Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Harga Telur Ayam Berpotensi Naik, Dampak Naiknya Harga Pakan yang Terus Melambung

Salis Ali Muhyidin • Kamis, 11 Januari 2024 | 15:42 WIB
PANEN: Ahmad Haris Tri Cahyono memanen telur ayam di kandang ayamnya di Dusun Sumberjo, Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu Selasa (9/1).
PANEN: Ahmad Haris Tri Cahyono memanen telur ayam di kandang ayamnya di Dusun Sumberjo, Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu Selasa (9/1).

SEMPU, Jawa Pos Radar Genteng - Peternak ayam di wilayah Banyuwangi Selatan, mengeluhkan kenaikan harga pakan. Pasca tahun baru, harga pakan ayam terus melonjak. Itu dampak dari harga jagung yang semakin mahal, yakni Rp 8.000 per kilogram, Selasa (9/1).

Salah satu peternak ayam Ahmad Haris Tri Cahyono, 43, asal Dusun Sumberjo, Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, mengatakan. saat ini harga pakan ayam pabrikan mencapai Rp 350 ribu per 50 kilogram. “Dulu sekitar Rp 300 ribu per 50 kilogram, terus naik sampai Rp 350 ribu per 50 kilogram,” katanya pada Jawa Pos Radar Genteng.

Menurut Haris, kenaikan harga pakan ayam pabrikan itu, mendorong kenaikan biaya produksi ternak ayam, dan itu sangat memberatkan peternak. “Ini isunya akan naik lagi karena harga jagung sangat mahal. Sebenarnya saya masih untung pakai pakan pabrikan ini,” ungkapnya.

Haris menyebut, peternak merasa dilema saat akan menaikkan harga jual telur produksinya. Sebab, harga itu mengikuti harga pasar yang sudah ditentukan oleh kelompok peternak. “Saat ini harga telur di kisaran Rp 25 ribu per kilogram sampai Rp 26 ribu per kilogram. Kalau masalah harga pakan ini tidak selesai, ada kemungkinan harga telur juga naik sampai Rp 28 ribu per kilogram seperti sebelum Nataru,” ungkapnya.

Masalahnya, menurut Haris, harga jual telur ayam secara nasional Rp 28 ribu per kilogram, harga beli telur di tingkat peternak masih tetap antara Rp 21 ribu per kilogram hingga  Rp 22 ribu  per kilogram. “Harga di pasar tradisional jaraknya jauh dengan harga beli di tingkat peternak,” tuturnya.

Selain harga pakan naik, kenaikan tarif listrik juga ikut mengerek biaya produksi. Sebab, peternak menggunakan mesin penghangat untuk menjaga suhu, terutama pada malam hari. “Masalah kami (peternak) cukup banyak, butuh ketelatenan dan keuletan serta modal yang kuat di usaha ini. Apalagi bagi kami yang jumlah ayamnya tidak banyak,” kata Muhammad Firmansyah, 30, peternak lain asal Desa/Kecamatan Sempu.(sas/abi)

Editor : Agus Baihaqi
#modal #maslah kesehatan di GAza #produksi #Berpotensi #mahal #Pakan #tradisional #ayam #peternak #dilema #ternak #telur #dampak #pasar #melonjak #jagung #naik #pabrikan #harga