RadarBanyuwangi.id - Hari Disabilitas Internasional (HDI) 2024 baru dirayakan pada Selasa (3/12) lalu.
Dalam perayaan itu, semangat agar anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) se-antero bumi bisa sekolah hingga mandiri, digaung-gaungkan.
Tapi ternyata masih banyak anak-anak difabel di Banyuwangi yang tidak mendapat kesempatan mengenyam bangku sekolahan.
Seperti belasan anak istimewa di lingkungan Dusun Pegundangan, Kendenglembu, dan Terbasala masuk Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore.
“Di sini banyak sekali anak-anak difabel tidak sekolah,” kata salah satu tokoh masyarakat setempat, Muhammad Sholihin, 45, kemarin (12/12).
Menurut Sholihin, ada 15 anak berkebutuhan khusus di sekitar tempat tinggalnya yang sampai saat ini tidak sekolah.
“Dari hitungan saya, empat anak sudah usia remaja, artinya lebih dari 17 tahun. Dan 11 sisanya usia sekolah antara tujuh sampai 16 tahun,” ungkapnya.
Menurut pria yang anaknya juga penyintas disabilitas itu, setiap harinya anak-anak berkebutuhan khusus di kampungnya hanya berdiam diri di rumah.
Mereka tidak mendapat kesempatan belajar dan berlatih keterampilan.
“Kalau tidak di rumah ya keliling (main). Kasihan, harusnya anak-anak seperti ini sekolah,” tuturnya.
Mirisnya, masih kata dia, empat difabel yang sudah berusia remaja dan tidak pernah sekolah itu, saat ini sering berkeliaran.
Meskipun tidak pernah membuat onar, ia mengaku resah melihat anak-anak itu.
“Kami risau, bukan karena sering buat masalah, tapi kasihan melihat anak-anak ini tidak bisa bekerja atau mandiri, hanya keliling tak tentu arah,” ungkapnya.
Saat ditelusuri, masalah yang mengakibatkan anak-anak difabel di lingkungan itu tidak sekolah ternyata bermacam-macam. Salah satu masalah yang umum jarak sekolah luar biasa (SLB) cukup jauh dari kampungnya.
“Tidak ada yang mengantar anak saya, sebenarnya ya pingin dia bisa sekolah,” kata warga yang anaknya penyintas disabilitas asal Dusun Kendenglembu, Andik Sutiyono, 53.
Andik mengungkapkan, anaknya bernama Janeeta Clinton, 11, terlihat berbeda sejak kecil. Entah karena apa, Janeeta baru bisa berjalan di usia 7,5 tahun.
“Anak saya tidak bisa bicara, emosinya juga tidak bisa dikontrol. Tapi kalau dipanggil itu dengar,” ucapnya.
Sama seperti orang tua pada umunya, Andik mengaku sempat risau karena anaknya tidak sekolah.
Janeeta yang pernah disekolahkan di TK formal, kerap dijauhi teman-temannya karena dianggap nakal, dan beberapa kali membuat teman sebayanya menangis.
“Sampai sekarang tidak sekolah. Kalau mau disekolahkan di SLB juga jauh,” tuturnya.
SLB terdekat dari wilayah itu SLB Bhakti Pertiwi di Dusun Tegalpakis, Desa Kalibaru Wetan, Kecamatan Kalibaru. Jarak SLB tersebut kurang lebih 14 kilometer.
“Sedangkan saya bekerja (di kebun), tidak ada yang mengawal dan mengantar anak (Janeeta),” ucapnya.
Salah satu nenek yang cucunya juga tunawicara sekaligus tunagrahita, Sumiyati, 75, menyebut alasan cucunya tidak sekolah karena faktor ekonomi.
Nenek yang tinggal bertetangga dengan Andik itu mengaku keberatan untuk membayar biaya sekolah.
“Selain jaraknya jauh, biayanya juga berat,” katanya ditemui di rumah Andik.
Karena tidak sekolah, jelas dia, cucunya Rendra yang harusnya sudah duduk di bangku kelas 2 SMA, selama ini hanya keluyuran saja.
“Dia hafal rumahnya mana, tapi sejak pagi sudah pergi, kadang naik sepeda (kayuh). Nanti pulang ke rumah lagi sore,” katanya seraya mengaku sering merenung tentang masa depan cucunya.
Alasan lain penyintas disabilitas di kampung tersebut tidak sekolah, rupanya juga muncul karena anak-anak itu sendiri.
“Cucu saya ini tidak mau ke sekolah, sudah lima bulan terakhir ini tidak mau sekolah, tidak mau nulis, dan hanya mainan di luar kelas saja,” kata warga lain yang cucunya penyintas tunagrahita, Misiyati, 53, asal Dusun Terbasala, Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore.
Masalah semacam ini juga bisa terjadi karena ketidaktahuan warga untuk memberikan penanganan pada anak-anak berkebutuhan khusus, seperti cucu wanita paro baya yang tinggal di lingkungan perkebunan PT. London Sumatera, Terbasala itu.
Menurut Misiyati, cucunya, Slamet Adi Saputera, 14, sempat disekolahkan di sekolah formal SDN 8 Karangharjo.
“Sekolah di SD (SDN 8 Karangharjo) temannya banyak, tapi kata gurunya tidak mau belajar di kelas,” ungkapnya.
Karena dipaksa untuk belajar bersama siswa-siswa yang secara kemampuan otak berbeda dengan dia, Adi kewalahan.
Penyintas tunagrahita yang jarang ngomong dan baru bisa berjalan di usia empat tahun itu, kemudian tidak mau sekolah.
“Saya juga tidak tahu ada namanya SLB, jadi sejak dulu disekolahkan di situ. Ternyata dia terus tidak mau sekolah,” tandasnya ditemui di rumahnya.
Sementara itu, Camat Glenmore, Eko Yulianto mengaku belum mengetahui banyak terkait masifnya anak-anak penyandang disabilitas yang tidak sekolah di wilayahnya.
“Secepatnya akan kami koordinasikan dengan pemerintah desa (Pemdes) setempat, untuk bisa mencari solusinya,” katanya singkat via sambungan telepon.(sas/abi)
Editor : Ali Sodiqin