Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Harap Sabar, Sungai Apur yang Ambrol Sedang Diperbaiki, Sistem Pengairan Dilakukan Bergilir

Gareta Yoga Eka Wardani • Kamis, 2 Mei 2024 | 16:36 WIB
PERBAIKAN: Alat berat diturunkan untuk memperbaiki Sungai Apur yang longsor di Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Siliragung Rabu (1/5).
PERBAIKAN: Alat berat diturunkan untuk memperbaiki Sungai Apur yang longsor di Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Siliragung Rabu (1/5).

RadarBanyuwangi.id – Bantaran Sungai Apur di Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Siliragung yang longsor karena debit air tinggi akibat sering turun hujan deras, akhirnya mulai diperbaiki.

Untuk mempercepat pembangunannya, satu alat berat diturunkan, Rabu (1/5).

Dalam perbaikan yang dilakukan  UPT PSDA WS Bondoyudo Baru di Lumajang ini, yang dilakukan pertama plengsengan di pinggir sungai belakang deretan ruko.

“Kita sudah mulai perbaikan,” terang Koordinator Sumber Daya Air (Korsda) Pesanggaran, Sugiyono.

Menurut Sugiyono, perbaikan sungai yang ambrol ini cepat dilakukan demi penyelamatan saluran sekunder yang turut mengalami longsor pada H-5 Lebaran lalu.

“Pembangunan dilanjutkan pemulihan pasangan saluran sekunder oleh UPT PSDA WS Bondoyudo Baru di Lumajang,” terangnya.

Sugiyono menyebut kondisi tanah berpasir menjadi hal yang sangat diperhitungkan dalam proses perbaikan. Sehingga, setelah perbaikan ini tidak akan ambrol lagi.

“Tanah pasir, jadi rawan bencana, perlu segera diperbaiki,” ucapnya.

Meski sungai yang ambrol ini sedang dilakukan perbaikan, Sugiyono memastikan tidak akan mempengaruhi debit air untuk pengairan di sawah. Sehingga, tidak akan mengganggu para petani.

“Tidak mengurangi debit air, kami mengantisipasi kekurangan air dengan cara merubah pengairan dengan sistem gilir,” terangnya.

Berdasarkan hasil perhitungan yang dilakukan, jelas dia, debit air yang dialirkan melalui sistem bergilir sesuai dengan kebutuhan Faktor Polowijo Relatif (FPR) yang mencapai 0,30 atau air cukup.

“Penerapan sistem gilir tidak mengurangi kebutuhan FPR, secara teknik jika ketemu angka  0,30 itu sudah cukup,” terangnya.

Sugiyono mengaku belum tahu pasti kapan perbaikan sungai ini selesai. Sebab, masih ada faktor alam seperti hujan dan longsor lanjutan akibat kondisi tanah yang berpasir.

“Diupayakan bisa selesai dengan cepat, semoga tidak longsor lagi,” harapnya.

Seperti diberitakan harian ini sebelumnya, bantaran Sungai Apur di Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Siliragung ambrol.

Sejumlah bangunan milik warga yang ada di daerah itu ikut tergerus dan rusak. Satu rumah rusak cukup parah, satu jembatan putus, dan tujuh ruko terancam rusak karena tergerus.

Bantaran sungai yang ambrol itu mulai terjadi sejak H-7 Lebaran. Saat itu, turun hujan yang cukup deras. Kondisinya semakin parah pada H-5 Lebaran karena hujan masih terus terjadi.

“Hujan deras air di sungai meluap, bantaran sungai meluap,” cetus Mustakim, 53, warga sekitar sungai.

Menurut Mustakim, di daerahnya itu ada dua sungai, yaitu Sungai Apur dan Sungai Kanal. Kedua sungai itu selama ini digunakan petani untuk mengaliri sawahnya.

“Sungai Apur ini buangan dari aliran air di atasnya. Sungai Apur ini sebenarnya tidak pernah lebar dan airnya juga tidak pernah besar,” terangnya seraya menyampaikan gara-gara hujan deras itu membuat bantaran sungai ambrol dan terus mengalami erosi, sungai Apur dan Kanal akhirnya menjadi satu.(rei/abi)

 

Editor : Salis Ali Muhyidin
#Siliragung #Sungai #diperbaiki #longsor