RadarBanyuwangi.id – Jembatan gantung yang menghubungkan Dusun Bayatrejo, Desa Wringinpitu, Kecamatan Tegaldlimo dengan Dusun Rumping, Desa Plampangrejo, Kecamatan Cluring, ini sudah berumur puluhan tahun. Setiap hari, jembatan dengan bahan dari bambu itu tidak pernah sepi dari warga yang melintas.
Jembatan yang popular disebut Jembatan Mbok Kayah itu, selama ini banyak menelan korban. Tidak sedikit nyawa melayang saat melintasi jembatan tradisional itu. “Jembatan ini sudah lama,” terang Suwarti, 67, warga Dusun Bayatrejo, Desa Wringinpitu, Kecamatan Tegaldlimo yang mengklaim pemilik jembatan itu.
Selama ini jembatan itu dikelola oleh Suwarti. Setiap warga yang melintas, disediakan tempat khusus untuk sumbangan. Uang yang dikumpulkan itu, untuk biaya perbaikan jembatan. ‘Bambunya kalau sudah rapuh diganti, pernah diperbaiki total pada 50 tahun lalu,” ungkapnya.
Menurut Suwarti, warga banyak yang melintasi jembatan gantung ini karena dianggap bisa melipat jarak, itu bagi warga dari Desa Plampangrejo atau Desa Sumberberas, Kecamatan Muncar ke Kecamatan Tegaldlimo atau sebaliknya. “Setiap hari yang lewat ramai,” cetusnya.
Suwarti menyebut, pada 2019 Pemerintah Desa Wringinpitu akan membangun jembatan gantung ini. Saat itu, sudah diukur dan sudah dibor sedalam 20 meter. “Sudah dikasih patok juga, tapi sampai sekarang belum dibangun juga,” cetusnya.
Kepala Desa Wringinpitu, Suwito, 57, saat dikonfirmasi mengatakan jembatan yang akan dibangun itu di sebelah timur jembatan gantung. Sebab, tanahnya itu oleh pemiliknya sudah dihibahkan ke pemerintah desa. “Tanah disebelah timurnya sasak gantung itu sudah diwaqafkan ke Desa Wringinpitu,” cetusnya.
Untuk pembangunan jembatan baru itu, lanjut dia, memerlukan kerjasama antara Desa Wringinpitu dengan Desa Plampangrejo. Dan rencananya, pembangunan akan dimulai pada 2019. “Saya belum menjadi kepala desa, saya tidak tahu pasti kenapa pembangunannya tidak jadi, akan saya telusuri lagi, saya ajukan lagi. Wong Desa itu hanya pengajuan, namanya minta, kalau dikasih ya bersyukur,” cetusnya.
Ditanya dokumen pengajuan rencana pembangunan jembatan gantung itu, Suwito enggan menjawab. Sebab, surat pengajuan berikut dengan proposal berada ditumpukan paling bawah lemari milik Sekretaris Desa (Sekdes). “Sekdes sedang ada rapat di Banyuwangi, suratnya sudah ketumpuk sama surat-surat yang lain,” dalihnya.(cw2/abi)
Editor : Agus Baihaqi