NASIB tragis menimpa Sugianto, 52, warga Dusun Silirsari, Desa Kesilir, Kecamatan Siliragung. Pria paro baya itu ditemukan sudah meninggal di kamar Hotel Widodo di Dusun Krajan, Desa Jajag, Kecamatan Gambiran pada Sabtu 25/11) pagi.
Saat ditemukan oleh pegawai hotel, Yayan Saputro, 28, korban ini kondisinya telanjang bulat. Tubuhnya hanya dibalut handuk di atas tempat tidur. “Saya menemukan sekitar pukul 05.00,” terang Yayan Saputro yang bertugas bagian cleaning service.
Menurut Yayan, pada pagi itu bertugas memeriksa dan membersihkan kamar-kamar hotel, serta mematikan lampu. Saat melewati kamar yang diboking korban, dilihat lampu dan pendingin ruangan masih hidup. “Saya ketuk pintu, tapi tidak ada jawaban,” ujarnya.
Yayan mencoba membuka pintu kamar nomor 6 itu, ternyata tida dikunci. Saat pintu terbuka, ia terkejut melihat korban terlentang di atas tempat tidur hanya mengenakan handuk. “Saya kira masih tidur, tapi dibangunkan tidak merespon,” katanya.
Karena takut, Yayan memberitahukan pada rekannya dan lapor ke Polsek Gambiran. Dari laporan ini, anggota polisi bersama petugas medis Puskesmas Jajag, Kecamatan Gambiran Angga Mahardika, dan Kepala Dusun Krajan, Desa Jajag Slamet Hariyadi, segera mendatangi lokasi kejadian. “Oleh petugas medis dilakukan pemeriksaan fisik,” kata Kapolsek Gambiran, AKP Badrodin Hidayat.
Berdasarkan hasil pemeriksaan medis itu, jelas dia, korban diperkirakan meninggal sekitar pukul 02.00. Di dalam tubuh korban tidak ditemukan bekas luka atau tanda-tanda kekerasan. “Diduga korban meninggal akibat serangan jantung,” ungkap Kapolsek.
Dalam pemeriksaan di lokasi kejadian, lanjut dia, di dalam kamar hotel itu ditemukan botol minuman berenergi Kratingdaeng, botol minuman vitamin UC 1000, dan botol jamu tradisional merk Mbah Kumis. “Korban meninggal akibat konsumsi jamu dan melakukan aktivitas berlebihan, itu membuat kerja adrenalin dan kerja jantungnya meningkat dhingga mengakibatkan berhenti bernafas,” bebernya.
Usai dilakukan pemeriksaan fisik dan olah TKP, masih kata Kapolsek, jenazah korban diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan. “Pihak keluarga menyatakan korban tidak perlu diotopsi,” pungkasnya.(gas/abi)
Editor : Agus Baihaqi