Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Terlilit Utang di Bank, Warga Siliragung Banyuwangi Nekat Gantung Diri

Gareta Yoga Eka Wardani • Rabu, 16 Oktober 2024 | 20:00 WIB
PEMERIKSAAN: Anggota Polsek Siliragung olah TKP di lokasi Dusun Seloagung, Desa/Kecamatan Siliragung Selasa (15/10).
PEMERIKSAAN: Anggota Polsek Siliragung olah TKP di lokasi Dusun Seloagung, Desa/Kecamatan Siliragung Selasa (15/10).

RadarBanyuwangi.id – Warga Dusun Seloagung, Desa/Kecamatan Siliragung digegerkan dengan penemuan orang gantung diri. Orang yang nekat mengakhiri hidupnya dengan kendat di rumahnya bagian belakang itu, Kamsu Hadi, 58, warga setempat.

Sebelum ditemukan sudah meninggal dengan tubuh menggantung di belandar rumah bagian belakang, pria paro baya itu pada istrinya pamit akan berburu tupai. “Orang yang menemukan istrinya,” terang Kapolsek Siliragung, AKP Mujiono.

Menurut Mujiono, istri korban Sulistiani, 55, pada Senin (14/10) sekitar pukul 22.00, sempat mencari suaminya di halaman belakang rumah, tapi tidak berhasil menemukannya. “Istri korban sempat mencari keberadaan suaminya,” ujar Mujiono.

Istri korban, kata Mujiono, baru menemukan suaminya pada Selasa (15/10) sekitar pukul 04.00. Saat itu, Sulistiani hendak memasak di dapur. ‘Istrinya kaget dan menjerit, para tetangga berdatangan dan ada yang lapor ke polsek,” terangnya.

Anggota Polsek Siliragung yang mendapat informasi tersebut, segera mendatangi tempat kejadian perkara (TKP) bersama petugas medis. “Kami segera lakukan olah TKP begitu tiba di lokasi,” katanya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan dari petugas kesehatan, jelas dia, tidak ada tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Sperma ditemukan di sekitar area genital korban, yang itu biasanya muncul pada kasus gantung diri, dan ada jeratan di leher sesuai pola tali yang digunakan untuk bunuh diri. “Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan fisik selain bekas jeratan tali, ini menguatkan dugaan korban gantung diri,” ungkapnya.

Kamsu Hadi dikenal sebagai pelaku seni jaranan dan janger di daerahnya. Beberapa waktu terakhir, sering mengeluh beban hidupnya yang semakin berat, terutama terkait utang. “Korban sempat meminta izin kepada istrinya untuk menjual rumah,” jelas Mujiono.

Beberapa hari sebelum ditemukan meninggal, lanjut dia, korban sempat menyampaikan rasa putus asa kepada istrinya. Ia merasa tidak sanggup menanggung beban utang yang menghimpit hidupnya. “Istrinya menolak permintaan menjual rumah, dan mencoba memberi semangat,” cetusnya.

Keluarga korban, lanjut Mujiono, telah mengikhlaskan kematian Kamsu dan tidak ingin dilakukan otopsi. Mereka juga membuat surat pernyataan resmi dan menerima kejadian tersebut. “Keluarga sudah menerima kepergian korban, tidak menginginkan otopsi,” kata Mujiono.

Kamsu tinggal bersama istrinya, sementara anak-anaknya berada di Sulawesi. Dan ini membuatnya kerap merasa kesepian, meski kesehariannya diisi dengan kegiatan seni tradisional. “Faktor kesendirian ini mungkin turut memperparah kondisi mentalnya,” ujarnya.

Kepala Desa Silirgung Paeni Hadi Pranoto mengatakan, korban sering mengeluhkan kaki sakit dan sering mengonsumsi obat anti nyeri. Selain itu, terdapat masalah ekonomi terlilit hutang. “Kata istri yang bersangkutan punya tanggungan di bank nilainya sekitar Rp 50 juta. Ia tidak mampu membayar karena sakit,” tutur Paeno.(rei/abi)

 

Editor : Agus Baihaqi
#jaranan #kematian #jeratan #kekerasan #kondisi #terlilit utang #koraban #leher #bank #korban #bunuh diri #sakit #otopsi #banyuwangi #gantung diri #obat #kejadian