyuwangi.id – Alas Purwo yang selama ini dikenal angker, tampaknya sudah mulai memudar. Para pengunjung yang datang untuk tirakatan ke hutan di kawasan Taman Nasional Alas Purwo (TNAP,) wilayah Dusun Kutorejo, Desa Kalipait, Kecamatan Tegaldlimo, juga sudah mulai berkurang. Bila ada yang datang, wisatawan yang ingin menikmati keindahan alam dan satwa liarnya.
Di tengah hutan Alas Purwo itu, ada 12 gua yang sering dibuat untuk tirakatan. Dari belasan gua itu, yang cukup terkenal Gua Istana. Para petapa, biasanya tinggal di dalam gua itu hingga beberapa hari atau bulan lamanya. “Sekarang sudah jarang, kalau ada petapa datang paling hanya sehari saja,” terang juru kunci Situs Kawitan di Alas Purwo, Suminten, 72.
Suminten mengaku saat masih muda banyak petapa yang tinggal di Gua Istana atau gua lainnya hingga waktu cukup lama. Tapi sekarang sudah mulai kurang diminati oleh generasi muda. “Petapa hampir tidak ada lagi,” kata warga Desa Kalipait, Kecamatan Tegaldlimo itu.
Perempuan yang kerap disapa mbah Muri itu menyampaikan, dulu para petapa yang datang itu dari berbagai daerah di Indonesia. Malahan, tidak sedikit dari luar Jawa. “Anak muda zaman sekarang sudah tidak mau bertapa,” ujarnya sembari tertawa.
Penyelia Ekosistem Hutan Kecamatan Tegaldlimo, Margo, 43, mengatakan pengunjung yang datang ke Alas Purwo untuk bertapa tetap masih ada. Hanya saja, yang melukan ritual hingga beberapa hari jumlahnya sedikit. “Masih ada yang bertapa, tapi tidak sampai sehari sudah banyak yang pulang,” cetusnya.
Apalagi dengan cuaca yang buruk pada Desember 2024 ini, banyak yang tidak melakukan petapaan di Gua Istana. Sebab, hawa dingin saat hujan deras juga faktor utamanya. “Petapa itu sebenarnya tidak mengenal hari libur, tapi untuk sekarang tidak ada yang bertapa di Gua Istana,” jelasnya.
Margo menyebut, salah satu faktor penyebab menurunnya petapa di Alas Purwo ini semakin mudahnya mengakses informasi dan teknologi. Sehingga, generasi muda sekarang lebih tertarik dengan hiburan dan gaya hidup modern. “Anak muda sekarang lebih suka main game, nonton film, dan nongkrong di kafe,” katanya pada Jawa Pos Radar Genteng.
Ada juga faktor lain yang membuat orang yang tidak mau untuk bertapa di gua Alas Purwo, yaitu gangguan dari wisatawan. Saat petapa sedang melakukan ritual, ada saja wisatawan yang memasuki Gua Istana hanya sekedar untuk foto di tempat bersejarah itu. Sehingga, mereka merasa terganggu. “Sudah ada larangan untuk wisatawan yang mau mengunjungi situs itu, tapi masih ada saja yang melanggarnya,” ujarnya seraya menyebut kalau saat ini gua-gua yang ada di tengah hutan Alas Purwo itu kosong, tidak ada petapa.(cw2/abi)
Editor : Agus Baihaqi