Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Perajin Seruling asal Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring, Perajin Seruling Tembus India, Setahun Omzet Tembus Rp 1 M

Lugas Rumpakaadi • Rabu, 29 November 2023 | 20:00 WIB
TELATEN: Iwan Pinanggih Saputra membuat seruling bambu di rumahnya di Dusun Sempu, Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring Selasa (27/11).
TELATEN: Iwan Pinanggih Saputra membuat seruling bambu di rumahnya di Dusun Sempu, Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring Selasa (27/11).

Terdesak kebutuhan biaya akibat minimnya jadwal manggung selama pandemi Covid-19, tidak membuat Iwan Pinanggih Saputra, 33, asal Dusun Sempu, Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring menyerah. Ia banting setir jadi pembuat seruling bamboo dan kini tembus hingga India.

Sayup-Sayup alunan merdu suara seruling terdengar di Dusun Sempu, Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring. Suara itu berasal dari sebuah rumah yang berjarak 200 meter dari SDN 3 Sarimulyo. Rumah asal suara merdu seruling itu, rupanya tempat tinggal Iwan Pinanggih Saputra, 33. Seniman seruling yang sudah cukup kondang.

Di sebelah timur rumahnya, ada lahan seluas 21 meter persegi yang hanya ditutupi bagian atasnya. Di bagian pinggir, dibiarkan terbuka. Setiap hari, tempat itu menjadi lokasi pembuatan seruling bambu. “Saya sebenarnya masih baru menekuni usaha pembuatan seruling,” terang Iwan Pingnggih Saputra.

Sejak pandemi Covid-19 merebak di tahun 2020, Iwan yang dikenal pemain musik harus memutar otak untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya. “Jadwal manggung sangat sepi dan bahkan tidak ada,” ungkapnya Selasa (27/11).

Sepinya jadwal pentas, tidak membuat Iwan menyerah. Pria yang menekuni pekerjaan sebagai seniman sejak 2005 itu tiba-tiba terlintas untuk membuat seruling. “Basik saya dulunya pemain seruling yang biasa pentas di orkes. Jadi sudah ada bekal sedikit untuk membuat seruling,” katanya.

Pemain seruling memang bisa mengutak-atik sendiri seruling bambu. Tapi karena belum berpengalaman, dengan modal yang minim Iwan belajar membuat seruling dengan cara menjiplak. “Seruling yang sudah jadi ditiru ukurannya, saya buat sendiri dan dijual,” terangnya.

Sambil membuat dan menjual seruling, Iwan juga aktif belajar rumus mengatur nada seruling secara otodidak di media sosial Facebook (FB). “Selain belajar dari perajin seruling, saya juga memanfaatkan media sosial untuk membentuk personal branding dengan sering mengunggah hasil karya,” ungkapnya.

Sekitar setahun sejak menekuni pembuatan seruling bambu, Iwan mendapat tawaran dari India melalui komunikasi di media sosial. “Waktu itu minta sampel 5000 buah dan langsung diberi uang muka,” ujarnya.

Puas dengan sampel yang diberikan, pelanggan dari India itu kemudian meminta Iwan untuk menjadi penyuplai seruling tetap. “Ditarget satu tahun harus bisa mengirim 150 ribu buah seruling,” katanya.

Dari pembelian itu, Iwan akhirnya menyadari jika pasar India sangat potensial. Sehingga, ayah satu anak itu tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Kini, dengan bantuan lima orang pekerja yang membantu produksi seruling, Iwan bisa memperoleh omzet hingga tembus Rp 1 miliar per tahun. “Itu belum dihitung pembeli dari pasar lokal seperti Banyuwangi, Nusa Tenggara, sampai Kalimantan yang bisa terjual sekitar 50 buah setiap bulan,” imbuhnya.

Tingginya permintaan seruling bamboo, membuat Iwan harus sigap untuk menyiapkan pasokan bahan baku. Beruntung, bambu wuluh masih bisa diperoleh dengan mudah dari berbagai daerah seperti Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, dari Kabupaten Jember, dan Kabupaten Tasikmalaya. “Usia bambu yang bagus itu paling muda dua tahun. Semakin tua semakin bagus,” terangnya.(abi)

Editor : Agus Baihaqi
#biaya #modal #bambu #omzet #nusa tenggara #tawaran #pasokan #belajar #jadwal #Perajin #Tembus #Covid - 19 #terdesak #komunikasi #lahan #Rumus #Pembuatan #pasar #Manggung #bahan baku #pandemi #usaha #seruling #india