Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kali Lele Banjir, Kampung Mbaung Banyuwangi Terisolir,Tiga Jembatan Hanyut, Ratusan Penegal Tertahan, Enam Motor Hanyut

Salis Ali Muhyidin • Senin, 16 Desember 2024 | 15:22 WIB
SENGSARA: Warga gotong-royong memikul sepeda motor untuk menyeberangi Kali Lele di Kampung Mbaung, Dusun Sumberurip, Desa Barurejo, Kecamatan Siliragung Minggu (15/12).
SENGSARA: Warga gotong-royong memikul sepeda motor untuk menyeberangi Kali Lele di Kampung Mbaung, Dusun Sumberurip, Desa Barurejo, Kecamatan Siliragung Minggu (15/12).

RadarBanyuwangi.id – Hujan deras yang mengguyur sebagian besar wilayah Kabupaten Banyuwangi pada Sabtu (14/12), menimbulkan bencana bagi masyarakat Kampung Mbaung, Dusun Sumberurip, Desa Barurejo, Kecamatan Siliragung. Tiga jembatan kayu penghubung antara kampung di tengah hutan dengan pusat desa, hanyut diterjang banjir.

Akibatnya, akses utama dari dan ke Kampung Mbaung putus dan menyebabkan 233 kepala keluarga (KK) di perkampungan terpencil itu terisolir. Tak hanya itu, ratusan penegal yang menggarap lahan di wilayah hutan masuk Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Karangharjo, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Genteng, Perhutani KPH Banyuwangi Selatan, tertahan hingga semalaman. “Warga Mbaung untuk sementara terisolir,” kata Kepala Desa Barurejo, Kecamatan Siliragung, Ahmad Zaenuri, Minggu (15/12).

Menurut Zainuri, di Kampung Mbaung itu ada 233 KK terbagi lima rukun tetangga (RT) dan satu rukun warga (RW), yakni RW 12. “Di RT 5 masuk petak 25 ada 13 KK, di RT 1, 2, 3, dan 4, total ada 220 KK. Untuk menuju dua wilayah itu jembatannya berbeda dan semuanya putus,” ujar Zaenuri pada Jawa Pos Radar Genteng.

Ditemui di lokasi tiga jembatan putus itu, Zaenuri menyampaikan banjir yang menghanyutkan tiga jembatan itu dibangun secara swadaya oleh warga desa. Ketiga jembatan itu hanyut saat Kali Lele meluap sejak Sabtu (14/12) sekitar pukul 15.00. “Hujan lebat sudah turun di sini (Barurejo) sejak pukul 10.00. Puncaknya sekitar pukul 12.00, hujannya tambah deras, sore kami dapat kabar jembatan di Mbaung putus,” ungkapnya.

Tidak hanya membuat warga terisolir, banjir besar itu juga turut menghanyutkan enam sepeda motor milik para penegal. “Kebanyakan warga yang bekerja (cocok tanam) memarkir motornya di sekitar sungai. Saat ada banjir, mereka tidak tahu motornya disapu air,” terangnya seraya menyebut jembatan yang putus akibat banjir itu sudah sering terjadi.

Sampai kemarin sore, jelas dia, warga yang sepeda motornya hanyut belum ditemukan. Mereka masih menyisir sungai untuk mencari kendaraannya. “Ini masih kita cari, punya saya sepeda motor Honda Supra protolan buat ke kebun hanyut pas saya nekat nyeberang jembatan. Karena arusnya kuat, motor saya lepas,” kata salah satu penegal yang motornya hilang, Sauri, 43.

Mirisnya, putusnya akses utama itu juga membuat ratusan orang yang bekerja di Kampung Mbaung tertahan di lahannya sampai semalam. Penegal yang juga berasal dari desa-desa tetangga itu, harus menginap di gubuknya karena taka da jalan keluar. “Kemarin (Sabtu) sore mau nyeberang tidak berani, airnya (sungai) besar. Akhirnya menginap semalam di gubuk,” kata Sumarni, 53, salah satu penegal asal Desa/Kecamatan Tegalsari.

Dengan bekal seadanya, Sumarni dan suaminya, Paiman, 55, bersama penegal lain bermalam di tengah hutan. Penegal itu baru bisa keluar dari Kampung Mbaung pada Minggu (15/12) pagi saat debit air di Kali Lele menurun. “Kemarin (Sabtu) sore sudah ada yang nyeberang. Harus pakai tali, tapi membahayakan, saya tidak berani,” tuturnya.

Untuk bisa menyeberang itu, warga juga harus menggendong barang bawaannya, termasuk sepeda motor. Sejumlah warga gotong royong memikul setiap sepeda motor yang selama ini dipakai ke ladang. “Semoga jembatannya segera diperbaiki lagi, susah kalau seperti ini terus, karena tanaman jagung saya masih baru tanam,” sebut Sumarni.

Sementara itu, anggota Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi, Ismanto mengaku telah melakukan asesmen untuk mencari data terkait dampak akibat bencana tersebut. “Ini bahan laporan ke atasan. Dampaknya cukup besar kepada masyarakat,” katanya.

Ismanto menuturkan, dengan kondisi warga yang terisolir itu, pihaknya akan memprioritaskan bantuan berupa bahan logistik. “Kami sudah minta pada pemerintah desa (Pemdes) untuk bersurat, selanjutnya bantuan itu akan disalurkan ke warga. sementara waktu, prioritasnya sembako terlebih dahulu,” pungkasnya.(sas/abi)

Editor : Agus Baihaqi
#Kecamatan Siliragung #bekerja #kepala keluarga #Kepala Desa #masyarakat #hutan #Swadaya #jembatan #akses #banjir #logistik #lele #bencana #Posdalop #Perhutani #Kali #Resort Pemangkuan Hutan #motor #warga #BKPH Genteng #hanyut #Cocok Tanam #resort #banyuwangi #hujan deras #bpbd #rph #kampung