Kelangkaan gas tabung melon itu, terutama di daerah Kecamatan Purwoharjo, Tegaldlimo, Cluring, Gambiran, Bangorejo, Siliragung, dan Pesanggaran. “Saya jual Rp 20 ribu per tabung, karena di desa kami harganya segitu, saya manut teman-teman,” terang Asiyah, 52, salah satu pemilik toko di Desa Sumberasri, Kecamatan Purwoharjo.
Asiyah mengaku harga tabung gas elpiji yang mencapai Rp 20 ribu itu, karena sering telat. Saat ini, tokonya juga sering telat pengirimannya.”Kalau datang kiriman, dalam sehari habis, sekarang susah cari gas elpiji,” ujarnya.
Harga gas elpiji mencapai Rp 20 ribu per tabung tiga kilogram ini, juga disampaikan oleh Adi Riyono, pemilik pangkalan gas elpiji di Dusun Blokagung, Desa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari. “Kalau di pangkalan sesuai harga eceran tertinggi (HET) yang telah ditetapkan oleh Pertamina yaitu Rp 16 ribu per tabung,” terangnya.
Perbedaan harga, jelas dia, pada pedagang gas elpiji eceran. Adi menyebut, di tingkat eceran harga satu tabung gas elpiji berkisar Rp 17 ribu hingga Rp 20 ribu. “Kalau di eceran harganya berbeda-beda, tergantung masing-masing toko,” ungkapnya.
Pedagang eceran gas elpiji Supandi asal Desa/Kecamatan Cluring menyampaikan, beberapa pecan terakhir ini untuk mencari gas elpiji melon sangat sulit. “Saya dikirim sore, pagi sudah habis,” cetusnya.
Karena gas elpiji sering telat itu, Supandi mengaku yang biasanya menjual dengan harga Rp 18 ribu per tabung tiga kilogram, kini dinaikkan menjadi Rp 19 ribu per tabung. “Gas sekarang naik,” ungkapnya.
Untuk harga gas elpiji di Dusun Sukomade, Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, ini malah menggila. Di daerah ini, harga tabung gas melon mencapai Rp 25 ribu per tabung. “Kalau di sini harga gas elpiji memang mahal,” kata Kepala Dusun (Kadus) Sukomade, Desa Sarongan, Verry Nafaro.
Tingginya harga gas elpiji itu, jelas dia, karena medan yang dilewati sulit. Jalan terjal melalui perkebunan, gunung, dan dua aliran sungai. Tidak heran, harga gas elpiji jadi mahal. “Jalan yang dilewati memang sulit, itu yang menjadi penyebab harga gas elpiji di Sukamade mahal,” katanya.
Pendistribusian gas elpiji di Dusun Sukamade, jelas dia, itu setiap tiga hari sekali dengan diangkut truk dari wilayah Kecamatan Pesanggaran. “Sekali drop di Sukomade itu sekitar 40 sampai 50 tabung gas elpiji, itu untuk delapan toko pengecer,” terangnya.
Menurut Verry, penggunaan gas elpiji di daerahnya tidak sebanyak masyarakat di daerah lainnya. Warganya menggunakan gas elpiji kalau hanya saat dibutuhkan. Di luar kondisi penting, masyarakat memilih menggunakan tungku dengan bahan bakar kayu.
“Masyarakat di sini masih banyak yang menggunakan tungku dengan kayu bakar. Kalau kompor gas hanya digunakan waktu penting atau masakan yang tidak boros gas,” ucapnya.
Pendistribusian gas elpiji di daerah hingga kini cukup aman. Faktor cuaca tidak mempengaruhi distribusi gas dari Pesanggaran ke Sukomade. “Kalau air sungai sudah meluap, biasanya distribusi gas tersendat. Tetapi tidak akan lama, maksimal hanya satu hari,” tandasnya.(rei/abi)
Editor : Niklaas Andries