Salah satu pemilik pangkalan gas elpiji, Adi Riyono, 50, di Dusun Blokagung, Desa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari mengatakan, selama dua tahun membuka pangkalan gas elpiji, hanya mengeluhkan distribusi gas pada tanggal merah.
“Ketika jadwal tabung gas elpiji datang bertepatan tanggal merah, maka pengiriman gas juga ikut libur. Tidak ada penggantian stok gas di hari lain,” ujarnya pada Jawa Pos Radar Genteng.
Menurut Adi, jadwal pendistribusian gas elpiji dari agen ke pangkalannya dilakukan dua kali dalam seminggu. Tepatnya pada Selasa dan Jumat dengan jumlah yang dikirim per jadwal sekitar 220 hingga 230 tabung.
“Sebenarnya per hari diberi kuota 50 tabung gas elpiji, tetapi saya meminta dikirim dua kali dalam seminggu supaya ada waktu untuk menjual dan mengantar ke orang-orang,” terangnya.
Apabila jadwal distribusi bertepatan pada tanggal merah, terang dia, maka agen tidak mengirim. Dan itu berimbas pada stok tabung gas yang harus dijual.
“Mungkin itu penyebab isu kelangkaan gas elpiji di masyarakat. Kalau tidak ada pengiriman dalam satu hari, sudah berapa ratus bahkan ribu tabung gas yang tidak dikirim. Sedangkan pemakaian masyarakat itu terus berlangsung,” katanya.
Selain pengiriman yang libur ketika tanggal merah, Adi sempat merasakan pengurangan distribusi tabung gas dari agen. Saat itu, ia tidak sempat mengirimkan data pembelian gas elpiji selama tiga hari. “Waktu pas pendistribusiannya jumlah tabung gas berkurang 50 persen, saya hanya dikirim sekitar 100 tabung gas saja,” katanya.
Apabila tabung gas yang ada di pangkalan tidak habis hingga hari pendistribusian, masih kata dia, maka pada jadwal distribusi selanjutnya kuota tabung gas akan dikurangi.
“Dalam sehari ada sekitar 50 orang membeli tabung gas untuk kebutuhan rumah tangga, di daerah kami ada 10 toko pengecer yang membantu penjuualan tabung gas,” tandasnya.(rei/abi)
Editor : Niklaas Andries