RadarBanyuwangi.id – Ratusan warga yang tinggal di sekitar pantai Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar, semburat untuk menyelamatkan diri saat ada gempa megathrust yang berpotensi tsunami, Rabu (14/11). Mereka menju ke titik kumpul yang dianggap aman.
Keseruan itu terlihat dalam simulasi evakuasi bencana gempa Megathrust yang digelar Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi di lapangan Untung Suropati, Dusun Krajan, Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar, Rabu (14/11) sekitar pukul 08.45, yang diikuti sekitar 300 warga di daerah itu.
Kalaksa BPBD Banyuwangi, Danang Hartanto, 49, mengatakan kegiatan ini upaya meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat yang berada di wilayah rawan terhadap ancaman bencana, khususnya gempa megathrust dan tsunami. “Kami bersama pemerintah daerah berkewajiban untuk mengingatkan masyarakat, terutama untuk kesiapan mereka dalam menghadapi ancaman gempa megathrust dan tsunami, karena Banyuwangi termasuk berpotensi,” ujarnya
Menurt Danang, BPBD telah melakukan serangkaian simulasi di beberapa titik lokasi rawan bencana di Banyuwangi. Tahun ini, ada empat tempat, yaitu di Desa Buluagung, Kecamatan Siliragung; Gumuk Pentil, Desa Grajagan, Kecamatan Purwoharjo; Lapangan Kutoejo, Desa Kalipait, Kecamatan Tegaldlimo. “Hari ini kami di lapangan Untung Suropati Dusun Krajan, Desa Tembokrejo,” katanya.
Dalam simulasi ini, terang dia, BPBD menekankan pentingnya kemandirian warga dalam menghadapi bencana. Warga dilatih untuk mengenali tanda-tanda bahaya, seperti bunyi sirine, dan langsung menuju titik kumpul yang telah ditentukan. Start evakuasi, ini tidak berada dalam satu tempat. Namun, warga melakukan evakuasi mandiri dari rumahnya masing-masing. “Setelah sirine dibunyikan, warga bergegas menuju ke titik kumpul yang ditentukan,” cetusnya.
Dalam evakuasi ini, jelas dia, juga diperagakan warga yang menjadi korban. Mereka diangkut menggunakan tosa, lalu diturunkan menggunakan tandu darurat. “Kita latih bagaimana cara menangani warga yang menjadi korban,” tambah Danang.
Persiapan yang dilakukan untuk pelaksanaan simulasi ini, labnjut dia, sudah dilakukan sejak lama. Warga yang akan ikut bias mendaftar ke kantor desa atau menemui Kepala Desa Tembokrejo, Alfen Efendi, 46. Untuk menarik minat masyarakat. “Yang ikut banyak, ada 300 orang lebih,” ungkapnya.
Selain simulasi, tambah dia, BPBD juga memberikan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat tentang kesiapsiagaan bencana. Ia bekerja sama dengan Dinas Sosial, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), Pemerintah Kecamatan, Pemerintah Desa, dan rumah zakat untuk memberikan bantuan, hiburan, dan sosialisasi kepada masyarakat. “Juga banyak relawan yang turut membantu,” katanya.
Danang menyebut BPBD telah memetakan titik-titik rawan bencana di sepanjang garis pantai Banyuwangi, yang membentang sepanjang 175 kilometer. Dengan luasnya wilayah pesisir pantai, ini dijadikan patokan untuk menjadi tempat simulasi di tahun mendatang. “Simulasi ini akan dilakukan secara bertahap, di semua wilayah rawan, dari Desa Sarongan (Kecamatan Pesanggaran) hingga Kecamatan Wongsorejo,” tuturnya.
Melalui serangkaian simulasi dan edukasi ini, Danang berharap masyarakat Banyuwangi dapat siap menghadapi ancaman bencana megathrust dan tsunami. “Banyuwangi ini termasuk daerah yang rawan terjadi megathrust, masyarakat harus siap dan selal waspada,” cetusnya.(cw2/abi)
Editor : Agus Baihaqi