Daerah yang dikenal ombaknya ganas itu, oleh nelayan disebut jalur maut dan sering menimbulkan korban jiwa.
Salah satu nelayan, Sugiarto, 50, warga Dusun Kampung Baru, Desa Grajagan, Kecamatan Purwoharjo mengungkapkan, meninggalnya Gunther Henry Kitzler , 57, asal negara bagian New South Wales, Australia, karena ditelan ombak saat main selancar, menambah panjang deretan korban Perairan Plawangan.
“Plawangan itu memang berbahaya,” katanya.
Menurut Sugiarto, selama dua tahun terakhir atau 2023 dan 2024 ini, sudah belasan nyawa melayang akibat keganasan Perairan Plawangan.
“Kira-kira sudah ada 14 orang yang meninggal di sana (Plawangan), sebagian besar para nelayan,” ujarnya Selasa (5/3).
Keganasan Perairan Plawangan itu, kata dia, biasanya disebabkan oleh ombak dan arus yang cukup kuat.
Perairan Plawangan itu dari laut samudera Indonesia yang ombaknya dibulan-bulan tertentu sangat besar dan ganas.
“Selama empat hari ini ketinggian ombak sampai empat meter,” cetusnya.
Meski ombak dikenal ganas, Sugiarto menyebut banyak nelayan yang hampir setiap hari hilir mudik melintasi Perairan Plawangan.
“Sudah biasa kalau nelayan sini (Grajagan). Perairan Plawangan itu satu-satunya pintu keluar dan masuk kapal dari Pelabuhan Grajagan,” terangnya.
Para nelayan juga tidak pernah jera melewatinya, meski sudah banyak yang menjadi korban.
Bahkan, di daerah Pelabuhan Grajagan itu menjadi pusat pendaratan kapal ikan cukup besar di Banyuwangi selatan.
“Selain Muncar, Pelabuhan Grajagan ini salah satu pusat pendaratan kapal ikan yang terkenal,” cetusnya.
Di daerah pesisir pantai yang dikeliling hutan jati itu, masih kata dia, ada perkampungan nelayan dengan penduduk cukup padat.
Hampir semua masyarakatnya menggantungkan hidup dari hasil tangkapan ikan.
“Sudah tidak mengherankan kalau masih banyak yang melintas, meski Plawangan terkenal ganas dan keramat,” katanya.
Keramatnya Perairan Plawangan ini, menjadi pengalaman tersendiri bagi Andi Saputro, 25, warga Kelurahan Singotrunan, Kecamatan Banyuwangi. Ia pernah merekam kegiatan nelayan di perairan itu dengan gawainya dan hasilnya tidak bisa diputar.
“Ikut salah satu nelayan melewati Plawangan, hasil video yang direkam tidak bisa diputar dan rusak,” ungkapnya.(gas/abi)
Editor : Niklaas Andries