Pura Agung Blambangan di Dusun Krajan, Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar dibangun pada 1974 dan diresmikan pada 1980. Salah satu tempat ibadah ini dikeramatkan oleh penganut Hindu. Berjarak sekitar 1,5 kilometer ke arah timur, ada situs bersejarah lain Ompak Songo yang dipercaya bekas Kerajaan Blambangan. Apa hubungan kedua tempat yang sacral itu?
PURA Agung Blambangan yang berlokasi di Dusun Krajan, Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar, setiap harinya hampir tidak pernah sepi. Para penganut Hindu terus berdatangan untuk sembahyangan. Mereka itu tidak hanya dari Banyuwangi, tapi juga dari berbagai daerah, terutama dari Bali.
Pura Agung Blambangan ini, di bagian struktur terbagi menjadi tiga mandala, nista, madya, dan utama. Di bagian nista mandala ada wantilan yang dibuat tempat istirahat para pamedek (umat yang datang). Melangkah ke bagian madya mandala, suasana kian hening dan sejuk, pohon beringin begitu tertata. Sebelum memasuki areal utama mandala, pamedek wajib masirat tirta (menyucikan diri) sebelum sembahyang.
Pada bagian utama mandala, ada puluhan pohon cempaka tertanam rapi, itu membuat pamedek merasa nyaman saat sembahyang. Di tempat ini ada palinggih utama atau palinggih padmasana. “Lokasi Pura Agung Blambangan ini berada di daerah ibu kota Kerajaan Blambangan di Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar,” terang Pemangku Pura Agung Blambangan, Sardi.
Keberadaan Pura Agung Blambangan memiliki hubungan yang erat dengan Kerajaan Blambangan. Bekas Kerajaan Blambangan ini berjarak sekitar 1,5 kilometer ke arah timur, dan kini dikenal situs Ompak Songo. Situs ini saat ini berupa tumpukan batu yang ditengahnya berlubang, mirip penyangga tiang bangunan yang berjumlah sembilan. “Ompak Songo ini situs sisa Kerajaan Blambangan saat ibu kota kerajaan pindah ke Ulupampang,” jelasnya.
Situs Ompak Songo dulunya digunakan sebagai balai pertemuan antara Bupati Blambangan, Raden Tumenggung Wiraguna dengan para abdinya. “Tempat pertemuan itu terbengkalai saat ibu kota Blambangan dipindah ke Pendopo Sabha Swagata Kabupaten Banyuwangi pada 1774,” katanya.
Saat ibu kota Kerajaan Blambangan dipindah itu, Ompak Songo tidak terawat, terbengkalai, kemudian runtuh. Reruntuhan itu ditemukan kembali oleh Mbah Nadi Gede pada tahun 1916 saat membabat hutan. Saat ditemukan lokasinya di tengah hutan dan tertimbun tanah. “Saat tanah digali, bentuk reruntuhannya menyerupai sebuah candi,” ujarnya.
Situs Ompak Songo sempat digunakan sebagai lokasi persembahyangan umat Hindu. Hingga tahun 1960-an, pertumbuhan jumlah umat mulai meningkat. “Akhirnya umat mencari lokasi baru untuk persembahyangan, dan ditetapkan di lokasi Pura Agung Blambangan ini,” cetusnya.
Juru Rawat Situs Ompak Songo, Warisih, 71, asal Dusun Muncar Baru, Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar menyebut, situs yang dijaga itu dulu ditemukan oleh kakeknya. “Namanya Mbah Nadi Gede sekitar tahun 1916,” ujarnya.
Sebelum ditemukan, kawasan di sekitar Situs Ompak Songo hutan yang lebat. Konon, siapapun yang masuk tidak akan bisa keluar hutan dengan selamat. “Kata orang Jawa, Jalma Moro Jalma Mati (yang masuk tidak akan bisa keluar),” terangnya.
Hutan di ujung timur Pulau Jawa itu akhirnya berhasil dibabat oleh Mbah Nadi Gede. Di lokasi itu ditemukan 49 batu yang jadi bukti eksistensi Kerajaan Blambangan pada abad ke-14. “Sembilan dari 49 batu besar yang ditemukan itu di bagian tengah berlubang, makanya diberi nama Situs Ompak Songo,” terangnya.
Situs Ompak Songo dipercaya sebagai tempat berkumpulnya orang-orang penting di masa Kerajaan Blambangan. “Sempat juga dipakai tempat pelantikan Raden Tumenggung Wiroguno (Bupati Mas Alit) pada masa pendudukan VOC,” pungkasnya.(gas/abi)
Editor : Agus Baihaqi