RadarBanyuwangi.id – Tempat penampungan anjing di Dusun Trembelang, Desa/Kecamatan Cluirng, ternyata menarik perhatian warga asing. Setelah Ayumi dari Jepang, kini giliran dua warga asing asal Jerman Maurice Glatzki dan Nele Röder yang datang bersama Erika, 38, warga Dusun Krajan, Desa Banjar, Kecamatan Licin, Minggu (24/11).
Rombongan ini tiba di lokasi penampungan anjing sekitar pukul 11.20. Mereka itu relawan yang menyupot makanan 63 ekor anjing. “Kami datang ke tempat penampungan anjing ini setelah melihat vidio terkait praktik jual beli anjing yang ada di Banyuwangi,” kata Erika.
Erika mengaku kaget dan khawatir adanya kegiatan tersebut. Sebab, meski sebagai pecinta anjing, ia tahu Banyuwangi juga masyarakat yang mayoritas Muslim. “Saya punya empat anjing di rumah, namun sudah mati, karena usia tua,” ujarnya.
Menurut Erika, kedatangannya dengan mengajak dua tamunya yang kebetulan juga pecinta anjing, untuk melihat kondisi anjing-anjing yang berada di tempat penampungan yang berada di Dusun Trembelang, Desa/Kecamatan Cluring itu. “Sekalian mengajak dua tamu yang menginap di Homestay saya,” ujar Erika yang juga pemilik Mi Casa Homestay di Licin itu.
Maurice Glatzki, 26, warga asing berkebangsaan Jerman yang datang bersama Nele Röder, 25, mengaku datang ke tempat penampungan anjing ini lantaran diajak oleh Erika. “I came to Indonesia with my girlfriend, Erika invited me to see the conditions of the dog shelter (Saya datang ke Indonesia bersama pacar saya, Erika mengajak saya melihat kondisi tempat penampungan anjing,” cetusnya.
Saat diberitahu ada kegiatan jual beli anjing untuk dikonsumsi, Maurice mengaku terkejut dan prihatin. Apalagi, negara Indonesia sendiri negara dengan muslim terbanyak. Sehingga, ia juga sangat prihatin dengan keadaan itu. “Me and Nele will help spread it through our video later (Saya dan Nele akan membantu menyebarkannya melalui video kami nanti),” katanya pada Jawa Pos Radar Genteng.
Christian Joshua Pale, 45, yang menerima tamu dari Jerman itu menyampaikan tiga orang yang berkunjung itu mengetahui dari informaasi melalui media, kegiatan ini sudah dilaksanakan sejak 11 tahun yang lalu. Tapi, sempat pindah tempat di tempat penampungan yang sekarang lantaran di protes oleh warga. “I was shocked when I heard the information that Chris said (Saya terkejut ketika mendengar informasi yang disampaikan Chris),” kata Maurice.
Saat ditanya kapan konferensi pers terkait penampungan anjing yang smepat digerebek polisi ini akan dilakukan, Christian mengaku masih belum ada kejelasan dari Polresta Banyuwangi. Sebab, dari penyidik masih menganggap anjing yang berada di tempat penampungan itu anjing asal Banyuwangi. “Jelas-jelas ini anjing khas Kintamani, telinganya ke atas, ga mungkin dari Banyuwangi,” cetus Founder Animal Hope Shelter itu.(cw2/abi)
Editor : Agus Baihaqi