Mereka menyandarkan perahu wisatanya dan memperbaiki mesinnya.
Para pelaku perahu wisata yang ada di Pantai Pulau Merah dan Pancer, itu sebenarnya juga para nelayan yang sering berburu ikan di laut.
“Kalau ada wisatawan ingin jalan-jalan di laut, kita melayani, terang salah satu nelayan, Sugiantoro, 50, asal Dusun Pancer, Desa Sumebragung.
Cuaca yang tidak menentu, membuat Sugiantoro memilih tidak melaut.
Apalagi, pekerjaannya sebagai nelayan wisata dengan mengantar para wisatawan berkunjung ke beberapa destinasi menggunakan perahu, sangat berbahaya saat cuaca tidak bersahabat.
“Sudah lima hari ini tidak mengantar wisatawan,” ujarnya, Minggu(10/3).
Sugiantoro mengaku tidak mau ambil resiko terhadap keselamatan para wisatawan.
Karena sering turun hujan disertai angin besar, terpaksa mengistirahatkan perahunya.
“Angin kencang menimbulkan ombak besar, itu membahayakan wisatawan, saya menghindari itu,” dalihnya.
Sebagai nelayan wisata, Sugiantoro menyediakan jasa keliling ke sejumlah destinasi.
Seperti Pantai Wedi Ireng, Teluk Hijau, dan G-Land. “Biasanya mengantar wisatawan ke beberapa lokasi di sekitaran Pulau Merah,” katanya.
Setiap perjalanan menuju destinasi itu, Sugiantoro mematok harga cukup bervariasi.
Seperti harga satu paket perjalanan ke Pantai Wedi Ireng sebesar Rp 800 ribu, ke Teluk Hijau Rp 1,2 juta, dan paket menuju G-Land mencapai Rp 2,5 juta.
“Kalau hari biasa hanya mengantar dua sampai tiga paket wisata, paling ramai musim liburan. Kalau sudah cuaca buruk begini, ya libur dulu,” katanya.
Sugiantoro mengaku sekali jalan biasanya mengantar enam hingga delapan wisatawan menuju ke lokasi wisata. Jumlah wisatawan itu tergantung ukuran perahu yang digunakan.
“Kalau pakai perahu besar bisa membawa delapan wisatawan,” cetusnya.
Selama tidak pergi mengantar wisatawan akibat cuaca buruk, Sugiantoro memilih memperbaiki dan mengecek mesin perahunya.
“Daripada tidak ada kegiatan, ya saya perbaiki mesin saja,” ucapnya.(rei/abi)
Editor : Niklaas Andries